Warga Indonesia di Australia Tak Menyangka Harga Visa Naik Drastis
Sydney, Lurusin.com — Komunitas warga Indonesia yang bermukim di Australia, khususnya para pemegang status penduduk tetap (Permanent Resident/PR), tengah dilanda keterkejutan. Pasalnya, biaya penga
Sydney, Lurusin.com — Komunitas warga Indonesia yang bermukim di Australia, khususnya para pemegang status penduduk tetap (Permanent Resident/PR), tengah dilanda keterkejutan. Pasalnya, biaya pengajuan perpanjangan Resident Return Visa (RRV) mengalami lonjakan yang digambarkan sangat signifikan dan di luar perkiraan banyak orang.
Ria Hariati, seorang warga Indonesia yang telah lama menetap di Sydney, mengaku tidak menyangka saat mengetahui besaran tarif baru yang harus ia bayarkan. Visa RRV sendiri merupakan dokumen krusial bagi para pemegang PR yang ingin bepergian ke luar negeri dan kembali lagi ke Australia tanpa kehilangan status kependudukan tetap mereka.
"Kenaikannya itu enggak main-main, maksudnya tiga kali lipat. Tapi bagaimana pun kita harus mematuhi kebijakan Australia … meski agak berat sih buat kita," ujar Ria dalam sebuah perbincangan yang dikutip oleh media kami.
Pernyataan Ria mewakili kegelisahan banyak diaspora Indonesia di Negeri Kanguru. Kenaikan biaya hingga tiga kali lipat ini tentu menjadi pukulan telak bagi dompet para pendatang, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya stabil. Meski demikian, Ria dan warga Indonesia lainnya menegaskan bahwa menghormati regulasi negara setempat adalah sebuah keharusan, meskipun harus menanggung beban finansial tambahan yang cukup memberatkan.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, kebijakan pemerintah Australia ini merupakan bagian dari penyesuaian biaya imigrasi yang lebih luas. Resident Return Visa biasanya diajukan oleh para pemegang PR yang masa izin perjalanan lima tahunannya telah habis, atau bagi mereka yang ingin memastikan status PR-nya tetap aktif meski sering hilir mudik ke luar wilayah Australia.
Besaran kenaikan yang "tidak main-main" seperti diutarakan Ria ini memicu diskusi hangat di kalangan komunitas Indonesia di berbagai kota seperti Melbourne, Perth, dan Sydney. Banyak yang merasa bahwa penyesuaian tarif ini terlalu drastis dan kurang memberikan ruang transisi bagi para pemegang visa jangka panjang yang selama ini telah berkontribusi pada perekonomian dan kehidupan sosial Australia.
Meski diliputi rasa berat, warga Indonesia di Australia pada umumnya tetap berusaha mencari solusi dan informasi lebih lanjut mengenai struktur tarif terbaru. Mereka berharap ada kejelasan lebih rinci dari otoritas imigrasi Australia mengenai ke mana alokasi dana dari kenaikan visa ini disalurkan, serta apakah ada skema keringanan bagi kelompok atau kasus tertentu di masa mendatang.
Kisah Ria Hariati menjadi cerminan dilema para perantau: di satu sisi harus tunduk pada aturan main negara yang menjadi rumah kedua, di sisi lain harus bersiasat mengatur ulang prioritas anggaran keluarga. Hingga kini, belum ada respons resmi lebih lanjut dari otoritas Australia yang merespons secara spesifik keluhan komunitas Indonesia terkait kebijakan ini.
Comments (0)