Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Level III Siaga
Lurusin.com — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda, antara Provinsi
Lurusin.com — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan tingkat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di perairan Selat Sunda, antara Provinsi Lampung dan Banten. Status gunung api tersebut kini berada pada level III atau Siaga, naik dari sebelumnya level II Waspada. Keputusan ini diambil menyusul evaluasi menyeluruh terhadap data pemantauan terkini yang menunjukkan eskalasi aktivitas signifikan.
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya kepada media kami, menyampaikan bahwa peningkatan status ini merupakan respons langsung terhadap dinamika internal gunung yang kian menguat. “Kami melihat ada kenaikan yang cukup konsisten pada parameter kegempaan dan deformasi. Ini menjadi dasar kami untuk menaikkan status dari Waspada menjadi Siaga,” ujar Lana Saria. Laporan dari pos pengamatan mencatat lonjakan jumlah gempa vulkanik, termasuk gempa embusan dan tremor menerus, yang mengindikasikan pergerakan fluida magma di kedalaman dangkal.
“Kami melihat ada kenaikan yang cukup konsisten pada parameter kegempaan dan deformasi. Ini menjadi dasar kami untuk menaikkan status dari Waspada menjadi Siaga.” — Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
Selain data seismik, hasil pemantauan deformasi menggunakan tiltmeter dan peralatan GPS menunjukkan adanya perubahan bentuk tubuh gunung. Hal ini mengonfirmasi adanya tekanan dari dalam akibat suplai magma baru yang terus bergerak ke permukaan. Aktivitas visual di kawah utama juga dilaporkan semakin intens, dengan kolom hembusan gas dan abu vulkanik yang teramati mencapai ketinggian beberapa ratus meter di atas puncak. Fenomena tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa volume magma di kantong dangkal terus bertambah.
Dengan kenaikan status ini, Badan Geologi melalui laporan resmi yang diterbitkan pagi tadi merekomendasikan agar masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Zona bahaya tersebut diperkirakan masih dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pemantauan terkini. Pihak berwenang di Lampung dan Banten diminta untuk meningkatkan koordinasi guna mengantisipasi potensi erupsi susulan yang dapat disertai lontaran material piroklastik dan aliran lava.
Gunung Anak Krakatau, yang lahir dari sisa-sisa erupsi legendaris Gunung Krakatau pada 1883, dikenal memiliki karakter letusan eksplosif. Riwayat aktivitasnya kerap dikaitkan dengan potensi longsoran tubuh gunung ke laut yang dapat memicu gelombang tsunami, seperti yang terjadi pada akhir 2018 silam. Oleh karena itu, selain mengawasi aktivitas erupsi, pemantauan secara khusus juga diarahkan pada stabilitas lereng dan volume material kubah lava.
Media kami mengonfirmasi bahwa tim tanggap darurat dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah bersiaga penuh di pos pengamatan. Mereka terus memperbarui data secara real-time dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta hanya mengacu pada informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG. Informasi lebih lanjut akan disampaikan oleh Lurusin.com seiring dengan perkembangan situasi di lapangan.
Comments (0)