Sep 16, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Unpad — Mahasiswa Olah Limbah Sisik Ikan Nila Jadi Baterai Natrium

Di tengah kepungan krisis iklim dan ketergantungan global pada tambang litium yang merusak lingkungan, sebuah inovasi mengejutkan lahir dari laboratorium k

Unpad — Mahasiswa Olah Limbah Sisik Ikan Nila Jadi Baterai Natrium

Di tengah kepungan krisis iklim dan ketergantungan global pada tambang litium yang merusak lingkungan, sebuah inovasi mengejutkan lahir dari laboratorium kampus. Tim Riset Eksakta Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-RE) Universitas Padjadjaran (Unpad) berhasil mengubah limbah sisik ikan nila menjadi komponen utama baterai ion-natrium (sodium-ion battery).

Langkah ini bukan sekadar riset akademis biasa, melainkan sebuah respon kritis terhadap melonjaknya permintaan penyimpanan energi terbarukan. Penelusuran menunjukkan bahwa limbah perikanan yang selama ini membusuk di pasar-pasar tradisional ternyata menyimpan potensi elektrokimia luar biasa untuk mendukung transisi energi hijau di Indonesia.

Inovasi Hijau dari Tumpukan Limbah Pasar

Setiap harinya, ribuan ton sisik ikan nila dibuang tanpa pengolahan berarti, menciptakan masalah pencemaran lingkungan baru. Namun, di tangan para mahasiswa kreatif Unpad, limbah beraroma amis ini disulap menjadi hard carbon (karbon keras), bahan krusial yang berfungsi sebagai anode dalam struktur baterai ion-natrium.

Proses konversi ini melibatkan serangkaian tahap ilmiah yang presisi, mulai dari ekstraksi protein, deproteinasi, hingga pirolisis suhu tinggi untuk menghasilkan struktur karbon berpori. Porositas alami dari struktur kolagen sisik ikan nila inilah yang memfasilitasi lalu lintas ion natrium secara efisien saat baterai diisi dan diisi ulang.

Mengapa Baterai Ion-Natrium Berbasis Sisik Ikan?

Selama ini, baterai ion-litium mendominasi pasar kendaraan listrik dan perangkat elektronik. Namun, penambangan litium memicu kerusakan ekologis masif dan biayanya kian mahal. Natrium, yang kelimpahannya jauh lebih melimpah di alam, menjadi kandidat kuat pengganti litium. Pemanfaatan biomassa seperti sisik ikan nila semakin menekan biaya produksi hingga tingkat paling ekonomis.

"Kami melihat ada celah besar antara limbah yang tidak terpakai dan kebutuhan bahan baku baterai masa depan. Sisik ikan nila memiliki kandungan serat kolagen tinggi yang ideal untuk dikonversi menjadi karbon aktif berkualitas tinggi," ujar perwakilan tim riset Unpad dalam keterangan resminya.

Secara teknis, inovasi ini menawarkan sejumlah keunggulan performa dan keberlanjutan yang signifikan dibanding teknologi baterai konvensional:

  • Ramah Lingkungan: Memanfaatkan 100% limbah organik (biomassa) sehingga mengurangi jejak karbon produksi.
  • Melimpah dan Murah: Baku natrium dan sisik ikan nila sangat mudah didapatkan di dalam negeri tanpa perlu impor mahal.
  • Stabilitas Efisiensi: Struktur pori karbon dari sisik ikan mampu menahan ekspansi volume selama proses pengisian daya, memperpanjang umur pakai baterai.

Tantangan Skala Industri dan Masa Depan Transisi Energi

Meski hasil uji laboratorium menunjukkan efisiensi konduktivitas yang menjanjikan, tantangan terbesar riset ini ada pada tahap komersialisasi. Membawa hasil laboratorium ke skala industri membutuhkan standarisasi pengumpulan bahan baku limbah serta investasi pada fasilitas pirolisis berskala besar.

Keberhasilan tim PKM-RE Unpad ini menegaskan bahwa solusi atas krisis energi tidak selalu harus didatangkan dari teknologi impor berkostum mahal. Dari tumpukan limbah sisik ikan di pasar lokal, anak muda Indonesia membuktikan bahwa kemandirian energi nasional bisa dibangun dari prinsip ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User