Bencana kekeringan yang melanda berbagai wilayah acap kali mendorong umat Islam untuk memanjatkan doa memohon hujan melalui ibadah sunnah Sholat Istisqo. Meski terkesan sebagai ibadah darurat saat musibah kemarau terjadi, penentuan waktu pelaksanaan ritual ini ternyata memiliki landasan fiqih yang sangat ketat dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Tim penelusuran syariat Lurusin.com menghimpun berbagai pandangan ulama lintas mazhab guna membedah secara mendalam kapan momen paling tepat dan afdal untuk menggelar ibadah Sholat Istisqo secara berjamaah.
Rekomendasi Waktu Utama Menurut Mazhab Fiqih
Mayoritas ulama (Jumhur Ulama) dari mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali bersepakat bahwa waktu pelaksanaan Sholat Istisqo serupa dengan waktu Sholat Idulfitri maupun Iduladha. Waktu paling afdal dimulainya Sholat Istisqo adalah saat matahari terbit dan naik setinggi satu tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbitnya matahari) hingga sebelum masuk waktu Zuhur.
Pemilihan waktu pagi hari ini didasarkan pada riwayat hadis dari Aisyah radhiyallahu 'anha yang mencatat kebiasaan Rasulullah SAW saat menghadapi kekeringan di Madinah.
"Rasulullah SAW keluar menuju lapangan (untuk Sholat Istisqo) ketika tampak siluet pinggiran matahari mulai terbit." (HR. Abu Dawud)
Kendati demikian, ulama mazhab Hanafi dan sebagian pandangan dalam mazhab Syafi'i menyatakan bahwa Sholat Istisqo pada dasarnya boleh dilaksanakan kapan saja selama bukan pada waktu-waktu yang diharamkan untuk sholat (waktu tahrim).
Tahapan dan Kronologi Pelaksanaan Ritual Sholat Istisqo
Pelaksanaan Sholat Istisqo tidak berdiri sendiri dalam satu hari saja, melainkan membutuhkan persiapan spritual secara berkesinambungan yang terbagi ke dalam beberapa tahapan kronologis berikut:
- H-3 Pelaksanaan (Masa Persiapan Spiritual): Pemimpin masyarakat atau ulama mengimbau umat untuk berpuasa sunnah selama tiga hari berturut-turut, memperbanyak istighfar, bertaubat atas dosa, serta menyelesaikan sengketa antarwarga.
- Hari H - Menuju Lokasi (Pagi Hari): Jamaah berbondong-bondong menuju lapangan terbuka (al-mushalla) dengan pakaian sederhana, menunjukkan rasa butuh (khusyu dan tawadhu), tanpa memakai wewangian berlebihan.
- Pelaksanaan Sholat Dua Rakaat: Dilaksanakan secara berjamaah tanpa azan dan ikamah. Rakaat pertama terdiri dari 7 kali takbir dan rakaat kedua 5 kali takbir, dibaca secara jahar (bersuara nyaring).
- Penyampaian Khutbah dan Pembalikan Jubah: Khatib menyampaikan khutbah yang berisi imbauan taubat. Di tengah khutbah, khatib memutar posisi selendang/jubah (tahwil al-rida') sebagai simbol harapan perubahan kondisi dari kering menjadi subur.
Batas Waktu dan Waktu yang Dilarang
Meski Sholat Istisqo ditujukan untuk memohon pertolongan di tengah krisis air, terdapat batas waktu ketat yang wajib dipatuhi jamaah. Sholat Istisqo diharamkan secara syar'i untuk dilaksanakan pada tiga waktu utama, yaitu:
- Saat matahari persis berada di tengah-tengah membumbung tinggi (waktu istiwa hingga sebelum Zuhur).
- Setelah Sholat Subuh hingga matahari terbit sepenuhnya.
- Setelah Sholat Asar hingga matahari terbenam sempurna di ufuk barat.
Apabila kekeringan tetap berlanjut dan hujan belum juga turun setelah ibadah dilaksanakan, para ulama menegaskan bahwa Sholat Istisqo disunnahkan untuk diulangi pada hari-hari berikutnya hingga Allah SWT menurunkan rahmat berupa hujan.
Mayoritas ulama sepakat bahwa Sholat Istisqo paling utama dilaksanakan pada pagi hari (waktu Dhuha), sama seperti Sholat Id. Simak rincian hukum, tahapan pelaksanaan, hingga waktu yang dilarang hanya di Lurusin.com!
Comments (0)