Sep 16, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

PALEMBANG — Kabut Asap Pekat Melanda, Jarak Pandang Tersisa 100 Meter

Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Selatan.

PALEMBANG — Kabut Asap Pekat Melanda, Jarak Pandang Tersisa 100 Meter

Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi ini memperburuk kualitas udara hingga ke titik berbahaya dan melumpuhkan aktivitas warga pada pagi hari. Berdasarkan pantauan lapangan dan stasiun pemantauan cuaca, jarak pandang di pusat kota dilaporkan merosot tajam hingga hanya tersisa 100 meter. Bencana tahunan ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga memicu gangguan serius pada moda transportasi darat dan sektor penerbangan.

Dinamika Krisis: Garis Waktu dan Eskalasi Asap di Sumatera Selatan

Penurunan kualitas udara secara drastis di Kota Palembang dan sekitarnya merupakan akumulasi dari lonjakan titik panas (hotspot) di kawasan gambut yang terbakar selama sepekan terakhir. Kronologi eskalasi bencana kabut asap mencatat urutan kejadian sebagai berikut:

  1. Pukul 05.00 WIB: Kabut asap pekat mulai turun membungkus kawasan perbatasan Palembang dengan Kabupaten Ogan Ilir dan Banyuasin. Bau menyengat dari material tumbuhan terbakar tercium kuat hingga ke dalam permukiman warga.
  2. Pukul 06.30 WIB: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi penurunan jarak pandang mendatar (visibility) hingga titik kritis, yaitu 100 meter di sekitar kawasan ikonik Jembatan Ampera dan Jalan Jenderal Sudirman.
  3. Pukul 08.00 WIB: Otoritas Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II memberlakukan status waspada. Beberapa jadwal penerbangan pagi mengalami penundaan (delay) demi menjaga keselamatan penerbangan akibat jarak pandang di bawah ambang batas aman.
  4. Pukul 10.00 WIB: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palembang melonjak menembus angka di atas 300 parameter kontaminan, yang mengategorikan udara dalam status Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya bagi makhluk hidup.

Investigasi Lapangan: Mengapa Karhutla Terus Berulang?

Hasil investigasi di lapangan mengindikasikan bahwa sumber utama polusi asap berasal dari kebakaran lahan gambut dalam yang tersebar di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Meskipun pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat karhutla, praktik pembukaan lahan secara ilegal dengan cara dibakar (slash-and-burn) disinyalir masih terus terjadi.

"Karakteristik lahan gambut yang mengering di musim kemarau membuat api dengan cepat menjalar di bawah permukaan tanah (subsurface fire). Hal ini menyebabkan upaya pemadaman lewat jalur darat maupun pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing menjadi sangat rumit dan membutuhkan waktu lama," ungkap salah seorang pengamat lingkungan setempat.

Lemahnya pengawasan sistematis di kawasan rawan serta penegakan hukum yang belum maksimal terhadap pemilik lahan menjadi faktor utama berulangnya krisis ekologi ini. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengonfirmasi adanya puluhan titik panas baru yang muncul hanya dalam tempo 24 jam.

Dampak Kesehatan dan Peringatan Darurat Bagi Warga

Dampak langsung dari pekatnya paparan asap mulai dirasakan secara masif oleh warga Palembang. Dinas Kesehatan Kota Palembang mengonfirmasi adanya kenaikan signifikan pada kasus penyakit saluran pernapasan.

  • Lonjakan Kasus ISPA: Terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 35 persen di sejumlah fasilitas kesehatan dan puskesmas dalam tiga hari terakhir.
  • Penyesuaian Kegiatan Sekolah: Dinas Pendidikan mengimbau seluruh instansi sekolah untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan bersiap menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) jika Indeks Pencemaran Udara tak kunjung membaik.
  • Distribusi Masker Darurat: Tim gabungan BPBD bersama para relawan mendistribusikan ribuan masker medis dan masker N95 kepada para pengguna jalan di titik-titik persimpangan utama.

Masyarakat kini mendesak adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum dan pemerintah pusat untuk menindak aktor intelektual di balik pembakaran lahan, baik perorangan maupun entitas korporasi. Tanpa adanya tindakan korektif yang nyata dan restorasi gambut secara permanen, warga Palembang akan terus tersandera oleh ancaman bencana asap saban tahun.

Jarak pandang di Kota Palembang dilaporkan tersisa 100 meter akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera Selatan. Penerbangan terganggu dan kasus ISPA melonjak. Laporan investigasi selengkapnya dapat dibaca di Lurusin.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS oky-pratista

Reporter Hukum. Fokus pada mafia peradilan, judicial corruption, dan reformasi hukum.

Comments (0)

User