Udara Sekitar TPA Jatiwaringin Masih Tak Sehat, Warga Diimbau Pakai Masker

Lurusin.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengerahkan dua mobil pemantau kualitas udara dan tiga alat portabel ke kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Ban

Jul 06, 2026 - 07:18
0 0
Udara Sekitar TPA Jatiwaringin Masih Tak Sehat, Warga Diimbau Pakai Masker

Lurusin.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengerahkan dua mobil pemantau kualitas udara dan tiga alat portabel ke kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, yang telah terbakar selama enam hari. Langkah ini diambil setelah hasil pengukuran awal menunjukkan konsentrasi partikel debu halus (PM2.5) di permukiman sekitar melampaui ambang batas aman, sehingga warga diminta untuk selalu mengenakan masker.

Kondisi Udara Memburuk sejak Hari Pertama

Berdasarkan data yang dihimpun media kami di lapangan, kebakaran yang pertama kali dilaporkan pada Rabu (1/6) itu terus menghasilkan asap pekat yang menyelimuti sedikitnya empat desa di sekitar TPA. Warga mengeluhkan sesak napas, iritasi mata, dan batuk-batuk. Tim KLH yang tiba di lokasi sejak Minggu (5/6) langsung memasang alat pemantau di titik-titik strategis, termasuk sekolah dasar dan puskesmas terdekat. Dirjen Penegakan Hukum (Gakkum) KLH, Rasio Ridho Sani, mengonfirmasi bahwa pemantauan berjalan intensif. “Ya kami memantau (kualitas udara),” ujarnya melalui sambungan telepon, Senin (6/6).

Hasil sementara yang dilihat Lurusin.com menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik menyentuh angka 157–189, masuk dalam kategori “tidak sehat”. Artinya, seluruh populasi, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia, berisiko mengalami gangguan pernapasan akut apabila terpapar dalam durasi lama.

Api Belum Padam, Upaya Water Bombing Terkendala

Hingga hari keenam, api di tumpukan sampah setinggi 15 meter itu belum juga padam total. Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang mengerahkan 12 unit mobil tangki, namun titik api yang berada di bagian dalam gunungan sampah sulit dijangkau. Tim di lapangan mengandalkan teknik penyiraman dari atas menggunakan helikopter, tetapi intensitasnya terbatas karena jarak pandang yang sering turun akibat asap.

“Kami masih menyisir titik-titik yang masih mengeluarkan asap tebal. Material sampah yang terbakar mengandung plastik dan bahan organik basah, jadi pembakaran tidak sempurna dan menghasilkan asap lebih banyak,” ujar Kepala Bidang Penanggulangan Bencana setempat. Pihak KLH turut menurunkan drone untuk memetakan sebaran asap sekaligus mengukur konsentrasi gas beracun seperti karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO2).

Imbauan Pakai Masker dan Penutupan Sekolah

Menindaklanjuti situasi ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh warga yang beraktivitas di luar ruangan mengenakan masker N95, bukan sekadar masker kain. Puskesmas di Kecamatan Jatiwaringin dan sekitarnya juga diminta bersiaga 24 jam untuk menangani keluhan pernapasan. Dinas Pendidikan setempat telah meliburkan kegiatan belajar mengajar di tiga SD dan satu SMP yang berlokasi dalam radius dua kilometer dari TPA, hingga kualitas udara dinyatakan kembali aman.

Seorang warga RT 04, Sutinah (43), mengaku keluarganya sudah lima hari memilih mengungsi ke rumah saudara di kecamatan lain. “Anak saya asma, tidak kuat dengan bau kebakaran. Kalau malam, asap masuk ke dalam rumah meski semua jendela sudah ditutup,” katanya. Warga berharap pemerintah segera menemukan solusi permanen agar kebakaran TPA tidak menjadi bencana tahunan. Sementara itu, KLH berencana melakukan evaluasi ulang terhadap sistem pengelolaan gas metana di TPA Jatiwaringin yang diduga menjadi pemicu awal kebakaran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User