Titiek Soeharto Sapa Napi di Kolam Udang Nusakambangan: “Senang Nggak, Ada Kesibukan?”
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, yang akrab disapa Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026). Agenda utama kunjungan
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, yang akrab disapa Titiek Soeharto, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026). Agenda utama kunjungan tersebut adalah meninjau langsung panen udang Vaname yang dibudidayakan oleh para warga binaan pemasyarakatan (WBP) di kawasan Bantar Panjang. Program ini merupakan bagian dari strategi besar ketahanan pangan nasional yang melibatkan lembaga pemasyarakatan sebagai lumbung produksi perikanan.
Dari Dalam Sel ke Tengah Kolam
Saat menyaksikan proses panen, Titiek menyapa sejumlah narapidana yang tampak sibuk menjaring dan mengumpulkan udang. Sang legislator itu lantas bertanya soal aktivitas rutin para WBP sebelum program ini berjalan.
“Yang mengerjakan ini warga binaan nih, mas-mas ini. Biasanya kalau di dalam (lapas) ngapain saja (sebelum ada program ketahanan pangan)?” tanya Titiek.
Salah satu napi menjawab dengan polos, “Nggak ngapa-ngapain.”
“Terus ini ada kolam udang senang nggak, ada kesibukan?” kejar Titiek lagi.
Pertanyaan spontan itu sontak disambut senyum dan anggukan antusias dari para warga binaan. Momen tersebut merekam betapa program budidaya udang tak hanya menjadi aktivitas pengisi waktu, tetapi juga membangun semangat baru di balik jeruji. Titiek menuturkan, keterlibatan para napi dalam budidaya udang membuat mereka merasa memiliki tanggung jawab dan kegembiraan yang selama ini redup akibat rutinitas monoton di sel tahanan.
Lebih dari Sekadar Panen
Budidaya udang Vaname di Nusakambangan adalah buah sinergi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Pertanian. Lahan di sekitar lapas yang sebelumnya tidak produktif disulap menjadi kolam-kolam berisi air payau yang kini menghasilkan puluhan kilogram udang per siklus panen. Selain komoditas Vaname, kawasan ini juga mengembangkan sayuran hidroponik dan peternakan lele untuk menopang kebutuhan pangan internal sekaligus menjadi media pembinaan keterampilan.
Berdasarkan laporan Lurusin.com, hasil panen udang ini sebagian dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan lapas, dan sebagian dipasarkan ke masyarakat sekitar melalui mekanisme yang dikelola bersama petugas pembinaan. Dengan begitu, program ini tidak hanya berdimensi sosial, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang mendukung kemandirian pangan di kawasan Cilacap.
Titiek menekankan bahwa model pembinaan semacam ini harus segera direplikasi di lembaga pemasyarakatan lain di seluruh Indonesia. “Ini contoh nyata bagaimana narapidana bisa produktif. Mereka tidak hanya menunggu waktu, tapi belajar keterampilan yang bisa dipakai untuk hidup mandiri setelah bebas. Kalau bisa berhasil di sini, kenapa tidak dicoba di tempat lain? Kita ingin lapas tidak hanya menjadi tempat menghukum, tapi juga tempat membina,” tegasnya.
Lebih jauh, kunjungan ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Komisi IV DPR untuk mendorong perluasan anggaran dan dukungan teknis bagi program serupa. Titiek melihat antusiasme para warga binaan yang turun langsung ke kolam menjadi indikator bahwa pendekatan produktif lebih efektif dalam meredam potensi konflik dan membangun mental positif. Dari pantauan Lurusin.com, para napi tampak cekatan dan kompak saat menangani udang, mulai dari pengecekan kualitas air hingga sortasi ukuran. Mereka pun menyatakan kegiatan ini jauh lebih berarti ketimbang berdiam diri tanpa aktivitas di dalam sel yang sesak.
Comments (0)