PANDEGLANG, Lurusin.com — Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, kini memasuki fase krusial. Tim SAR gabungan resmi memperluas radius penyisiran hingga mendekati kawasan vulkanik aktif Gunung Anak Krakatau pada Kamis (10/9).
Pencarian skala besar ini melibatkan koordinasi lintas matra dengan mengerahkan armada kapal perang, armada patroli laut cepat, helikopter intai, hingga unit nirawak (drone) thermal. Kendati operasi digencarkan, tim penyelamat menghadapi tantangan ganda: cuaca laut yang dinamis serta potensi ancaman aktivitas vulkanik di sekitar zona erupsi.
Kronologi dan Eskalasi Operasi Pencarian
Insiden bermula ketika sebuah speedboat yang mengangkut rombongan peliputan jurnalis bersama awak kapal kehilangan komunikasi di tengah perairan terbuka Selat Sunda. Berdasarkan data lapangan yang dihimpun, berikut kronologi penanganan operasi:
- Senin (7/9) Malam: Laporan resmi terkait hilangnya kontak speedboat berisi delapan orang di perairan Pandeglang diterima otoritas maritim. Presiden Prabowo Subianto langsung menginstruksikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali untuk memimpin respon cepat operasi laut.
- Selasa–Rabu (8-9/9): Tim SAR gabungan dari Basarnas Banten, Lanal Banten, dan Polairud memulai penyisiran awal di koridor rute pelayaran standar, menyusuri garis pantai barat Banten hingga Lampung Selatan.
- Kamis (10/9): Evaluasi pergerakan arus dan angin membawa tim SAR memutuskan ekspansi sektor pencarian hingga ke lingkaran luar perairan Gunung Anak Krakatau.
“Sejak rombongan lima jurnalis bersama tiga kru kapal dilaporkan hilang kontak, sejak Senin malam Presiden Prabowo memang sudah langsung menginstruksikan KSAL untuk segera melakukan pencarian, di hari itu juga TNI AL langsung mengirim kapal-kapalnya,” tegas Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Mobilisasi 11 Armada Tempur dan Penyelamat
Merespons instruksi langsung dari Kepala Negara, TNI AL berkolaborasi erat dengan Basarnas dan Korpolairud mengerahkan sedikitnya 11 kapal patroli dan pencari guna memetakan seluruh koordinat rawan. Armada yang dikerahkan meliputi:
- Unsur KRI TNI AL: KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861.
- Unsur Kapal Angkatan Laut (KAL): KAL Anyer 1-3-64 dan KAL Pohawang 1-3-30.
- Armada SAR dan Penyelamat Cepat: RBB Peucang Lanal Banten, RHIB SAR 02 Banten, RHIB SAR 02 Lampung, KN SAR Tetuka-247, dan KN SAR Basudewa-224.
- Unsur Kepolisian: KP Sanjaya-7017 milik Ditpolairud.
Penyisiran diatur dalam beberapa sektor (Search and Rescue Unit/SRU) untuk memastikan tidak ada titik buta (blind spot) di sepanjang alur laut kepulauan yang memiliki arus bawah laut cukup deras.
Pertimbangan Keselamatan di Zona Vulkanik
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menegaskan bahwa penambahan sektor operasi ke perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dihitung berdasarkan kalkulasi drift model pergerakan arus air laut. Namun, faktor keselamatan personel penyelamat tetap menjadi batasan mutlak.
“Perluasan sektor ini ditujukan untuk memperbesar peluang menemukan kapal dan korban. Namun, kita tidak memaksakan masuk jika parameter keamanan vulkanik atau gelombang melebihi batas toleransi. Tetap akan kita coba apabila kondisi aman, safety adalah yang paling utama,” jelas Al Amrad.
Hingga laporan ini diturunkan, seluruh armada gabungan masih terus melakukan pemindaian visual dan sonar di sekitar Selat Sunda guna melacak keberadaan delapan korban yang hilang kontak tersebut.
Comments (0)