Terungkap: Biang Kerok Kemacetan Horor 7 Kilometer di Pelabuhan Ketapang
Lurusin.com – Kemacetan luar biasa melanda kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan laporan dan pantauan media kami di lapangan, antrean kendaraan m
Lurusin.com – Kemacetan luar biasa melanda kawasan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, dalam tiga hari terakhir. Berdasarkan laporan dan pantauan media kami di lapangan, antrean kendaraan mengular hingga sepanjang 7 kilometer dan terjadi nyaris tanpa henti, baik siang maupun malam. Arus mudik dan balik pengguna jasa penyeberangan Ketapang–Gilimanuk terpaksa tertahan, menimbulkan kekecewaan dan kelelahan bagi ribuan pemudik dan pengangkut barang.
Fenomena kemacetan horor ini memicu pertanyaan besar: apa sebenarnya penyebabnya? Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (DPP GAPASDAP), Khoiri Soetomo, akhirnya angkat bicara dan membongkar akar masalah yang selama ini luput dari perhatian publik.
Kapal Cukup, tetapi Dermaga Tak Sanggup Menampung
Khoiri Soetomo menegaskan bahwa penyebab utama bukanlah kekurangan armada kapal yang beroperasi di lintas Ketapang–Gilimanuk. Justru, jumlah kapal yang tersedia masih memadai untuk melayani arus kendaraan. Namun, biang kerok sebenarnya justru terletak pada keterbatasan kapasitas pelabuhan dan dermaga yang ada.
“Persoalan yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah kapal yang beroperasi. Biang kerok kemacetan ini benar-benar karena keterbatasan kapasitas pelabuhan dan dermaga yang tersedia. Armada kami siap, tetapi pelabuhan tidak sanggup menampung dan mengalirkan kendaraan dengan lancar,” ujar Khoiri saat dihubungi tim Lurusin.com, Selasa (8/4/2025).
Menurut Khoiri, meskipun kapal penyeberangan beroperasi maksimal, proses bongkar muat kendaraan di dermaga menjadi titik bottleneck yang sangat kritis. Antrean panjang terjadi karena kapal harus menunggu giliran sandar, sementara kendaraan yang sudah berada di darat tidak dapat segera masuk ke kapal karena ruang parkir dan lajur tunggu pelabuhan sudah penuh.
Data dari posko penyeberangan menunjukkan bahwa volume kendaraan yang terdata meningkat drastis, tetapi rasio luas dermaga terhadap jumlah kendaraan tidak berimbang. Hal ini membuat waktu tunggu melambat hingga berjam-jam, dan akhirnya menciptakan efek domino kemacetan hingga ke jalan raya utama.
Desakan Segera Perbaiki Infrastruktur Dermaga
GAPASDAP mendesak pemerintah dan pihak pengelola pelabuhan, dalam hal ini PT ASDP Indonesia Ferry, untuk segera mengambil langkah perbaikan. Penambahan kapasitas dermaga, perluasan areal parkir, serta penataan jalur masuk dan keluar kendaraan dianggap sebagai solusi jangka pendek yang paling realistis.
“Kami tidak bisa terus-menerus menyalahkan operator kapal atau pengendara. Intinya ada di infrastruktur. Tanpa ada perluasan dermaga, kejadian serupa akan terus terulang setiap musim libur panjang dan puncak arus mudik,” tambah Khoiri.
Lurusin.com mencatat, kemacetan parah di Pelabuhan Ketapang bukan kali pertama terjadi. Namun, skala parah yang terjadi dalam tiga hari terakhir ini menjadi yang terburuk sepanjang tahun 2025. Sejumlah pemudik yang ditemui mengaku sudah terjebak selama 6–8 jam hanya untuk mencapai kapal. Kini, semua mata tertuju pada otoritas pelabuhan untuk segera melakukan evaluasi dan aksi nyata sebelum kemacetan kembali membahayakan keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.
Comments (0)