Sosok Djoko Setijowarno: Dari Kampus Membenahi Transportasi Indonesia

Dunia transportasi Indonesia tak bisa dilepaskan dari pemikiran seorang akademisi yang konsisten mengkritisi kebijakan publik. Namanya Djoko Setijowarno, pengajar di Program Studi Teknik Sipil Univers...

Jul 12, 2026 - 09:06
0 0
Sosok Djoko Setijowarno: Dari Kampus Membenahi Transportasi Indonesia

Dunia transportasi Indonesia tak bisa dilepaskan dari pemikiran seorang akademisi yang konsisten mengkritisi kebijakan publik. Namanya Djoko Setijowarno, pengajar di Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Lebih dari dua dekade, ia mengawal isu keselamatan jalan, integrasi antarmoda, dan tata kelola transportasi perkotaan.

Pendidikan dan Akar Keilmuan

Kepakaran Djoko di bidang rekayasa transportasi terbentuk melalui perjalanan akademik yang panjang. Setelah menamatkan studi teknik sipil, ia mendalami perencanaan dan pemodelan sistem transportasi. Sebagai dosen di Unika Soegijapranata, ia tak hanya mengajar di dalam kelas, melainkan juga mendorong mahasiswa melakukan riset lapangan tentang kemacetan, perilaku pengguna jalan, dan dampak lingkungan infrastruktur.

Kampusnya di Semarang menjadi laboratorium hidup. Bersama mahasiswa, ia meneliti efektivitas bus rapid transit, keselamatan pejalan kaki, dan kemacetan di kawasan pendidikan. Hasil riset tersebut sering menjadi masukan bagi pemerintah kota. Pendekatan saintifik ini membuat pandangannya selalu berbasis data, bukan asumsi.

Peran Strategis di Masyarakat Transportasi Indonesia

Sebagai Dewan Penasehat MTI, Djoko berada di persimpangan antara dunia akademik dan kebijakan publik. Organisasi ini menjadi wadah para pakar, praktisi, dan birokrat merumuskan solusi transportasi. Melalui MTI, ia kerap menyampaikan rekomendasi kepada kementerian, pemerintah daerah, dan parlemen.

Isu yang paling sering ia suarakan adalah keselamatan lalu lintas. Data kecelakaan yang tinggi, terutama yang melibatkan sepeda motor, mendorongnya terus mengadvokasi perbaikan desain jalan, penegakan hukum, dan pendidikan sejak dini. Ia juga lantang menolak proyek infrastruktur yang mengabaikan aspek keselamatan hanya demi mengejar target pembangunan.

Di level nasional, kontribusinya terlihat dalam berbagai diskusi Rancangan Undang-Undang dan revisi peraturan tentang jalan, angkutan umum, serta kendaraan listrik. Ia termasuk figur yang diundang DPR untuk memberikan pandangan ahli. Konsistensinya membuat ia dihormati lintas sektor.

Gagasan tentang Transportasi Perkotaan

Salah satu pemikirannya yang menonjol adalah penolakan terhadap pembangunan flyover dan underpass sebagai solusi tunggal kemacetan. Menurutnya, infrastruktur semacam itu hanya memindahkan titik macet dan mengabaikan hak pejalan kaki serta pesepeda. Ia lebih mendorong pengembangan angkutan umum massal yang terintegrasi, trotoar yang manusiawi, dan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi.

Djoko sering mengutip pengalaman kota-kota dunia yang berhasil menurunkan tingkat penggunaan mobil pribadi dengan menyediakan transportasi publik yang nyaman, aman, dan tepat waktu. Ia melihat potensi besar pada pengembangan kereta api perkotaan, bus listrik, dan sistem transit yang terhubung langsung dengan kawasan permukiman. Bagi dia, memindahkan orang bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga keadilan akses.

Pemikirannya tentang transportasi berkelanjutan semakin relevan di tengah krisis iklim. Ia mendorong elektrifikasi angkutan umum, pengujian emisi yang ketat, dan pengembangan bahan bakar alternatif. Semua gagasan itu ia sampaikan bukan hanya di jurnal ilmiah, tetapi juga melalui media massa dan media sosial, menjangkau publik lebih luas.

Kritik dan Harapan bagi Pemangku Kebijakan

Sikap kritis Djoko sering dianggap tajam, tetapi selalu disertai solusi. Ia mengkritisi tumpang tindih kewenangan antara pusat dan daerah yang membuat kebijakan transportasi tidak sinkron. Contohnya, pengelolaan terminal bus, trayek angkutan, dan izin operasi daring yang kerap menimbulkan konflik. Menurutnya, perlu ada revisi regulasi yang mengharmonisasi peran setiap tingkatan pemerintahan.

Ia juga menyoroti rendahnya alokasi subsidi untuk angkutan umum dibandingkan subsidi energi untuk kendaraan pribadi. Akibatnya, ongkos naik bus atau kereta menjadi mahal, sementara pemilik mobil dan motor menikmati bahan bakar murah. Ketimpangan ini, kata dia, mendistorsi perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasi.

Harapannya sederhana namun fundamental: Indonesia memiliki masterplan transportasi yang terukur, berkelanjutan, dan berkeadilan. Ia percaya bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika riset dan praktik berjalan bersama. Maka dari itu, ia terus membina jejaring antara kampus, masyarakat sipil, dan birokrasi.

Kiprah Djoko Setijowarno membuktikan bahwa suara dari ruang kuliah bisa menggema hingga lorong-lorong kebijakan. Ketekunannya mendokumentasikan fakta, menganalisis akar masalah, dan menawarkan alternatif menjadikannya figur penting yang terus mewarnai arah pembangunan transportasi Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User