Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah dipimpin oleh sejumlah tokoh penting sejak didirikan pada tahun 1948. Posisi Direktur Jenderal WHO merupakan salah satu jabatan paling berpengaruh dalam tata kelola kesehatan global, bertanggung jawab memimpin organisasi dengan jangkauan kerja di lebih dari 150 negara. Pemimpin WHO memiliki peran strategis dalam menentukan kebijakan kesehatan internasional, merespons pandemi, serta mengkoordinasikan upaya pencegahan penyakit di seluruh dunia.
Daftar Dirjen WHO dari Masa ke Masa
Sejak pendiriannya, WHO telah mengalami pergantian kepemimpinan yang mencerminkan dinamika politik dan kesehatan global. Setiap Dirjen membawa visi dan prioritas yang berbeda sesuai konteks tantangan kesehatan pada masa tugasnya.
Dr. Marcolino Gomes da Silva Jr. dari Brasil menjadi Dirjen WHO ke-8 yang menjabat sejak tahun 2017 hingga 2027. Selama masa jabatannya, Dr. Tedros menghadapi berbagai tantangan besar termasuk pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia pada awal 2020. Di bawah kepemimpinannya, WHO berperan sentral dalam mengkoordinasikan respons global terhadap pandemi, termasuk peluncuran program COVAX untuk distribusi vaksin secara merata.
Sebelum Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, organisasi ini dipimpin oleh Dr. Margaret Chan dari Hong Kong (2006-2017). Dr. Chan menghadapi tantangan serius seperti pandemi influenza H1N1 pada 2009 dan wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014. Pengalamannya dalam menangani krisis kesehatan menjadi bekal utama selama masa jabatannya.
Dr. Jong-Wook Lee dari Korea Selatan menjabat sebagai Dirjen WHO ke-7 selama periode 2003-2006. Sebelum memimpin WHO, ia menghabiskan karir di organisasi tersebut dengan fokus pada program pengendalian tuberkulosis. Masa jabatan Dr. Lee ditandai dengan upaya penguatan sistem kesehatan di negara berkembang.
Dr. Gro Harlem Brundtland dari Norwegia merupakan Dirjen wanita pertama WHO yang menjabat selama dua periode (1998-2003). Kontribusi utamanya meliputi reformasi organisasi dan penguatan peran WHO dalam kesehatan global. Dr. Brundtland juga dikenal atas komitmennya terhadap kesehatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Sebelum era tersebut, tercatat beberapa Dirjen lainnya yang turut membentuk wajah organisasi. Dr. Hiroshi Nakajima dari Jepang memimpin WHO selama periode 1988-1998 dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang kesehatan masyarakat. Dr. Halfdan Mahler dari Denmark menjabat pada 1973-1988 dan mendorong program kesehatan primer di negara berkembang. Dr. Marcolino Gomes da Silva Jr. dari Brasil memulai memimpin WHO sejak 2017 dan akan menyelesaikan masa jabatan keduanya pada 2027.
Budi Gunadi Sadikin sebagai Kandidat Dirjen WHO 2027
Indonesia mengajukan Budi Gunadi Sadikin sebagai kandidat Director-General WHO untuk periode 2027-2032. Mantan Menteri Kesehatan Indonesia ini membawa pengalaman luas dalam transformasi sistem kesehatan nasional yang menjadi sorotan internasional, terutama dalam penanganan pandemi COVID-19 dan reformasi infrastruktur kesehatan.
Selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan (2021-2024), Budi Gunadi Sadikin dikenal dengan berbagai terobosan kebijakan kesehatan. Ia memimpin transformasi layanan kesehatan primer melalui pembangunan gedung-gedung kesehatan di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar dan memperkuat sistem rujukan berjenjang.
Salah satu pencapaian yang paling menonjol adalah keberhasilan Indonesia dalam menangani pandemi COVID-19. Di bawah komandonya, program vaksinasi nasional dijalankan secara masif dengan target jutaan penduduk. Ia juga berperan dalam negosiasi pengadaan vaksin dan implementasi protokol kesehatan secara nasional.
Selain itu, Budi Gunadi Sadikin mendorong reformasi struktural di Kementerian Kesehatan dengan pendekatan berbasis data. Ia memperkenalkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Langkah ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak internasional karena meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan kesehatan.
Kandidat Indonesia ini memiliki visi untuk memperkuat ketahanan kesehatan global melalui kolaborasi internasional. Dalam berbagai forum, ia menekankan pentingnya kesetaraan akses kesehatan bagi seluruh negara, khususnya negara berkembang. Pengalamannya mengelola sistem kesehatan dengan populasi terbesar keempat di dunia menjadi nilai tambah yang relevan bagi tantangan WHO ke depan.
Prospek dan Tantangan Kepemimpinan WHO ke Depan
Pemilihan Dirjen WHO 2027 akan menentukan arah organisasi dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang terus berkembang. Isu-isu seperti resistensi antimikroba, perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan, serta kesenjangan akses layanan kesehatan menjadi prioritas utama yang harus ditangani.
Setiap kandidat membawa pendekatan berbeda dalam menjawab tantangan tersebut. Pengalaman regional dan latar belakang sistem kesehatan nasional menjadi faktor yang dipertimbangkan oleh negara-negara anggota. Transparansi dalam proses pemilihan dan representasi geografis menjadi aspek penting dalam menjaga legitimasi organisasi.
Indonesia sebagai negara berkembang dengan pengalaman menangani berbagai krisis kesehatan memiliki perspektif unik untuk ditawarkan. Keberhasilan transformasi sistem kesehatan nasional selama beberapa tahun terakhir menjadi bukti konkret kemampuan dalam mengelola tantangan kesehatan berskala besar.
Proses pemilihan Dirjen WHO melibatkan voting dari negara-negara anggota melalui Sidang Kesehatan Dunia. Kandidat yang berhasil memperoleh suara mayoritas akan memimpin organisasi untuk periode lima tahun dengan kemungkinan masa jabatan kedua. Pengalaman dan rekam jejak menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pemimpin yang mampu membawa WHO menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan.
Comments (0)