SBY Sampaikan Pesan Kebangsaan dalam Wawancara Eksklusif
Di tengah hiruk-pikuk politik nasional pasca-Pemilu 2024, mantan Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, membuka ruang dialog secara terbatas. Dalam sebuah perbincangan yang berl...
Di tengah hiruk-pikuk politik nasional pasca-Pemilu 2024, mantan Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, membuka ruang dialog secara terbatas. Dalam sebuah perbincangan yang berlangsung di kediaman pribadinya yang asri di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (21/2/2025), pria yang akrab disapa SBY itu menyampaikan untaian refleksi dan harapan bagi masa depan bangsa.
Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu terasa hangat namun penuh makna. Ditemani secangkir kopi dan suasana sore yang teduh, SBY menerima tim jurnalis dengan keterbukaan yang menjadi ciri khasnya. Sosok berusia 75 tahun itu tampak sehat dan tetap tajam dalam mengamati dinamika nasional maupun global. Busana batik cokelat yang dikenakannya seolah mempertegas karakter kenegarawanan yang selalu melekat pada dirinya, bahkan setelah satu dekade meninggalkan Istana Negara.
Evaluasi Perjalanan Demokrasi
Mengawali diskusi, SBY menyoroti perjalanan demokrasi Indonesia yang telah memasuki seperempat abad sejak Reformasi 1998. Ia menekankan bahwa meskipun berbagai kemajuan telah tercapai, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus dituntaskan bersama. Kematangan berdemokrasi, menurutnya, tidak hanya diukur dari rutinitas pemilu, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai keadaban, penghormatan terhadap perbedaan, dan supremasi hukum ditegakkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan kembali masa-masa awal pemerintahannya pada 2004, ketika Indonesia masih berjuang memulihkan diri dari krisis multidimensi. Saat itu, konsolidasi demokrasi menjadi prioritas utama yang berhasil membawa stabilitas politik. Namun, SBY mengaku prihatin dengan maraknya polarisasi yang terjadi dalam beberapa siklus pemilu terakhir. “Bangsa ini dibangun di atas fondasi keberagaman. Jika kita terus-menerus terbelah hanya karena pilihan politik, maka energi bangsa akan habis untuk hal yang tidak produktif,” ujarnya dengan nada khidmat.
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu juga menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan yang sehat. Ia berpendapat bahwa transisi kekuasaan yang damai merupakan aset berharga yang harus dijaga. Dalam konteks ini, SBY mengapresiasi semangat generasi muda yang kini semakin aktif terlibat dalam panggung politik, namun mengingatkan agar semangat itu diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang sejarah dan ideologi bangsa.
Tantangan Ekonomi dan Gejolak Global
Pembicaraan kemudian bergeser pada isu ekonomi dan geopolitik. SBY yang pernah memimpin Indonesia melewati krisis keuangan global 2008, mengaku prihatin dengan situasi dunia saat ini yang penuh ketidakpastian. Perang dagang, konflik di berbagai kawasan, hingga dampak perubahan iklim menjadi tantangan serius yang memerlukan respons kebijakan cerdas dan adaptif dari pemerintah.
Dengan mengingat pengalamannya menyelamatkan perekonomian nasional dari ancaman resesi global, ia menekankan pentingnya kemandirian pangan dan energi. “Dalam situasi dunia yang tidak menentu, sebuah negara harus mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Kita tidak boleh terlalu bergantung pada rantai pasok global yang sewaktu-waktu bisa terputus,” tegasnya. SBY mencontohkan program swasembada pangan yang dahulu gencar ia dorong, serta perlunya investasi besar-besaran di sektor energi terbarukan untuk menjawab tantangan masa depan.
Ia juga menyentil soal kesenjangan ekonomi yang masih menjadi momok. Bagi SBY, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak bermakna jika hanya dinikmati segelintir elit. Oleh karena itu, ia mendorong agar setiap kebijakan pembangunan selalu diorientasikan pada pemerataan dan keadilan sosial, sesuai dengan amanat Pancasila.
Pesan untuk Generasi Muda
Bagian paling emosional dari wawancara ini terjadi ketika SBY berbicara tentang peran generasi muda. Matanya berbinar saat membayangkan Indonesia Emas 2045, sebuah visi yang sering ia gaungkan sejak masa kepemimpinannya. Ia meyakini bahwa masa depan Indonesia ada di tangan para pemuda yang kini mulai mengambil alih tongkat estafet.
“Saya ingin adik-adik mahasiswa, aktivis, pengusaha muda, dan seluruh anak bangsa ini percaya diri. Indonesia punya potensi luar biasa. Jangan pernah merasa rendah diri di hadapan bangsa lain,” katanya penuh semangat. Namun, ia juga mengingatkan bahwa potensi tersebut hanya bisa terwujud jika generasi muda tidak terjebak dalam budaya instan dan penyebaran hoaks yang merusak nalar.
SBY secara khusus menyoroti bahaya informasi palsu di era digital. Menurutnya, disinformasi telah menjadi ancaman nyata bagi persatuan dan kualitas demokrasi. Ia meminta para pemuda untuk selalu melakukan verifikasi, berpikir kritis, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang belum jelas kebenarannya.
Penutup yang Menggugah
Menjelang akhir pertemuan, suasana Puri Cikeas semakin syahdu. SBY, dengan suara yang tetap lantang namun teduh, menyampaikan optimismenya. Ia percaya Indonesia akan terus berdiri kokoh selama para pemimpin dan rakyatnya tetap berpegang pada konstitusi dan nilai-nilai luhur bangsa.
Wawancara eksklusif ini bukan sekadar kilas balik seorang negarawan, melainkan kompas moral di tengah ketidakpastian zaman. Pesan-pesan yang disampaikan SBY dari Puri Cikeas terasa relevan: pentingnya merawat nalar, menjaga keadaban politik, dan menaruh kepercayaan penuh pada kekuatan kolektif bangsa. Saat mentari sore perlahan meredup di balik perbukitan Bogor, satu hal yang jelas terpatri: suara dari Cikeas kali ini adalah panggilan untuk kembali ke jati diri sebagai satu Indonesia.
Comments (0)