Veddriq Leonardo Sabet Emas di World Climbing Series Chamonix
Kemenangan gemilang kembali ditorehkan atlet panjat tebing Indonesia di kancah dunia. Veddriq Leonardo sukses menyabet medali emas pada ajang World Climbing Series 2026 yang berlangsung di Chamonix, P...
Kemenangan gemilang kembali ditorehkan atlet panjat tebing Indonesia di kancah dunia. Veddriq Leonardo sukses menyabet medali emas pada ajang World Climbing Series 2026 yang berlangsung di Chamonix, Prancis. Keberhasilan ini semakin istimewa karena sang juara harus mengalahkan rekan satu negaranya sendiri, Antasyafi Robby Al Hilmi, dalam laga puncak yang mempertemukan dua wakil Merah Putih. Sorak-sorai pendukung Indonesia membahana di venue yang terletak di kaki Gunung Mont Blanc itu, menandai momen bersejarah bagi cabang olahraga panjat tebing nasional.
Panggung Final yang Bersejarah
Partai final nomor speed putra World Climbing Series Chamonix 2026 bukan sekadar pertarungan biasa. Untuk pertama kalinya sepanjang penyelenggaraan seri dunia ini, final mempertemukan dua atlet dari negara yang sama. Veddriq dan Antasyafi, yang sehari-hari berlatih di pelatnas yang sama, kini saling beradu cepat di dinding setinggi 15 meter. Keduanya lolos setelah menyingkirkan sejumlah pemanjat top dunia, menciptakan all-Indonesian final yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ketika aba-aba start berbunyi, kedua atlet langsung melesat dengan kecepatan eksplosif. Veddriq, yang dikenal memiliki start reaction time di bawah 0,15 detik, langsung memimpin. Pijakan kakinya di setiap hold begitu presisi, tanpa kesalahan sekecil apa pun. Ia mencatatkan waktu 5,12 detik, sebuah catatan yang nyaris menyamai rekor dunia yang ia pegang. Antasyafi, di sisi lain, memberikan perlawanan tangguh dengan finis 5,34 detik. Selisih 0,22 detik menjadi pembeda, dan sensor akhir pun memastikan Veddriq sebagai yang tercepat. Pelukan hangat antara keduanya di garis finis memperlihatkan sportivitas tinggi meski salah satu harus mengakui keunggulan rekannya sendiri.
Jalan Tak Tergoyahkan Sang Juara
Perjalanan Veddriq menuju emas diwarnai konsistensi performa yang mengesankan. Di babak 16 besar, ia menundukkan pemanjat tuan rumah, Julien Moreau, dengan catatan 5,21 detik. Kemudian, di perempat final, ia mengalahkan Marcus Welch dari Amerika Serikat dengan waktu 5,18 detik. Semifinal menjadi tantangan berikutnya saat bertemu Takumi Harada, pemanjat Jepang yang tengah naik daun, namun Veddriq kembali menang dengan 5,15 detik—sebuah sinyal bahwa ia semakin cepat seiring babak berlangsung.
“Setiap putaran saya jadikan pemanasan untuk final. Fokus saya adalah tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun, karena di speed, kesalahan sehelai rambut pun bisa berakibat fatal,” ujar Veddriq. Pernyataannya mencerminkan mental yang ditempa dari berbagai pengalaman, termasuk medali perunggu yang ia raih di Olimpiade Paris 2024. Kini, di Chamonix, ia menambah koleksi emas bergengsi dari salah satu seri paling kompetitif di kalender panjat tebing internasional.
Kejutan Manis dari Antasyafi
Meski harus puas di posisi kedua, Antasyafi Robby Al Hilmi tampil melampaui ekspektasi. Pemanjat asal Medan ini membuka turnamen dengan status underdog, namun mampu melibas lawan-lawan tangguh. Di semifinal, ia membuat kejutan besar dengan menundukkan juara bertahan Danylo Boldyrev dari Ukraina lewat catatan waktu 5,45 detik. Sebuah hasil yang mengejutkan publik, mengingat Boldyrev adalah favorit juara. Keberhasilan Antasyafi sekaligus memastikan Indonesia menggenggam dua tiket final—sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi di seri World Climbing mana pun.
“Saya tidak menyangka bisa sampai final. Target awal hanya ingin memperbaiki waktu personal, tapi ternyata rezekinya lebih. Saya belajar banyak dari pertandingan ini, apalagi bisa bertanding dengan Veddriq, senior yang saya hormati. Ini membuktikan bahwa regenerasi di panjat tebing Indonesia berjalan baik,” katanya. Antasyafi, yang selama ini lebih banyak berlaga di kejuaraan Asia, kini siap meramaikan persaingan di level elite dunia.
Dampak dan Pijakan ke Masa Depan
All-Indonesian final di Chamonix menjadi penegasan bahwa panjat tebing Indonesia bukan lagi sekadar peserta, melainkan kandidat juara di setiap ajang. Keberhasilan ini tidak lepas dari program pembinaan intensif yang digalakkan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) sejak beberapa tahun terakhir. Pembinaan usia muda, pemusatan latihan berstandar internasional, dan pengiriman atlet secara rutin ke kompetisi di luar negeri mulai menampakkan hasil yang konsisten. Veddriq dan Antasyafi adalah produk dari ekosistem tersebut.
Medali emas ini juga memperkokoh posisi Veddriq dalam peringkat dunia, sekaligus menambah poin kualifikasi Olimpiade jika panjat tebing tetap dijadwalkan untuk pesta multi-cabang berikutnya. Bagi Antasyafi, perak ini menjadi tiket emas untuk turnamen-turnamen elit yang sebelumnya sulit dijangkau. Dukungan pemerintah dan sponsor swasta pun diharapkan semakin deras mengalir.
Masyarakat Indonesia tak henti menyampaikan apresiasi melalui media sosial. Tagar #VeddriqEmas dan #MerahPutihMendunia sempat menjadi tren. Chamonix, dengan latar Pegunungan Alpen yang memukau, menjadi saksi dua putra terbaik bangsa berdiri di podium kehormatan, mengumandangkan Indonesia Raya di kancah dunia.
Baca juga:
Comments (0)