Erlina Burhan Sebut Pelacakan Total Kontak TB Strategi Vital
Upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia terus diperkuat dengan pendekatan investigasi epidemiologis yang lebih agresif. Salah satu strategi yang kini menjadi sorotan adalah kewajiban pelac...
Upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia terus diperkuat dengan pendekatan investigasi epidemiologis yang lebih agresif. Salah satu strategi yang kini menjadi sorotan adalah kewajiban pelacakan 100 persen kontak erat pasien. Kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari dr. Erlina Burhan, Sp.P, sebagai langkah fundamental untuk memutus rantai penularan di masyarakat.
Dukungan dari Perspektif Klinis
dr. Erlina Burhan yang dikenal sebagai dokter spesialis paru berpengalaman menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan epidemiologis yang mendesak. Menurutnya, TB adalah penyakit yang penyebarannya sangat dipengaruhi oleh interaksi harian, sehingga deteksi dini melalui pelacakan kontak menjadi sangat krusial. Tanpa identifikasi menyeluruh terhadap individu yang pernah berinteraksi dengan pasien aktif, upaya pengobatan satu orang tidak akan efektif secara populasi, karena sumber infeksi laten akan terus menciptakan kasus baru. Ia melihat komitmen pemerintah untuk mewajibkan pelacakan ini sebagai terobosan positif yang harus dijalankan dengan konsisten.
Mengapa Pelacakan 100 Persen Menjadi Kunci
Selama ini, program TB nasional menghadapi hambatan besar akibat terputusnya investigasi kontak. Banyak kasus TB sekunder terjadi karena orang yang sudah terpapar droplest infeksius tidak terdeteksi. Pelacakan kontak erat memungkinkan petugas kesehatan menemukan mereka yang mungkin telah terinfeksi tetapi belum menunjukkan gejala, atau sudah masuk fase aktif namun belum terjangkau layanan. Dengan menetapkan target 100 persen, setiap pasien TB akan dipetakan secara lengkap siapa saja yang tinggal serumah, bekerja satu ruangan, atau berinteraksi intensif lebih dari empat jam. Data ini menjadi peta jalan untuk melakukan skrining, tes dahak, atau pemberian terapi pencegahan TB (TPT) bagi yang memenuhi kriteria. dr. Erlina menekankan bahwa pendekatan ini sejalan dengan strategi global End TB yang menargetkan eliminasi TB pada 2030.
Beban TB di Indonesia dan Urgensi Akselerasi
Indonesia masih menempati peringkat kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi kasus baru mencapai lebih dari satu juta setiap tahunnya, namun masih ada kesenjangan signifikan antara jumlah kasus yang dilaporkan dan angka kejadian di lapangan. Salah satu penyebab utama adalah minimnya investigasi kontak yang mengakibatkan penularan tanpa henti di lingkungan rumah tangga maupun komunitas. Kebijakan pelacakan total ini diharapkan dapat memperkecil celah tersebut. Dengan mendorong setiap faskes dari puskesmas hingga rumah sakit untuk menginvestigasi seluruh kontak erat, potensi kasus yang hilang (missing cases) dapat ditekan. dr. Erlina menilai bahwa tanpa langkah drastis seperti ini, target eliminasi akan sulit tercapai.
Tantangan Implementasi dan Dukungan Sistem
Meski secara konsep sangat tepat, pelaksanaan pelacakan 100 persen bukan tanpa tantangan. Keterbatasan tenaga tracer, kendala geografis, serta stigma masyarakat terhadap TB sering menjadi penghambat. Namun, dr. Erlina optimis bahwa dengan integrasi teknologi informasi seperti aplikasi pelaporan real-time dan peningkatan kapasitas kader kesehatan, target ini dapat dipenuhi. Ia juga menyoroti pentingnya pemberdayaan komunitas untuk mengurangi resistensi saat proses tracing dilakukan. Kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh masyarakat untuk memberi pemahaman bahwa investigasi kontak bukan untuk mengucilkan, melainkan untuk melindungi. Dukungan logistik dan insentif yang jelas bagi petugas di garda depan juga menjadi faktor penentu.
Transformasi dari Pasif ke Aktif
Selama ini pendekatan penemuan kasus TB cenderung pasif, menunggu pasien datang ke fasyankes dengan gejala berat. Pelacakan kontak total mengubah paradigma menjadi aktif: mendatangi orang sehat yang berisiko, memeriksa, dan memberikan intervensi sejak dini. Hal ini sangat relevan untuk TB laten di mana seseorang sudah terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis tetapi daya tahan tubuh masih mampu menahan perkembangbiakannya. Jika mereka tidak diberikan terapi pencegahan, risiko berkembang menjadi TB aktif di kemudian hari sangat tinggi, terutama saat imunitas turun. Oleh karena itu, dr. Erlina Burhan menegaskan bahwa pelacakan 100 persen adalah satu-satunya cara untuk memasuki fase pencegahan yang sebenarnya, bukan sekadar pengobatan.
Menuju Indonesia Bebas TB
Langkah pemerintah yang mewajibkan investigasi kontak erat secara total merupakan pijakan penting dalam peta jalan eliminasi tuberkulosis. Dukungan dari tokoh klinis seperti dr. Erlina Burhan menjadi legitimasi ilmiah bahwa kebijakan tersebut sudah tepat. Kini, tinggal bagaimana implementasi di lapangan dijalankan secara disiplin dan masif. Jika setiap kontak erat dari puluhan ribu pasien yang diobati tiap tahun bisa disusuri, maka secara eksponensial kita akan memutus silus penularan yang selama ini tidak terlihat. Masyarakat pun perlu diajak untuk tidak takut dan justru proaktif melaporkan jika ada anggota keluarga atau rekan kerja yang menderita batuk berkepanjangan. Dengan sinergi kebijakan, tenaga medis, dan partisipasi publik, target Indonesia bebas TB pada tahun yang ditetapkan bukanlah utopi, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan secara bertahap.
Baca juga:
Comments (0)