Sarjana NU Diajak Perkuat Daya Saing Melalui Inovasi Keilmuan
Malang – Organisasi keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama perlu terus beradaptasi dan menghadirkan solusi berbasis pengetahuan untuk menjawab tantangan kontemporer. Salah satu tokoh yang secara kon...
Malang – Organisasi keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama perlu terus beradaptasi dan menghadirkan solusi berbasis pengetahuan untuk menjawab tantangan kontemporer. Salah satu tokoh yang secara konsisten menyuarakan penguatan kapasitas intelektual kader adalah akademisi yang juga memimpin jajaran pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. Dengan rekam jejak di dunia pendidikan tinggi dan jaringan organisasi, sosok ini menjadi motor penting dalam mengintegrasikan tradisi keilmuan pesantren dengan metodologi riset modern.
Membangun Jembatan antara Kampus dan Komunitas
Sebagai pengajar di salah satu universitas Islam negeri ternama di Jawa Timur, ia percaya bahwa tembok pemisah antara kampus dan masyarakat harus dirobohkan. Kampus tidak boleh menjadi menara gading, melainkan laboratorium sosial yang menghasilkan rumusan-rumusan aplikatif bagi kemaslahatan umat. Prinsip ini ia terjemahkan dalam berbagai program pemberdayaan yang diinisiasi oleh organisasi sarjana yang dipimpinnya, mulai dari pendampingan usaha mikro berbasis digital hingga klinik riset untuk mahasiswa dan peneliti muda.
Dalam beberapa kesempatan diskusi terbatas, ia kerap menekankan bahwa sarjana NU memiliki tanggung jawab historis. Mereka bukan hanya pewaris keilmuan para pendiri organisasi, tetapi juga perekayasa peradaban di era disrupsi. Untuk itu, penguasaan sains dan teknologi mesti disejajarkan dengan penguatan nalar kritis yang berakar pada khazanah Islam Nusantara. Perpaduan inilah yang menurutnya akan melahirkan generasi sarjana yang adaptif sekaligus berkarakter.
Strategi Pengembangan Kompetensi Kader
Di bawah kepemimpinannya, organisasi yang menaungi para sarjana NU itu merancang serangkaian pelatihan terstruktur. Program-program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis seperti penulisan akademik dan metodologi penelitian, tetapi juga menyentuh aspek kepemimpinan berbasis nilai. Ia memandang bahwa kaderisasi yang efektif mesti membentuk pribadi yang mumpuni secara intelektual sekaligus memiliki kepekaan sosial tinggi.
Salah satu inisiatif yang menuai respons positif adalah kolaborasi riset dengan sejumlah lembaga internasional. Tujuannya tak sekadar mengejar indeks publikasi, melainkan menghadirkan temuan-temuan yang bisa langsung dialihwujudkan menjadi kebijakan publik atau model intervensi sosial. Dalam pandangannya, kegiatan akademik baru bermakna ketika ia mampu menjawab persoalan riil, seperti ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan masifnya penyebaran informasi keliru di ruang digital.
Pendekatan multidisiplin menjadi andalan. Ia mendorong agar para sarjana tidak terkungkung pada sekat-sekat keilmuan tradisional. Seorang ahli hukum Islam, misalnya, diundang untuk mengkaji regulasi perlindungan data pribadi bersama pakar teknologi informasi. Seorang filolog diajak berdialog dengan pegiat media sosial untuk merumuskan narasi tandingan terhadap ekstremisme. Kolaborasi semacam ini dianggapnya sebagai jalan terbaik untuk menghasilkan pengetahuan yang integratif.
Respons terhadap Dinamika Global
Perubahan geopolitik dan resesi ekonomi global turut menjadi perhatian organisasi yang dipimpinnya. Ia kerap mengingatkan bahwa sarjana NU harus mampu membaca peta pergeseran kekuasaan dunia agar umat tidak sekadar menjadi objek. Literasi geopolitik dan ekonomi global ia masukkan ke dalam kurikulum diskusi rutin, lengkap dengan analisis dampaknya terhadap kedaulatan nasional dan kemandirian pesantren.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi juga menjadi topik yang sering ia angkat. Ia meyakini bahwa teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang dapat mempercepat pencapaian kemaslahatan. Oleh karena itu, para sarjana wajib menguasai literasi kecerdasan buatan agar dapat memanfaatkannya untuk perluasan akses pendidikan, perbaikan layanan kesehatan di daerah terpencil, serta penciptaan lapangan kerja baru berbasis inovasi digital.
Ia pun mendorong lahirnya pusat studi baru yang fokus pada etika kecerdasan buatan dalam perspektif Islam. Menurutnya, kekhawatiran tentang dampak negatif teknologi hanya bisa dijawab dengan keterlibatan aktif para ilmuwan yang memiliki landasan moral kuat. Tanpa itu, diskursus etika hanya akan menjadi wacana elitis yang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat luas.
Pendidikan sebagai Pilar Utama
Sebagai pendidik, ia meyakini bahwa transformasi bangsa bermula dari ruang kelas. Namun, ruang kelas yang ia maksud bukan sekadar ruangan fisik, melainkan seluruh ekosistem pembelajaran yang memberdayakan. Ia mengkritik praktik pendidikan yang terlalu berorientasi pada angka dan mengabaikan pembentukan karakter. Pendidikan seharusnya membebaskan potensi terbaik setiap individu, bukan mencetak robot-robot penghafal rumus.
Dalam konteks itu, ia memuji model pendidikan pesantren yang mampu memadukan olah pikir, olah rasa, dan olah spiritual. Tugas sarjana NU, katanya, adalah membumikan keunggulan sistem tersebut ke dalam skema pendidikan nasional yang lebih luas. Dengan cara itu, Indonesia bisa memiliki model pendidikan yang tidak sekadar mengejar ketertinggalan dari negara lain, melainkan menjadi rujukan global.
Kesinambungan Regenerasi
Di akhir perbincangan dengan sejumlah kolega, ia selalu kembali pada tema regenerasi. Keberlanjutan organisasi dan misi keilmuan tidak akan mungkin terjadi tanpa kader-kader muda yang dipersiapkan sejak dini. Ia mendorong agar para senior di lingkungan sarjana NU memberi ruang seluas-luasnya bagi generasi milenial dan Z untuk berkarya, bahkan jika karya itu masih mentah dan memerlukan banyak penyempurnaan. Proses itulah yang akan menempa mereka.
Dengan perpaduan antara kearifan tradisi dan keberanian berinovasi, sosok yang akrab disapa di kalangan akademisi dan aktivis itu terus mengawal perjalanan intelektual kaum sarjana Nahdlatul Ulama. Langkahnya menunjukkan bahwa keilmuan yang berakar kuat pada nilai-nilai luhur justru akan menjadi kompas paling terang di tengah gelapnya ketidakpastian zaman.
Baca juga:
Comments (0)