BI Tegal Percepat Digitalisasi Pembayaran Lewat Jelajah Kuliner QRIS 2026

Bank Indonesia Perwakilan Tegal kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi sistem pembayaran nasional. Kali ini, upaya tersebut diwujudkan melalui gelaran QRIS Jelajah Kuliner Indone...

Jul 12, 2026 - 13:43
0 0

Bank Indonesia Perwakilan Tegal kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi sistem pembayaran nasional. Kali ini, upaya tersebut diwujudkan melalui gelaran QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026, yang secara resmi diluncurkan di wilayah eks Karesidenan Pekalongan bagian barat. Kegiatan ini dirancang tidak sekadar sebagai festival jajanan, melainkan menjadi katalis strategis untuk memperluas jangkauan digitalisasi transaksi, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Peta Jalan Baru Digitalisasi Kuliner Lokal

QJI 2026 di Tegal tidak hadir dalam ruang hampa. Inisiatif ini merupakan bagian dari peta jalan nasional Bank Indonesia untuk menjadikan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai tulang punggung transaksi nontunai di seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan verifikasi terhadap dokumen publik yang dirilis BI, program serupa telah bergulir di berbagai kota sejak 2024, dan Tegal menjadi salah satu titik penting mengingat potensi wisata kuliner yang dimilikinya—mulai dari Tahu Aci, Sate Kambing Muda, hingga Kupat Glabed.

Dalam pembukaan acara yang berlangsung di pusat keramaian kuliner kota, Kepala Perwakilan BI Tegal menegaskan bahwa momentum ini sengaja dipilih untuk menangkap antusiasme masyarakat pascamomen hari besar keagamaan, di mana mobilitas dan konsumsi pangan sedang tinggi. “Kami tidak hanya ingin QRIS dikenal, tetapi menjadi kebiasaan. Melalui jelajah kuliner, kami mendekatkan teknologi ini ke pengalaman sehari-hari warga,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi.

Struktur Acara dan Jangkauan Peserta

Berbeda dari program serupa di tahun sebelumnya, QJI 2026 dirancang dengan format eksplorasi yang lebih terintegrasi. Peserta diajak mengunjungi titik-titik kuliner pilihan yang telah terkurasi, semuanya wajib telah mengadopsi QRIS sebagai kanal pembayaran. Terdata sedikitnya 75 gerai kuliner, mulai dari pedagang kaki lima binaan hingga restoran legendaris, yang terlibat dalam rute jelajah ini. Setiap transaksi yang dilakukan peserta secara otomatis tercatat dalam sistem dan memberikan poin loyalitas yang bisa ditukar dengan berbagai insentif.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dari total pedagang kuliner di Tegal yang telah mendaftar QRIS, baru sekitar 60 persen yang rutin menggunakannya. Program ini diharapkan mendongkrak angka tersebut hingga 90 persen pada akhir tahun. Salah satu pedagang Tahu Aci di Jalan A. Yani mengungkapkan bahwa sejak bergabung dengan program, volume transaksi nontunai di lapaknya naik hampir dua kali lipat. “Dulu pembeli sering tanya, ‘Bisa QRIS nggak?’ Sekarang justru mereka yang mengajari saya cara pakainya,” tuturnya.

Infrastruktur dan Keamanan di Balik QRIS

Kepercayaan publik terhadap pembayaran digital tidak bisa dibangun tanpa fondasi keamanan yang kokoh. Berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia, seluruh transaksi melalui QRIS menggunakan standar enkripsi nasional yang sama, serta diawasi langsung oleh regulator moneter. Klaim bahwa QRIS rentan terhadap pencurian data atau pembobolan saldo bertentangan dengan fakta teknis bahwa setiap kode QR bersifat terenkripsi satu arah dan hanya bisa dibaca oleh sistem perbankan resmi.

BI Tegal sendiri telah melakukan audit kesiapan infrastruktur di seluruh titik kuliner. Tidak ada temuan kerentanan sistemik. Namun demikian, edukasi tetap difokuskan pada aspek keamanan sederhana, seperti tidak membagikan PIN kepada siapa pun dan memastikan nama merchant yang muncul di aplikasi sesuai dengan gerai yang dituju. Langkah ini sejalan dengan kampanye nasional “QRIS Aman, Cepat, Terpercaya”.

Dampak Ekonomi pada Pelaku Usaha Kuliner

Klaim bahwa digitalisasi pembayaran hanya menguntungkan platform besar tidak akurat jika merujuk pada data transaksi QJI tahun sebelumnya. Catatan BI menunjukkan bahwa omzet UMKM kuliner yang tergabung dalam program jelajah meningkat rata-rata 23 persen selama periode acara. Kenaikan ini didorong oleh efek promosi langsung melalui aplikasi peta jelajah yang memandu konsumen ke lokasi mereka, sekaligus meningkatkan eksposur digital yang selama ini menjadi kendala utama.

Lebih jauh, penggunaan QRIS juga meringankan beban operasional. Pedagang tidak perlu lagi menyediakan uang kembalian dalam jumlah besar atau menggantungkan diri pada mesin EDC yang membutuhkan koneksi listrik stabil. Satu lembar kode QR yang dicetak dan dilaminasi sudah cukup untuk menerima pembayaran dari puluhan aplikasi mobile banking dan dompet digital. Dengan demikian, intervensi teknologi ini langsung menyentuh persoalan efisiensi di level akar rumput.

Sinergi dengan Pemerintah Daerah dan Perbankan

Kesuksesan program ini tidak lepas dari sinergi antara Bank Indonesia, Pemerintah Kota dan Kabupaten Tegal, serta perbankan setempat. Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tegal turut memobilisasi pelaku usaha binaannya untuk bergabung, sementara bank-bank nasional dan BPD menyediakan layanan pendaftaran dan aktivasi QRIS secara gratis di lokasi acara. Pendekatan ini memangkas birokrasi yang kerap menjadi keluhan utama pedagang kecil ketika ingin mengakses layanan keuangan formal.

Perlu dicatat bahwa seluruh merchant yang terlibat telah melalui proses Know Your Customer (KYC) sesuai regulasi Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT). Dengan demikian, setiap transaksi tercatat secara transparan dan berkontribusi pada peningkatan inklusi keuangan yang terukur. Hingga kuartal pertama 2026, persentase inklusi keuangan di wilayah Tegal telah mencapai 87,6 persen, melampaui target nasional yang ditetapkan Dewan Nasional Keuangan Inklusif.

Menjawab Keraguan dan Mendorong Adaptasi

Meskipun pertumbuhannya pesat, resistensi terhadap pembayaran digital masih ditemui di segmen masyarakat tertentu, terutama generasi yang lebih tua. Survei internal BI Tegal menemukan bahwa 34 persen responden non-pengguna QRIS mengaku enggan beralih karena khawatir akan melakukan kesalahan teknis. Menjawab hal ini, QJI 2026 menyertakan sesi pendampingan langsung oleh agen-agen Laku Pandai di tiap pos pemberhentian, memandu pengunjung yang baru pertama kali menggunakan QRIS hingga berhasil menyelesaikan transaksi.

Faktanya, tingkat kegagalan transaksi QRIS secara nasional berada di bawah 0,5 persen—jauh lebih rendah dibandingkan transaksi tunai yang berpotensi menimbulkan selisih uang kembali atau uang tidak layak edar. Data ini seharusnya menjadi landasan bagi upaya literasi yang lebih masif, agar ketakutan masyarakat tidak lagi menghambat adopsi sistem pembayaran yang terbukti efisien dan aman.

Proyeksi dan Rencana Perluasan ke Sektor Lain

Ke depan, BI Tegal tidak hanya membatasi jelajah digital pada sektor kuliner. Rencana strategis telah disiapkan untuk memperluas ekosistem QRIS ke area wisata, transportasi publik lokal, serta pasar tradisional. Uji coba di Pasar Pagi Tegal, misalnya, menunjukkan bahwa penerapan QRIS pada lapak sayur dan ikan dapat mengurangi antrean pembayaran hingga 40 persen pada jam sibuk. Jika berhasil direplikasi, model ini akan menjadi game changer bagi modernisasi pasar rakyat.

Dengan fondasi yang telah diletakkan melalui QJI 2026, BI Tegal mengukuhkan posisinya tidak hanya sebagai regulator moneter, tetapi juga sebagai fasilitator utama transformasi digital di tingkat komunitas. Publik hanya perlu mengawal implementasinya agar tetap inklusif dan tidak meninggalkan satu pun lapisan masyarakat yang belum melek digital. Sebab, pada akhirnya, tujuan QRIS bukan mengganti uang tunai, melainkan memberi pilihan yang lebih cerdas bagi semua.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User