Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Sampah Makanan Mendominasi TPA Namun Kalah Populer dari Plastik

Setiap kali wacana larangan kantong plastik sekali pakai mengemuka, perdebatan publik langsung memanas di media sosial hingga ruang rapat dewan. Di sisi lain, gunungan sisa makanan yang membusuk di te...

Sampah Makanan Mendominasi TPA Namun Kalah Populer dari Plastik

Setiap kali wacana larangan kantong plastik sekali pakai mengemuka, perdebatan publik langsung memanas di media sosial hingga ruang rapat dewan. Di sisi lain, gunungan sisa makanan yang membusuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) jarang memicu reaksi sebesar itu, meskipun porsinya justru paling besar. Berdasarkan verifikasi terhadap data resmi pengelolaan sampah nasional, faktanya adalah komposisi terbesar sampah yang berakhir di TPA adalah sisa makanan, sementara plastik berada jauh di bawahnya. Pertanyaan yang layak dijawab: mengapa persepsi publik dan fakta lapangan berjalan terbalik, serta apa konsekuensinya bagi arah kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia?

Inti Klaim: Porsi Terbesar, Perhatian Terkecil

Klaim yang hendak diverifikasi sederhana: sampah makanan menyumbang porsi terbesar di TPA, namun kalah tenar dibanding isu plastik, sehingga fokus yang tidak seimbang rentan melahirkan kebijakan yang timpang. Data menunjukkan bagian pertama dari klaim itu akurat. Sumber resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat sisa makanan sebagai komponen dominan komposisi sampah nasional, dengan porsi sekitar 40 persen. Angka itu konsisten, baik dihitung dari timbulan sampah yang terkelola maupun yang masuk ke TPA di berbagai provinsi.

Sementara itu, porsi sampah plastik dalam komposisi nasional tercatat jauh lebih kecil, berkisar 17 hingga 18 persen. Artinya, berdasarkan verifikasi data, jenis sampah yang paling banyak mengisi TPA adalah bahan organik sisa konsumsi, bukan plastik. Temuan ini bertentangan dengan gambaran umum yang selama ini menempatkan plastik sebagai biang utama darurat sampah. Perbedaan porsi yang hampir dua setengah kali lipat ini jarang tergambar dalam pemberitaan maupun narasi kampanye lingkungan yang beredar di ruang publik.

Verifikasi: Dua Profil Risiko yang Berbeda

Sisa makanan adalah sampah organik yang membusuk. Ketika tertimbun di TPA tanpa pengelolaan memadai, material ini terurai secara anaerobik dan menghasilkan gas metana, gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global puluhan kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Faktanya adalah, dari sisi dampak iklim, tumpukan sisa makanan di TPA merupakan sumber emisi yang signifikan dan tidak kalah genting dibanding plastik. Emisi ini dapat ditekan bila sampah organik dipilah sejak dari sumber dan diolah melalui pengomposan atau teknologi pengolahan sampah menjadi energi.

Sebaliknya, plastik tidak membusuk dalam skala waktu yang sama. Bahaya utamanya terletak pada fragmentasi menjadi mikroplastik serta kebocorannya ke laut. Studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 2015 oleh peneliti Jenna Jambeck dan koleganya menempatkan Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar sampah plastik yang bocor ke laut secara global. Dengan demikian, kedua jenis sampah memiliki profil risiko yang berbeda: plastik mengancam ekosistem laut, sementara sisa makanan membebani TPA dan atmosfer. Keduanya nyata, tetapi keduanya tidak memperoleh porsi perhatian yang setara.

Fakta: Keterlihatan dan Narasi Publik

Perbedaan perhatian publik dapat dijelaskan dari sisi keterlihatan. Kantong plastik berserakan di sungai, pantai, dan pinggir jalan; mudah difoto, mudah diunggah, dan mudah dijadikan simbol perjuangan lingkungan. Sisa makanan yang membusuk di TPA justru tersembunyi di balik tembok fasilitas, jauh dari jangkauan kamera warga kota. Data menunjukkan isu yang tampak secara visual cenderung memperoleh empati publik lebih besar, meskipun kontribusinya terhadap keseluruhan masalah tidak selalu yang terbesar.

Akibatnya, wacana pengurangan sampah kerap berpusat pada larangan plastik sekali pakai, sementara pengelolaan sampah organik—pemilahan di sumber, pengomposan, dan pengolahan sisa makanan menjadi energi—berjalan lambat. Berdasarkan verifikasi terhadap arah regulasi yang ada, fokus yang timpang ini berpotensi melahirkan kebijakan yang mengatur ketat jenis sampah berpori kecil tetapi abai pada jenis sampah dengan porsi terbesar di TPA. Dalam jangka panjang, biaya penanganan TPA yang membengkak justru lebih banyak dipicu oleh volume sampah organik yang tidak terkelola.

Kesimpulan: Kebijakan Harus Berpijak pada Data

Berdasarkan verifikasi yang dilakukan, klaim bahwa sampah makanan mendominasi TPA adalah akurat dan didukung data resmi. Klaim bahwa isu tersebut kalah tenar dibanding plastik juga dapat dipertanggungjawabkan dari pola wacana publik dan pemberitaan. Bagian yang perlu diwaspadai adalah kesimpulan turunannya: bila perhatian publik terus timpang, kebijakan yang lahir berisiko timpang pula. Menyebut salah satu isu lebih penting dari yang lain akan menyesatkan, sebab keduanya menuntut penanganan berbeda namun sama-sama mendesak.

Solusi yang proporsional menuntut dua jalur berjalan paralel. Pengetatan plastik sekali pakai tetap relevan mengingat risiko kebocorannya ke laut. Namun pengurangan sisa makanan dan pengolahan sampah organik harus menjadi prioritas yang setara mengingat porsinya yang dominan di TPA. Tanpa keseimbangan itu, Indonesia berisiko mengelola sampah berdasarkan ketakutan, bukan berdasarkan data.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User