Rupiah Sentuh Rp17.984 Terseret Konflik AS-Iran, Cadangan Devisa Menguat

Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke Rp17.984 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (8/7/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga

Jul 08, 2026 - 13:57
0 0

Nilai tukar rupiah tercatat melemah ke Rp17.984 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (8/7/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Pelemahan ini terjadi di tengah ekskalasi konflik bersenjata Amerika Serikat–Iran di Timur Tengah yang memicu penghindaran aset berisiko secara global, meskipun pada saat yang sama cadangan devisa Indonesia dilaporkan meningkat.

Tekanan Eskalasi Geopolitik

Konflik yang meningkat cepat antara Washington dan Teheran telah mengguncang pasar keuangan Asia. Data dari Bank Indonesia menunjukkan rupiah ditutup anjlok 0,8% dalam satu sesi, dengan volume transaksi domestik non-deliverable forward (DNDF) melonjak ke US$7,2 miliar—indikasi bahwa pelaku pasar masif melakukan lindung nilai. Kenaikan harga minyak mentah Brent ke atas US$95 per barel memperburuk persepsi terhadap mata uang negara pengimpor minyak neto seperti Indonesia, karena beban subsidi energi dan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan ikut dibebankan ke rupiah.

Cadangan Devisa Sebagai Penyangga

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia justru naik ke US$152,3 miliar per akhir Juni 2026, dari posisi US$149,1 miliar sebulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama disumbang oleh penerbitan sukuk global pemerintah senilai US$3 miliar pada pertengahan Juni serta kenaikan penerimaan ekspor non-migas yang masih solid. Dengan bantalan ini, Bank Indonesia memiliki ruang untuk melakukan intervensi berganda (triple intervention) di pasar spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Gubernur BI menegaskan bahwa seluruh instrumen stabilisasi dijalankan agar pelemahan rupiah tertib dan sesuai fundamental. Akan tetapi, “intervensi hanya bisa meredam volatilitas sesaat, bukan melawan arus risk-off global yang dipicu konflik bersenjata,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Pola Historis: Geopolitik dan Rupiah

Besarnya tekanan geopolitik terhadap rupiah memiliki preseden. Tabel berikut membandingkan reaksi langsung rupiah pada tiga peristiwa eskalasi utama:

Peristiwa Tanggal Puncak Kurs Rupiah (Rp/USD) Gerak Harian
Invasi Rusia ke Ukraina 24 Feb 2022 14.350 → 14.475 -0,87%
Serangan Hamas ke Israel 9 Okt 2023 15.690 → 15.815 -0,80%
Eskalasi AS-Iran 8 Jul 2026 17.840 → 17.984 -0,80%

Pola tersebut memperlihatkan bahwa pada setiap guncangan geopolitik besar, rupiah cenderung melemah sekitar 0,8%–0,9% dalam sehari sebelum stabilisasi BI bekerja. Pembedanya kali ini adalah posisi cadangan devisa yang lebih tinggi, yaitu setara 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional tiga bulan.

Prospek dan Risiko

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda de-eskalasi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan bertahan. Pasar mengantisipasi BI akan menahan suku bunga acuan di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur pekan depan untuk menjaga imbal hasil aset rupiah tetap atraktif. Namun, ruang pelonggaran moneter menjadi menyempit, menunda normalisasi suku bunga yang sebelumnya diharapkan mulai kuartal III-2026. Selain itu, risiko inflasi impor dari lonjakan harga minyak dan pangan global perlu diwaspadai karena dapat mengikis daya beli domestik, menambah kompleksitas bagi pemulihan ekonomi.

Sumber: Data transaksi harian Bank Indonesia, data kurs Bloomberg, data cadangan devisa Bank Indonesia per Juni 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User