Prosesi Adat Jokowi Injak Kepala Kerbau Picu Polemik, PDIP Meledek dan PSI Pasang Badan
Media kami mencatat, jagat politik Tanah Air kembali bergolak menyusul beredarnya momen bekas Presiden Joko Widodo yang menjalani prosesi adat unik di Lampung. Dalam rangkaian Begawi Cakak Pepadun at
Media kami mencatat, jagat politik Tanah Air kembali bergolak menyusul beredarnya momen bekas Presiden Joko Widodo yang menjalani prosesi adat unik di Lampung. Dalam rangkaian Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi, Jokowi terekam kamera sedang menginjak kepala kerbau yang telah disiapkan di atas hamparan karpet merah. Kunjungan yang merupakan bagian dari safari politik perdananya setelah lengser ini sontak menyedot atensi lantaran muncul beragam tafsir, terutama dari dua kubu berseberangan yang sama-sama memiliki kedekatan emosional dengan mantan Wali Kota Solo itu.
Simbolisme dan Viral di Jagat Maya
Laporan dari lapangan menyebut kehadiran Jokowi di Lampung disambut antusias oleh para pendukung dan kader partai berlambang gajah. Yang menjadi sorotan bukan hanya atribut serba PSI yang dikenakannya, melainkan prosesi menginjak kepala kerbau itu sendiri. Dalam tradisi masyarakat Lampung, ritual ini memiliki makna mendalam terkait kepemimpinan dan transisi status sosial. Namun, konteks budaya itu seketika tercampur dengan nuansa politik praktis saat gambar dan video pendek menyebar liar di media sosial. Publik mulai mengaitkan simbol kerbau dengan identitas partai tertentu yang memakai banteng moncong putih sebagai ikonnya.
"Ini sungguh ironis melihat seorang tokoh yang pernah dibesarkan oleh partai banteng kini justru melakukan ritual yang bisa ditafsirkan macam-macam," ungkap salah satu warganet dalam perbincangan di platform X yang dikutip media kami, Senin (29/6).
Elite PDIP: Jangan Terlalu Dibawa Serius
Berbeda dengan riuhnya spekulasi di dunia maya, petinggi PDIP justru menanggapi fenomena ini dengan nada mengejek. Alih-alih memperlihatkan kemarahan, elite partai banteng memilih untuk tertawa lepas. Menurut penuturan yang dihimpun oleh Lurusin.com, beberapa fungsionaris menilai pengaitan prosesi adat ini dengan politik hanyalah upaya mengada-ada dari pihak yang kehabisan isu. Mereka menekankan bahwa partai kokoh dan tidak goyah hanya karena sebuah interpretasi liar yang dipaksakan ke dalam ranah adat.
Sinyalemen dari internal partai menyiratkan bahwa PDIP tidak ingin menyia-nyiakan energi untuk menanggapi polemik yang dianggap remeh temeh. Namun, tawa yang dilontarkan ini sekaligus menunjukkan adanya jarak yang kian lebar antara mantan presiden dengan partai yang pernah mengusungnya selama puluhan tahun. Analis politik yang berbincang dengan tim kami menilai sikap meledek PDIP adalah bentuk lain dari kegeraman yang dibalut dengan kesan sepele.
PSI Membela dengan Dalih Pelestarian Budaya
Di sisi lain berseberangan, Partai Solidaritas Indonesia langsung pasang badan. Sebagai partai yang dengan jelas dipromosikan oleh Jokowi lewat baliho dan pakaian yang dikenakannya selama safari, PSI menegaskan bahwa prosesi tersebut murni perhelatan budaya adat Lampung yang sudah berlangsung turun-temurun. Melalui pernyataan resmi yang diterima Lurusin.com, elit PSI meminta agar publik berhenti mempolitisasi warisan leluhur yang sarat akan filosofi.
"Ritual itu tidak ada sangkut pautnya dengan politik. Pak Jokowi menghadiri undangan adat sebagai tokoh bangsa. Kalau ada yang mengkaitkan dengan penghinaan terhadap simbol tertentu, itu hanya khayalan mereka sendiri," tegas seorang perwakilan PSI yang namanya tidak ingin disebutkan dalam keterangan kepada media kami.
Pembelaan ini mempertegas posisi PSI yang sedang berusaha keras menjaga citra Jokowi. Apalagi, safari tersebut merupakan momentum penting bagi partai gajah untuk memperkuat basis dukungan di daerah. Mereka berkepentingan memastikan tidak ada distorsi yang dapat mengaburkan makna kunjungan kerja politik itu.
Perang narasi antara PDIP yang tertawa dan PSI yang bersikeras membela memperlihatkan semakin kompleksnya hubungan di koalisi besar pemerintahan saat ini. Media kami mencatat, meski keduanya sama-sama menjadi bagian dari pendukung pemerintah, peristiwa ini menegaskan bahwa aroma rivalitas dan perbedaan tafsir di antara sekutu politik tak kan pernah benar-benar padam.
Comments (0)