Prancis Jadi Panggung Diplomasi Sains Rektor Unhas Memimpin Delegasi Indonesia
Angers, Prancis — Perguruan tinggi Indonesia menegaskan perannya sebagai aktor diplomasi sains global dalam ajang Joint Working Group (JWG) ke-14 Indonesia
Angers, Prancis — Perguruan tinggi Indonesia menegaskan perannya sebagai aktor diplomasi sains global dalam ajang Joint Working Group (JWG) ke-14 Indonesia–Prancis yang berlangsung di Angers, Prancis. Forum dwi-tahunan ini menjadi platform strategis bagi 350 peserta dari 38 perguruan tinggi negeri Indonesia dan 58 universitas Prancis untuk merancang arsitektur kolaborasi akademik bilateral.
Kronologi Penyelenggaraan JWG ke-14
Serangkaian kegiatan JWG ke-14 mencakup 12 lokakarya tematik yang membentang dari isu transisi energi hingga teknologi nuklir. Agenda utama berpusat pada pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kewirausahaan sebagai pilar kerja sama kedua negara.
- 1 Juli 2026: Pembukaan resmi JWG ke-14 di Angers, Prancis. Seluruh delegasi melakukan sesi pleno untuk menyelaraskan agenda strategis kolaborasi Indonesia-Prancis.
- 2 Juli 2026: Pelaksanaan 12 lokakarya paralel. Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), tampil sebagai narasumber utama pada lokakarya maritim bersama Sébastien Reymond dari ENSTA dan François-Régis Boulvert dari Naval Group.
- 3 Juli 2026: Penutupan dan perumusan kesepakatan konkret. Unhas mengamankan perluasan jaringan kemitraan dengan universitas Prancis di bidang teknik kelautan dan ekonomi biru.
Unhas dan Posisi Strategis Coral Triangle
Kehadiran Unhas dalam forum ini melampaui fungsi representasi institusional. Letak geografis Unhas di jantung Coral Triangle, kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, memberikan bobot validitas empiris terhadap setiap argumen ilmiah yang disampaikan delegasinya.
Data empiris dari riset kelautan Unhas menjadi rujukan dalam pembahasan tiga isu utama: pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, keamanan maritim, dan pengembangan ekonomi biru di kawasan Indo-Pasifik. Perspektif ini menempatkan laut bukan semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan laboratorium alami untuk memahami perubahan iklim, konservasi biodiversitas, dan ketahanan pangan global.
“Forum ini menunjukkan bagaimana riset modern semakin menuntut kolaborasi lintas negara. Tantangan seperti transisi energi, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga teknologi nuklir tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi atau satu negara saja,” ujar Prof. Jamaluddin Jompa dalam presentasinya.
Delegasi dan Capaian Konkret
Delegasi Unhas terdiri dari empat akademisi inti: Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Rektor), Prof. Dr. Amir Ilyas, SH, MH, Dr. Ansariadi, dan Dr. Sawedi Muhammad. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia, Rektor Unhas memimpin seluruh delegasi Indonesia sekaligus memanfaatkan forum bilateral ini untuk memperluas jejaring kerja sama.
Hasil konkret dari pertemuan ini mencakup penjajakan perjanjian kemitraan baru dengan sejumlah universitas teknik terkemuka Prancis, khususnya dalam bidang rekayasa kelautan dan teknologi pertahanan maritim. Kolaborasi dengan ENSTA dan Naval Group menandai pergeseran fokus diplomasi sains Indonesia ke arah hilirisasi riset dan transfer teknologi.
Rektor Unhas juga menekankan urgensi kemitraan multidisiplin. Diplomasi sains, dalam kerangka ini, berfungsi sebagai instrumen yang menghubungkan ilmuwan, mahasiswa, industri, dan pemerintah untuk mencari solusi atas tantangan global—dari perubahan iklim hingga transformasi digital.
Comments (0)