Pramono Minta Kuota Khitanan Massal Jakarta Dilipatgandakan pada 2027
Pramono menyampaikan usulan agar kuota peserta khitanan massal di DKI Jakarta ditingkatkan menjadi dua kali lipat mulai tahun 2027. Permintaan itu disampaikan dalam forum evaluasi program kesehatan ma...
Pramono menyampaikan usulan agar kuota peserta khitanan massal di DKI Jakarta ditingkatkan menjadi dua kali lipat mulai tahun 2027. Permintaan itu disampaikan dalam forum evaluasi program kesehatan masyarakat yang digelar pekan ini. Pramono menekankan bahwa peningkatan kuota sangat penting karena tingginya minat warga terhadap layanan khitan gratis yang telah diselenggarakan secara rutin setiap tahun.
Khitanan massal merupakan hasil sinergi antara Perusahaan Air Minum Jaya (PAM Jaya) dan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi DKI Jakarta. Program ini secara konsisten menyasar anak-anak dari keluarga prasejahtera di seluruh wilayah Jakarta. Selain tindakan khitan, kegiatan ini juga menyediakan pemeriksaan kesehatan ringan dan edukasi mengenai kebersihan diri.
Kolaborasi Strategis PAM Jaya dan PKK
Pelaksanaan khitanan massal tidak lepas dari komitmen PAM Jaya sebagai badan usaha milik daerah yang peduli pada kesehatan masyarakat. Perusahaan air minum itu menggandeng PKK karena jaringan organisasi kemasyarakatan tersebut mampu menjangkau hingga tingkat kelurahan dan rukun warga. Kolaborasi ini memungkinkan pendaftaran peserta dilakukan secara merata dan tepat sasaran.
Pramono mengungkapkan bahwa peran PKK sangat vital dalam menyukseskan program ini. “Tanpa dukungan kader-kader PKK di lapangan, kami tidak akan bisa menyentuh keluarga yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya. Setiap tahun, PAM Jaya menyediakan tenaga medis, obat-obatan, dan perlengkapan khitan, sementara PKK bertugas melakukan pendataan calon peserta serta memobilisasi warga.
Dalam pelaksanaannya, acara khitanan massal biasanya digelar di beberapa titik secara bergiliran. Puskesmas, balai warga, dan aula kantor kecamatan kerap menjadi lokasi kegiatan. Para peserta juga mendapatkan bingkisan berisi perlengkapan sekolah dan multivitamin untuk pemulihan pasca-khitan.
Antusiasme Warga Melebihi Kapasitas
Dorongan untuk melipatgandakan kuota muncul karena jumlah pendaftar selalu melampaui kapasitas yang tersedia. Pada gelaran terakhir, panitia hanya mampu menampung 500 anak, sementara data dari PKK mencatat lebih dari 1.200 pendaftar dari seluruh Jakarta. Akibatnya, banyak orang tua yang terpaksa menunda keinginan untuk mengkhitankan anaknya melalui program gratis ini.
Pramono menjelaskan bahwa antusiasme warga merupakan cerminan kebutuhan nyata di lapangan. “Jangan sampai program ini hanya menjadi harapan yang tidak terwujud karena keterbatasan kuota,” tegasnya. Ia menambahkan, biaya khitan di klinik atau rumah sakit swasta bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, sehingga program gratis menjadi satu-satunya pilihan bagi keluarga berpenghasilan rendah.
Selain faktor ekonomi, kesadaran masyarakat tentang pentingnya khitan dari sisi kesehatan juga terus meningkat. Khitan dipercaya dapat mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan menjaga kebersihan alat kelamin. Oleh karena itu, program ini tidak hanya dipandang sebagai ibadah keagamaan, tetapi juga sebagai langkah preventif kesehatan dasar.
Rencana Peningkatan Kuota Mulai 2027
Menanggapi usulan Pramono, perwakilan PKK menyatakan siap mendukung perluasan program. Mereka tengah mengkalkulasi kebutuhan tambahan anggaran dan tenaga medis agar target kuota dua kali lipat bisa direalisasikan pada 2027. Jika saat ini kuota 500 anak, maka diharapkan setidaknya 1.000 anak dapat terlayani setiap tahunnya.
PAM Jaya juga membuka peluang untuk menggandeng lebih banyak pihak, termasuk rumah sakit daerah, organisasi profesi dokter, serta perusahaan swasta melalui program tanggung jawab sosial. “Semakin banyak yang terlibat, semakin ringan beban yang kami pikul, dan semakin banyak anak yang bisa tersenyum,” kata seorang pengurus PKK yang hadir dalam forum tersebut.
Untuk memastikan pemerataan, panitia akan memprioritaskan peserta dari wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi dan akses kesehatan terbatas, seperti Kepulauan Seribu dan sebagian Jakarta Utara. Pendataan akan dimulai lebih awal pada tahun 2026 melalui posyandu dan pertemuan rutin PKK agar tidak ada yang terlewat.
Harapan untuk Kesehatan Anak Jakarta
Program khitanan massal diharapkan tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan derajat kesehatan anak-anak Jakarta. Dengan kuota yang dilipatgandakan, lebih banyak keluarga dapat merasakan manfaat langsung dari kehadiran pemerintah daerah dan BUMD.
Para orang tua yang pernah mengikuti program ini mengaku sangat terbantu. Mereka tidak perlu menjual barang atau berutang demi mengkhitankan anaknya. Salah satu warga Cilincing, misalnya, menuturkan bahwa anaknya bisa ikut khitan massal tahun lalu tanpa biaya sepeser pun, bahkan mendapat bingkisan dan layanan pemeriksaan gratis. Cerita seperti ini yang ingin diperbanyak oleh Pramono melalui peningkatan kuota.
Forum evaluasi menyepakati bahwa usulan ini akan dibawa ke rapat koordinasi selanjutnya antara PAM Jaya, PKK, dan jajaran terkait di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jika semua pihak menyetujui, maka pada tahun 2027 warga Jakarta akan menyaksikan khitanan massal dengan skala yang jauh lebih besar, menjangkau ribuan anak dari berbagai penjuru ibu kota.
Baca juga:
Comments (0)