Aug 24, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Prabowo Ajak 2.600 Akademisi Bangun Ekosistem Inovasi Nasional

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sarasehan Kebangsaan yang mempertemukan 2.600 pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Ah...

Prabowo Ajak 2.600 Akademisi Bangun Ekosistem Inovasi Nasional

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Sarasehan Kebangsaan yang mempertemukan 2.600 pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dari seluruh Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Ahad (28/6/2026). Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) itu mengusung tema “Membangun Ekosistem Riset dan Inovasi Menuju Indonesia Emas 2045”. Kehadiran Presiden menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan pendidikan tinggi sebagai pilar utama transformasi nasional.

Transformasi Kurikulum dan Riset

Dalam pidato kuncinya, Presiden Prabowo menekankan bahwa kompleksitas tantangan global—dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga disrupsi teknologi—menuntut perguruan tinggi untuk segera menata ulang kurikulum. Ia meminta agar setiap program studi merancang proses pembelajaran yang adaptif dan selaras dengan kebutuhan dunia industri. “Kita tidak bisa lagi berkutat dengan cara-cara lama. Kampus harus menjadi pusat riset yang relevan, bukan menara gading yang jauh dari realitas masyarakat,” ujarnya di hadapan ribuan rektor, dekan, dan dosen.

Lebih lanjut, Presiden mengumumkan bahwa dalam RAPBN 2027 pemerintah akan mengalokasikan dana riset yang meningkat signifikan. Dana tersebut diarahkan untuk mendukung proyek inovasi dosen dan mahasiswa, termasuk pembangunan 100 laboratorium terintegrasi di berbagai perguruan tinggi pada tahun anggaran mendatang. Prabowo menargetkan sedikitnya 500 pusat riset unggulan berdiri di kampus-kampus seluruh Indonesia pada 2029. “Kita perlu keberanian berinvestasi pada pengetahuan. Riset adalah fondasi kemandirian bangsa,” tegasnya.

Kolaborasi dan Hilirisasi Inovasi

Selain penguatan internal kampus, Presiden menekankan pentingnya kolaborasi segitiga antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah. Menurutnya, hasil riset tidak boleh berhenti di jurnal ilmiah, melainkan harus dihilirisasi menjadi produk, kebijakan, dan layanan yang berdampak langsung bagi masyarakat. “Ekstraksi ide menjadi inovasi adalah rute yang harus kita percepat. Pemerintah akan memfasilitasi kemitraan riset dan memangkas sekat birokrasi agar proses dari purwarupa ke pasar berjalan lebih lincah,” kata Prabowo.

Pada kesempatan tersebut, Presiden meninjau langsung pameran produk inovasi dari puluhan perguruan tinggi. Mulai dari drone pemantau lahan pertanian, material konstruksi ramah lingkungan, hingga platform pembelajaran digital karya mahasiswa. Prabowo tampak antusias dan mendoakan agar inovasi-inovasi itu segera mendapat tempat di industri nasional. Ia juga menyempatkan berdialog dengan para peneliti muda, mendengarkan kendala mereka, dan berjanji menyederhanakan regulasi pencairan dana riset yang selama ini dikeluhkan banyak akademisi.

Respons Akademisi

Ketua umum forum rektor yang hadir, Prof. Dr. Ahmad Syafii (rekaan), menyambut baik arahan Presiden. Ia menilai bahwa keterlibatan langsung kepala negara dalam sarasehan ini merupakan pengakuan bahwa suara kampus menjadi kunci arah pembangunan. “Kami sangat terinspirasi. Komitmen pendanaan dan keberpihakan kebijakan yang dijanjikan akan menjadi modal besar bagi kami untuk berinovasi lebih agresif,” ucapnya. Syafii menambahkan bahwa MRPTNI akan segera membentuk gugus tugas untuk menerjemahkan arahan Presiden ke dalam peta jalan riset setiap universitas.

Sementara itu, sejumlah dosen yang ditemui di sela acara tetap menyuarakan harapan agar birokrasi kampus dan pemerintah pusat bisa lebih selaras. “Gagasan besarnya sudah sangat baik. Sekarang tantangannya adalah eksekusi di lapangan. Jangan sampai dana besar terhambat prosedur yang berbelit,” kata Dr. Ratna Dewi, dosen dari sebuah universitas negeri di Jawa Timur. Menanggapi hal itu, Menteri Pendidikan yang turut hadir menyatakan akan membentuk satuan tugas percepatan reformasi birokrasi riset.

Pendidikan Karakter dan Kebangsaan

Di sesi akhir pidatonya, Prabowo mengajak seluruh akademisi untuk tidak hanya mengejar keunggulan teknologi, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan nilai-nilai kebangsaan. “Kemajuan bangsa tidak diukur semata dari kecanggihan mesin. Martabat kita di mata dunia justru bersumber dari moral, budi pekerti, dan cinta tanah air,” tegasnya. Pesan ini disambut tepuk tangan panjang oleh peserta sarasehan. Presiden menambahkan bahwa kampus harus menjadi benteng Pancasila dan ruang dialektika yang sehat, yang menjaga persatuan di tengah keragaman.

Sarasehan Kebangsaan 2026 yang berlangsung sehari penuh itu juga diisi dengan diskusi panel, lokakarya, dan sesi jejaring. Topik seperti digitalisasi pembelajaran, kemitraan global, dan peran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah menjadi bahasan hangat. Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Jakarta, sebuah komitmen bersama ribuan akademisi untuk mendukung penuh visi Indonesia Emas melalui riset, inovasi, dan penguatan karakter bangsa. Dengan momentum ini, pemerintah dan kampus diharapkan kian erat bergandengan tangan mewujudkan lompatan kemajuan bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User