Penangkapan Terduga Teroris di Tasikmalaya Terkait Ledakan Dadaha

Aparat antiteror Indonesia berhasil mengamankan seorang terduga pelaku teror di Tasikmalaya. Individu berinisial AAS itu diciduk di kediamannya di Jalan Bebedilan, lingkungan Gunung Koneng, Kelurahan ...

Jul 13, 2026 - 08:51
0 0

Aparat antiteror Indonesia berhasil mengamankan seorang terduga pelaku teror di Tasikmalaya. Individu berinisial AAS itu diciduk di kediamannya di Jalan Bebedilan, lingkungan Gunung Koneng, Kelurahan Cilembang, Kota Tasikmalaya, pada Kamis (tanggal) dini hari. Penangkapan ini merupakan pengembangan dari penyelidikan ledakan yang terjadi di kawasan Dadaha beberapa waktu lalu. Operasi yang digelar oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror itu berlangsung senyap tanpa perlawanan berarti dari tersangka.

Kronologi Operasi Senyap

Berdasarkan informasi yang dihimpun, petugas telah melakukan pengintaian selama hampir sepekan sebelum akhirnya mengeksekusi penangkapan. Sekitar pukul 04.00 WIB, personel bersenjata lengkap mengepung sebuah rumah sederhana di gang sempit Jalan Bebedilan. AAS yang saat itu sedang tidur langsung dibekuk dan tidak memberikan perlawanan. “Operasi berjalan lancar tanpa tembakan,” ujar seorang sumber di lingkungan kepolisian.

Setelah mengamankan terduga, tim Densus langsung menggeledah rumah tersebut dan menemukan sejumlah barang bukti yang diduga terkait aksi terorisme. Di antaranya adalah serbuk belerang, paralon berisi serbuk, rangkaian kabel, beberapa telepon genggam, dan dokumen yang diduga berisi petunjuk perakitan bom. “Barang-barang itu kini sedang diperiksa di laboratorium forensik untuk memastikan komposisinya,” lanjut sumber tadi.

Hubungan dengan Ledakan Dadaha

Ledakan di Dadaha yang menjadi pemicu operasi ini terjadi pada (tanggal) di sebuah area publik yang ramai. Meski hanya mengakibatkan kerusakan kecil pada beberapa bangunan dan satu orang luka ringan, insiden tersebut menyisakan tanda tanya besar. Tim penyidik menemukan kesamaan pola antara serbuk yang digunakan di Dadaha dengan bahan yang disita dari rumah AAS. “Kami yakin ada korelasi kuat, dan AAS bisa menjadi aktor utama atau bagian dari sel yang lebih besar,” ungkap seorang penyidik.

Kawasan Dadaha sendiri dikenal sebagai pusat keramaian di Tasikmalaya, dengan banyak pedagang kaki lima dan fasilitas olahraga. Pilihan lokasi ledakan diduga bertujuan untuk menimbulkan efek kejut maksimal dan menebar ketakutan di masyarakat. Untungnya, karena terjadi saat hari biasa dan bukan jam sibuk, dampaknya bisa diminimalkan.

Respons Pejabat dan Warga Sekitar

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Yulianto, membenarkan penangkapan tersebut dan meminta publik tidak berspekulasi berlebihan. “Kami masih mendalami motif, peran, serta jaringan yang terafiliasi dengan tersangka. Saat ini tersangka dalam pemeriksaan intensif di rumah tahanan Densus 88,” katanya dalam keterangan resmi. Pihak kepolisian juga menjanjikan transparansi dalam proses hukum nantinya.

Sementara itu, warga di sekitar lokasi penangkapan mengaku terkejut. Bapak Jamal (52), ketua RT setempat, menuturkan bahwa AAS selama ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup. “Dia jarang ikut kegiatan warga, kadang hanya terlihat keluar malam. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Kami baru tahu setelah polisi datang,” ujarnya. Warga lain, Ibu Rohanah, menambahkan, “Saat penggerebekan kami mendengar suara keras, dikira perampokan. Ternyata penangkapan teroris.”

Konstelasi Terorisme di Jawa Barat

Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu ladang subur bagi kelompok teror. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan bahwa sepanjang 2025 setidaknya terjadi 12 operasi penangkapan terduga teroris di provinsi ini, melibatkan lebih dari 25 tersangka. Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan kelompok lainnya masih aktif merekrut melalui media sosial dan pertemuan tertutup di kota-kota seperti Bandung, Tasikmalaya, hingga Sukabumi.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Al Makassari, menilai penangkapan AAS memperlihatkan bahwa sel teror di Priangan Timur belum sepenuhnya lumpuh. “Mereka terus beregenerasi dan beradaptasi dengan pendekatan yang lebih low-profile. Masyarakat harus aktif menjadi mata dan telinga bagi aparat,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa deradikalisasi di lapas dan lingkungan masyarakat perlu diperkuat agar benih-benih radikalisme tidak tumbuh kembali.

Himbauan Kewaspadaan

Menindaklanjuti kejadian ini, kepolisian dan pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya dengan melaporkan setiap kegiatan mencurigakan di lingkungan tempat tinggal. “Terorisme adalah musuh bersama. Kami tidak bisa bekerja sendiri; partisipasi aktif warga sangat krusial,” tegas Komisaris Besar Yulianto.

Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Wali Kota menyampaikan apresiasi atas kinerja cepat Densus 88 dan meminta warga tetap tenang serta tidak terprovokasi oleh isu-isu yang belum jelas kebenarannya. “Kami akan terus berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk memastikan Tasikmalaya tetap kondusif,” ujarnya.

Penangkapan AAS menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme selalu mengintai di tengah kehidupan yang tampak normal. Dengan sinergi antara aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga, diharapkan jaringan teror dapat terus dicegah sebelum bertindak.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User