Pekerja Perbaiki Perahu Diterkam Buaya, Tewas Setelah Tiga Hari Hilang
Suasana duka menyelimuti kawasan tepian sungai di pedalaman Kalimantan setelah seorang pekerja perahu, Junaidi (34), ditemukan tak bernyawa setelah tiga ha
Suasana duka menyelimuti kawasan tepian sungai di pedalaman Kalimantan setelah seorang pekerja perahu, Junaidi (34), ditemukan tak bernyawa setelah tiga hari hilang diterkam buaya. Tragedi ini bermula saat ia tengah memperbaiki perahunya yang bocor di aliran Sungai Barito pada Senin pagi, hanya berselang beberapa jam sebelum menjadi sasaran predator ganas.
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan saksi, Junaidi sedang membenamkan diri di air setinggi pinggang untuk menambal lambung perahu kayunya yang mulai lapuk. Tiba-tiba, seekor buaya muara sepanjang empat meter muncul dari bawah permukaan dan langsung menyeret tubuh korbannya ke dasar sungai. Saksi yang berada di tepian hanya bisa berteriak histeris melihat peristiwa tersebut.
“Saya melihat tangannya sempat menggapai-gapai sebelum hilang terseret ke dalam air keruh. Kami semua terkejut dan langsung melapor ke pihak desa,”ujar Rahman, rekan korban yang menyaksikan langsung insiden itu.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan nelayan setempat segera diterjunkan. Namun, derasnya arus sungai dan minimnya penerangan membuat upaya pencarian pada malam pertama tidak membuahkan hasil. Lambung perahu yang setengah selesai masih tersangkut di antara akar bakau menjadi saksi bisu kejadian tragis itu.
Pencarian yang Dramatis
Selama tiga hari penuh, tim pencari menggunakan perahu karet dan jaring perangkap berkeliling hingga radius lima kilometer dari titik kejadian. Kondisi sungai yang dipenuhi lumpur dan vegetasi air menyulitkan proses pencarian. Warga sekitar juga turut membantu dengan melakukan ritual adat untuk 'memanggil' buaya agar mau mengembalikan korban.
Pada hari ketiga, setelah polisi dan tim SAR memperluas area pencarian hingga ke anak-anak sungai kecil, jasad Junaidi akhirnya ditemukan terdampar di sebuah gosong pasir sekitar tujuh kilometer dari lokasi. Ironisnya, jenazahnya masih utuh namun dengan luka parah di bagian perut dan paha. Buaya yang menerkam diduga masih berada di sekitar lokasi dan belum berhasil diamankan.
“Kami mengidentifikasi korban dari pakaian dan gelang besi yang masih melekat di pergelangan tangan. Keluarga langsung histeris begitu mengenali ciri-ciri itu,”kata Kepala BPBD setempat, Suryo Nugroho, saat dihubungi.
Ancaman Predator di Sungai
Kejadian ini bukan yang pertama di aliran Sungai Barito. Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan menyebutkan, tercatat tujuh serangan buaya sepanjang tahun ini, tiga di antaranya berakibat fatal. Meningkatnya populasi buaya muara yang habitatnya mulai terdesak pembukaan lahan menjadi faktor utama eskalasi konflik antara manusia dan predator.
“Buaya sebenarnya tidak suka menyerang manusia secara acak, tetapi jika merasa terancam atau kelaparan karena sumber makanan alami berkurang, mereka akan memangsa apa pun yang ada di dekatnya,” jelas Ahli Herpetologi Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Andi Putra. Ia menambahkan, masyarakat sering abai terhadap larangan beraktivitas di perairan yang diketahui menjadi jalur lintas buaya.
Pemerintah daerah berencana meningkatkan sosialisasi dan pemasangan rambu peringatan di titik rawan, meski realisasinya terkendala minimnya anggaran dan medan sulit. Sementara keluarga korban, khususnya istri Junaidi yang kini harus merawat tiga anaknya sendirian, hanya bisa pasrah dan berharap ada bantuan dari dinas sosial.
[SOCIAL_TWEET]: Detik-detik mencekam saat pekerja perahu diterkam buaya di Kalimantan. Setelah 3 hari pencarian, jasadnya ditemukan dengan luka parah. Habitat predator makin terjepit, warga diminta waspada! #SeranganBuaya #Kalimantan #K3Sungai[SOCIAL_TG]: 🐊⚠️ Tragedi di Sungai Barito: Seorang pekerja perahu tewas setelah diterkam buaya saat memperbaiki perahunya. Jasad ditemukan setelah 3 hari pencarian. Populasi buaya melonjak, warga diimbau ekstra hati-hati.
Comments (0)