Kacamata AR Ubah Suara Jadi Teks Bantu Komunikasi Tunarungu
Inovasi di bidang aksesibilitas kembali hadir. Sebuah perusahaan rintisan teknologi asal Bandung, HearSight, resmi meluncurkan kacamata augmented reality (
Inovasi di bidang aksesibilitas kembali hadir. Sebuah perusahaan rintisan teknologi asal Bandung, HearSight, resmi meluncurkan kacamata augmented reality (AR) yang mampu menerjemahkan suara percakapan menjadi teks secara langsung. Perangkat ini dirancang khusus untuk membantu penyandang tunarungu berkomunikasi dengan lebih mudah dalam lingkungan sehari-hari.
Cara Kerja: Mikrofon, AI, dan Layar Transparan
Kacamata ini dilengkapi mikrofon sensitif yang menangkap suara dari lawan bicara. Suara kemudian diproses oleh chip kecerdasan buatan yang terintegrasi, mengubahnya menjadi teks menggunakan teknologi pengenalan suara speech-to-text dalam waktu kurang dari 0,5 detik. Teks tersebut lantas ditampilkan pada lensa transparan AR, sehingga pengguna tetap dapat melihat lingkungan sekitar sambil membaca kata-kata yang diucapkan. “Kami ingin menciptakan alat yang tidak hanya fungsional, tapi juga menjaga interaksi tatap muka,” ujar CEO HearSight, Rani Kusumadewi.
“Pengguna tidak perlu lagi melihat ke arah ponsel atau alat bantu terpisah. Semua informasi langsung di depan mata, seolah-olah ada subtitle dalam kehidupan nyata.”
Perbandingan dengan Alat Bantu Konvensional
Dibandingkan dengan alat bantu dengar (ABD) atau aplikasi transkrip di ponsel, kacamata AR ini menawarkan kelebihan pada aspek visual dan kecepatan. Tabel berikut menggambarkan perbedaannya:
| Aspek | Alat Bantu Dengar | Aplikasi Ponsel | Kacamata AR HearSight |
|---|---|---|---|
| Cara menangkap suara | Amplifikasi suara | Mikrofon ponsel | Mikrofon terintegrasi AR |
| Output | Suara yang diperkeras | Teks di layar ponsel | Teks di lensa kacamata |
| Keleluasaan interaksi | Masih perlu isyarat | Mengalihkan pandangan | Natural, tanpa alih pandang |
| Latensi | Instan | ~1-2 detik | <0,5 detik |
Kacamata ini juga mendukung lebih dari 60 bahasa, termasuk bahasa daerah seperti Sunda dan Jawa, berkat model AI yang dilatih dengan data lokal. Fitur ini dinilai krusial bagi pengguna di Indonesia yang kaya akan ragam bahasa ibu.
Harapan dan Tantangan
Dewan Nasional Disabilitas menyambut baik inovasi ini, namun mengingatkan pentingnya harga terjangkau dan infrastruktur pendukung. Ketua Komunitas Tuli Indonesia, Surya Saputra, mengatakan “Teknologi ini bisa menjadi jembatan komunikasi yang selama ini belum optimal. Tapi perlu dipastikan juga dukungan untuk pelatihan dan perawatan.”
Sementara itu, HearSight menargetkan produksi massal pada kuartal ketiga 2026 dengan banderol awal Rp5,9 juta per unit. Mereka juga tengah menjajaki kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar alat ini bisa masuk dalam kategori alat bantu kesehatan yang disubsidi pemerintah.
Kacamata AR ini diharapkan tidak hanya memudahkan komunikasi di tempat umum, tetapi juga membuka peluang pendidikan dan kesempatan kerja yang lebih setara bagi penyandang disabilitas pendengaran. “Ini bukan sekadar gadget, ini tentang martabat manusia,” tutup Rani.
[SOCIAL_TWEET]: Kacamata AR ini bisa ubah suara jadi teks langsung di lensa, bantu penyandang tunarungu komunikasi natural. #TechForGood #Aksesibilitas[SOCIAL_TG]: 👓 Startup Bandung luncurkan kacamata AR untuk tunarungu: suara diubah jadi teks <0,5 detik, dukung 60+ bahasa! Simak detailnya.
Comments (0)