PBB Kecam Serangan Rasis Senator Paraguay ke Mbappe: Tindakan Tercela!

Lurusin.com, Jakarta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui kantor hak asasi manusianya secara resmi mengecam keras insiden serangan rasis yang dilonta

Jul 08, 2026 - 01:51
0 0
PBB Kecam Serangan Rasis Senator Paraguay ke Mbappe: Tindakan Tercela!

Lurusin.com, Jakarta – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui kantor hak asasi manusianya secara resmi mengecam keras insiden serangan rasis yang dilontarkan oleh seorang senator Paraguay terhadap bintang Timnas Prancis, Kylian Mbappe. Organisasi internasional tersebut tidak ragu melabeli pernyataan yang dilayangkan politisi Paraguay itu sebagai tindakan yang sangat tercela, mempertegas posisi global bahwa rasisme tidak mendapat tempat sedikit pun dalam gelaran akbar seperti Piala Dunia 2026.

Kecaman ini mencuat menyusul laporan dari kantor berita internasional yang dikonfirmasi oleh pernyataan resmi juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Thameen Al-Kheetan. Dalam keterangannya, Al-Kheetan menekankan bahwa ujaran kebencian yang diarahkan kepada salah satu pesepakbola terbaik dunia itu bukan hanya tidak bermoral, tetapi juga mencerminkan noda gelap yang masih membayangi perhelatan olahraga global.

“Bukan Insiden Tunggal”

Menurut laporan yang dihimpun redaksi Lurusin.com dari berbagai sumber, Al-Kheetan menyoroti bahwa perilaku diskriminatif terhadap Mbappe merupakan bagian dari fenomena yang lebih luas dan berulang. Ia mengkritisi bagaimana komentar tersebut justru muncul dari seorang tokoh publik dan pembuat undang-undang yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mempromosikan kesetaraan. Dalam konferensi pers virtualnya, Al-Kheetan menyampaikan pernyataan tegas:

“Komentar rasis dan merendahkan martabat manusia terhadap pemain sepak bola Prancis Kylian Mbappe oleh senator Paraguay Celeste Amarilla adalah tindakan tercela dan, sayangnya, bukan insiden tunggal.”

Pernyataan ini turut diamini oleh berbagai aktivis hak asasi manusia global. Thameen Al-Kheetan melanjutkan analisisnya dengan menekankan bahwa selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 berlangsung di berbagai stadion, masih terpantau segelintir perilaku tidak pantas bernuansa diskriminasi. Hal ini memantik keprihatinan mendalam terkait langkah-langkah preventif yang seharusnya diambil oleh badan sepak bola tertinggi dunia, FIFA, beserta pemerintah tuan rumah.

Kronologi dan Eskalasi Politik

Insiden ini bermula dari pernyataan kontroversial Senator Celeste Amarilla yang tersebar luas di platform media sosial. Politikus tersebut diduga melontarkan kata-kata yang mendiskreditkan Mbappe berdasarkan warna kulitnya. Sebagai reaksi, gelombang protes langsung berdatangan dari warganet internasional dan komunitas anti-diskriminasi. Alih-alih meredam, perdebatan justru meluas hingga ke ranah politik internasional, memaksa PBB untuk turun tangan langsung mengingat dampak serius ujaran kebencian terhadap kohesi sosial dan integritas olahraga.

Dalam perspektif moral, PBB melalui perwakilannya menggarisbawahi urgensi ekspektasi yang lebih tinggi terhadap pejabat publik internasional. Al-Kheetan secara spesifik meminta agar para pemimpin politik dan figur global tidak tinggal diam. Ia mendesak adanya solidaritas serta langkah hukum yang jelas untuk menindak pelaku kebencian rasial, tanpa memandang pangkat atau jabatan politiknya.

"Para pejabat dan tokoh publik seharusnya memberikan kecaman keras terhadap isu rasisme," tegas Al-Kheetan dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh tim editor Lurusin.com, Selasa (7/7/2026).

Reaksi Global dan Masa Depan Anti-Diskriminasi di Sepak Bola

Kecaman yang dilayangkan PBB ini menjadi catatan penting bagi keamanan dan kenyamanan para atlet di lapangan hijau. Bukan kali ini saja Mbappe menjadi target ujaran kebencian. Sejak awal karirnya, penyerang bertalenta tersebut kerap menjadi sasaran stereotip negatif, terutama saat membela panji Prancis di pentas internasional. Namun, yang membuat insiden ini lebih sensitif adalah posisi pelaku sebagai senator aktif, yang menunjukkan adanya sikap permisif terhadap rasisme di level elit politik Amerika Latin.

Pengamat sepak bola internasional yang dihubungi oleh kontributor Lurusin.com menilai bahwa Piala Dunia 2026 yang digelar besar-besaran di Amerika Utara sejatinya telah dilengkapi dengan kampanye anti-diskriminasi yang ketat. Meski demikian, peristiwa ini membuktikan bahwa akar rumput rasisme seringkali berada di luar stadion, tersembunyi di balik mikrofon para penguasa dan layar gawai masyarakat. Tanpa adanya hukuman yang tegas serta perubahan pola pikir fundamental, PBB khawatir bahwa penghinaan terhadap pemain seperti Mbappe akan terus terulang di kompetisi-kompetisi besar selanjutnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kedutaan Besar Paraguay di Jakarta belum memberikan tanggapan resmi terkait viralnya pernyataan senator mereka. Sementara itu, dukungan moral dan kecaman keras dari PBB ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan diplomatik agar Senator Celeste Amarilla menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, serta menjadi momentum evaluasi bagi FIFA dalam melindungi para bintang sepak bola dari teror verbal berbasis warna kulit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User