Sep 10, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Pakar Kesehatan Rilis Panduan Kritis Hadapi Bahaya Abu Vulkanik

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi kerap kali menjangkau radius puluhan hingga ratusan kilometer dari kawah utama. Fenomena ini membawa ancam

Pakar Kesehatan Rilis Panduan Kritis Hadapi Bahaya Abu Vulkanik

Sebaran abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi kerap kali menjangkau radius puluhan hingga ratusan kilometer dari kawah utama. Fenomena ini membawa ancaman kesehatan serius yang tak kasat mata bagi masyarakat di kawasan terdampak. Berdasarkan investigasi dan analisis toksikologi lingkungan, abu vulkanik bukanlah abu pembakaran biasa, melainkan pecahan batuan beku mikro, kristal silika, dan gas asam vulkanik yang memiliki sifat abrasif serta korosif.

Ketika terhirup, partikel berukuran di bawah 10 mikron (PM10) dan 2,5 mikron (PM2.5) dapat menembus saluran pernapasan bagian dalam hingga alveolus, memicu iritasi akut, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga eksaserbasi asma dan bronkitis. Paparan pada organ penglihatan juga berisiko menyebabkan abrasi kornea yang berpotensi permanen.

"Abu vulkanik tersusun dari serpihan kaca silika yang tajam. Menyeka mata saat terkena debu erupsi sama bahayanya dengan menggosokkan amplas pada lapisan bola mata," tegas pakar keselamatan bencana kesehatan.

Protokol Mitigasi: 9 Langkah Menyelamatkan Diri dari Abu Vulkanik

Untuk menekan risiko morbiditas akibat paparan aerosol vulkanik, otoritas kesehatan merumuskan urutan protokol perlindungan diri secara berjenjang:

  1. Gunakan Masker Partikulat Standar: Prioritaskan penggunaan masker tipe N95, KN95, atau FFP2 yang mampu menyaring partikel mikroskopis secara optimal. Jika terpaksa memakai masker bedah, lapisi dengan kain basah di bagian luar untuk meningkatkan daya tangkap debu.
  2. Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata: Hindari pemakaian lensa kontak selama zona udara terpapar abu vulkanik. Debu yang terperangkap di bawah lensa dapat menggores kornea dan menimbulkan ulkus kornea.
  3. Kenakan Kacamata Pelindung (Goggles): Gunakan kacamata berpelindung samping atau kacamata renang/kerja yang rapat guna mencegah infiltrasi partikel debu halus ke rongga mata.
  4. Tutup Akses Udara Rumah: Segel celah ventilasi, pintu, dan jendela menggunakan kain basah atau selotip tebal guna menghentikan penetrasi debu ke area domestik.
  5. Kenakan Pakaian Tertutup Panjang: Abu vulkanik bersifat asam dan dapat mengiritasi kulit; gunakan pakaian lengan panjang, celana panjang, serta penutup kepala saat terpaksa beraktivitas di luar.
  6. Terapkan Metode Pembersihan Basah: Jangan menyapu abu kering karena akan memicu resuspensi (penerbangan kembali) partikel ke udara. Basahi permukaan sebelum dibersihkan dengan kain pel atau sekop.
  7. Lindungi Pasokan Air dan Makanan: Tutup tandon air, sumur terbuka, dan wadah makanan untuk mencegah kontaminasi senyawa belerang dan logam berat yang menempel pada abu.
  8. Gunakan Larutan Salin Steril: Bersihkan mata dan bilas rongga hidung dengan cairan normal saline (NaCl 0,9%) jika terjadi iritasi ringan, jangan pernah mengucek mata.
  9. Segera Cari Pertolongan Medis: Apabila timbul gejala sesak napas berat, nyeri dada, atau rasa terbakar terus-menerus pada mata, segera evakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Urgensi Kesiapsiagaan Pascabencana

Otoritas kebencanaan mengingatkan bahwa risiko kesehatan tidak langsung hilang begitu erupsi mereda. Debu yang mengendap di jalan raya dan atap bangunan dapat terangkat kembali oleh angin dan aktivitas lalu lintas hingga berminggu-minggu ke depan. Disiplin dalam menerapkan perlindungan fisik tetap menjadi benteng pertahanan utama warga terdampak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User