PARIS — Gelombang protes pelajar terus bergulir di Prancis sejak pekan lalu, ketika remaja di ibu kota dan sejumlah kota lain memblokade gerbang sekolah mereka serta turun ke jalan. Aksi yang bermula secara spontan itu kini menyebar ke sekolah-sekolah di luar Paris, dan salah satu keluhan paling nyaring menyentuh kondisi ruang kelas yang dinilai sudah melewati batas kewajaran.
Di depan Lycée Hélène Boucher, salah satu sekolah menengah di Paris, jurnalis FRANCE 24 Antonia Kerrigan melaporkan langsung dari lokasi. Para murid di sekolah itu menyebut kondisi belajar yang mereka hadapi setiap hari sangat padat: jumlah siswa dalam satu ruang kelas melampaui 36 orang. Angka itu, menurut mereka, bukan keluhan baru, melainkan persoalan yang sudah berulang kali disampaikan tanpa perubahan berarti.
"Kelas dengan lebih dari 36 orang," kata para murid di Lycée Hélène Boucher saat berdialog dengan jurnalis FRANCE 24, menggambarkan situasi yang mereka sebut membelenggu proses belajar.
Kronologi Aksi di Lapangan
Berdasarkan laporan yang terhimpun di lapangan, aksi pelajar berkembang dalam urutan berikut:
- Pekan lalu — Pelajar mulai memblokade pintu masuk sekolah di Paris dan menyuarakan serangkaian keluhan yang menumpuk, termasuk soal kepadatan kelas.
- Beberapa hari berikutnya — Aksi menyebar ke sekolah-sekolah di luar ibu kota, dengan murid menggelar demonstrasi menolak kondisi yang mereka anggap dibiarkan berlarut.
- Saat ini — Demonstrasi belum mereda. Murid bertahan di halaman sekolah sambil terus menyuarakan tuntutan, sementara aktivitas belajar di sejumlah sekolah terganggu.
Para pengunjuk rasa menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan sekadar soal satu angka, melainkan tentang kualitas pendidikan secara keseluruhan. Kelas yang terlalu padat, menurut mereka, membuat guru sulit memberi perhatian per murid, mempersulit diskusi di kelas, dan menurunkan konsentrasi belajar. Keluhan itu muncul di tengah tekanan bertumpuk yang mereka sebut sebagai rangkaian persoalan di ruang sekolah.
Kenapa Angka 36 Jadi Sorotan
Angka 36 siswa per kelas menjadi simbol keluhan karena melampaui ambang yang selama ini dianggap wajar untuk pendidikan menengah. Di ruang kelas sebesar itu, interaksi langsung antara guru dan murid menurun drastis, sementara kebisingan dan distraksi meningkat. Bagi pelajar yang tengah menghadapi ujian dan tekanan akademik, kondisi tersebut dianggap berdampak langsung pada hasil belajar mereka.
Sejumlah murid juga menyoroti bahwa keluhan soal kepadatan kelas telah lama disampaikan melalui jalur resmi, namun belum dijawab dengan kebijakan nyata. Ketidakseimbangan antara jumlah murid dan fasilitas yang tersedia, menurut mereka, mendorong aksi blokade sebagai jalan terakhir untuk mendapat perhatian.
Hingga laporan ini disusun, aksi blokade dan demonstrasi pelajar masih berlangsung di Paris dan wilayah sekitarnya. Belum ada tanggapan resmi yang dipublikasikan menanggapi tuntutan para murid terkait kondisi kelas yang padat tersebut.
Comments (0)