Mengukur Responsivitas Gender di Dunia Korporasi Indonesia

Kesetaraan gender di lingkungan kerja terus menjadi isu strategis yang belum sepenuhnya terwujud. Data global menunjukkan jurang partisipasi dan perlakuan masih lebar, terutama di sektor swasta yang p...

Jul 13, 2026 - 11:35
0 0
Mengukur Responsivitas Gender di Dunia Korporasi Indonesia

Kesetaraan gender di lingkungan kerja terus menjadi isu strategis yang belum sepenuhnya terwujud. Data global menunjukkan jurang partisipasi dan perlakuan masih lebar, terutama di sektor swasta yang peka terhadap dinamika sosial. Indonesia, dengan komitmen pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, membutuhkan perangkat yang tidak sekadar wacana, melainkan mampu menerjemahkan cita-cita inklusivitas ke dalam metrik terukur. Di sinilah lahir sebuah instrumen asesmen baru yang bertujuan mengakselerasi perubahan.

Kerangka Baru untuk Dunia Usaha

Instrumen bernama WISe Index dirancang sebagai alat evaluasi yang mendorong perbaikan berkelanjutan pada praktik bisnis. Tidak seperti audit konvensional yang bersifat statis, WISe Index menawarkan pendekatan dinamis: memetakan posisi perusahaan dalam skala responsivitas gender, kemudian merekomendasikan peningkatan yang dapat dijangkau secara bertahap. Dengan begitu, korporasi tidak hanya dinilai dari kebijakan di atas kertas, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan pekerja perempuan, mulai dari rekrutmen hingga jenjang kepemimpinan.

Kolaborasi antara organisasi kemanusiaan CARE, platform media Tirto.id, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menjadi fondasi pengembangan indeks ini. Ketiga pihak menyatukan keahlian: CARE dengan pengalaman panjang di pemberdayaan ekonomi, Tirto.id dengan kapasitas riset dan jangkauan publik, serta Kemen PPPA yang membawa mandat kebijakan. Sinergi tersebut memastikan WISe Index tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga sah secara regulasi dan konteks sosial.

Mengapa Responsivitas Gender Kian Mendesak

Riset memperlihatkan bahwa perusahaan yang mengabaikan dimensi gender cenderung kehilangan potensi inovasi dan produktivitas. Ketika perempuan menghadapi hambatan struktural—seperti diskriminasi upah, pelecehan, atau terbatasnya akses pelatihan—organisasi turut merugi. Bisnis yang responsif gender terbukti lebih tangguh menghadapi krisis dan memiliki reputasi lebih baik di mata konsumen. Namun, tanpa alat ukur yang jelas, banyak perusahaan hanya bergerak secara sporadis, bahkan sekadar menjalankan formalitas tanpa transformasi sistemik.

WISe Index hadir menjawab kelemahan tersebut. Ia mengurai isu gender menjadi indikator-indikator spesifik, seperti kebijakan cuti orang tua yang setara, transparansi jenjang karir, data komposisi karyawan per gender, serta program pencegahan kekerasan berbasis gender di tempat kerja. Setiap indikator memiliki bobot dan bukti pendukung yang harus disediakan perusahaan. Hasil asesmen kemudian dipublikasikan dalam bentuk peringkat, menciptakan tekanan sehat dari publik sekaligus insentif perbaikan internal.

Lebih dari Sekadar Skor

Yang membedakan WISe Index dari inisiatif serupa adalah fokus pada proses yang berkelanjutan. Perusahaan tidak cukup mendapatkan skor tinggi sekali lalu berhenti; mereka wajib menunjukkan perkembangan periodik. Laporan kemajuan akan diverifikasi secara independen oleh tim riset gabungan. Transparansi menjadi kunci: masyarakat bisa memantau bagaimana korporasi berbenah, sementara investor dan mitra bisnis dapat menjadikan skor ini sebagai bahan pertimbangan etis.

Di tahap awal, sejumlah perusahaan dari berbagai sektor—mulai manufaktur, jasa keuangan, hingga teknologi—telah mengikuti uji coba. Responden awal mengaku mendapatkan peta jalan yang sebelumnya tidak mereka miliki. Misalnya, satu perusahaan menyadari bahwa meskipun memiliki 40 persen pekerja perempuan, hanya 5 persen yang menduduki posisi manajemen senior. WISe Index mengungkap kesenjangan itu dengan data yang tidak terbantahkan, lalu merekomendasikan intervensi seperti program mentoring dan peninjauan ulang kriteria promosi.

Dukungan Regulasi dan Tekanan Pasar

Keterlibatan Kemen PPPA memberi bobot lebih karena sejalan dengan Peraturan Pemerintah tentang Kesetaraan Gender di Dunia Kerja serta Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia. Pemerintah berharap WISe Index nantinya bisa menjadi rujukan bagi kementerian dan lembaga lain dalam menilai kepatuhan dunia usaha. Sementara dari sisi pasar, konsumen generasi muda semakin kritis memilih produk berdasarkan nilai-nilai sosial yang diusung perusahaan. Merek yang abai terhadap keadilan gender berisiko kehilangan loyalitas.

Tekanan tersebut diperkuat oleh konektivitas Tirto.id yang akan menayangkan laporan hasil asesmen secara berkala. Publikasi berbasis data ini diharapkan membentuk diskursus baru: praktik bisnis responsif gender bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari kesehatan korporasi secara keseluruhan. CARE menambahkan dimensi advokasi internasional, memastikan metodologi WISe Index selaras dengan standar global seperti Women's Empowerment Principles dari UN Women.

Jalan Panjang Menuju Kesetaraan

Meski menjanjikan, pengakuan para pengembang bahwa keberhasilan WISe Index sangat bergantung pada partisipasi luas perusahaan. Tanpa keterlibatan masif, perubahan hanya bersifat sektoral dan terbatas. Upaya sosialisasi ke asosiasi pengusaha dan kamar dagang tengah digencarkan. Dukungan insentif fiskal atau pengakuan penghargaan juga digagas agar korporasi lebih termotivasi.

Pada akhirnya, instrumen ini adalah cermin yang diposisikan di hadapan dunia usaha. Bayangan yang tampak memang bisa mengejutkan—mengungkap ketidakadilan yang sebelumnya dianggap wajar. Namun hanya dengan bercermin, perusahaan dapat melihat dengan jujur seberapa besar komitmen mereka terhadap separuh dari populasi dunia. WISe Index bukan titik akhir, melainkan kompas untuk perjalanan koreksi yang tentu masih panjang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User