Menghitung Ulang Harta Karun Maritim
Jakarta - Indonesia selalu bangga menyebut dirinya sebagai negara maritim. Lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa lautan, dengan garis pantai sepanjang hampir 100 ribu kilometer, lebih dari 17 ribu
Jakarta - Indonesia selalu bangga menyebut dirinya sebagai negara maritim. Lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa lautan, dengan garis pantai sepanjang hampir 100 ribu kilometer, lebih dari 17 ribu pulau, dan kekayaan hayati laut yang termasuk terbesar di dunia. Laut bukan hanya ruang yang menghubungkan Nusantara, tetapi juga sumber pangan, energi, perdagangan, hingga identitas kebangsaan. Namun di balik berbagai keunggulan tersebut, tentu ada rasa penasaran, berapa sebenarnya nilai kekayaan laut Indonesia? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung produksi ikan, nilai ekspor, atau investasi di sektor kelautan.
Paradigma Baru Menilai Kekayaan Laut
Selama puluhan tahun, pembangunan kelautan lebih banyak mengukur apa yang dapat diambil dari laut daripada apa yang sesungguhnya diberikan laut kepada kehidupan. Paradigma lama ini cenderung mengeksploitasi sumber daya tanpa memperhitungkan nilai jasa lingkungan yang seringkali tak terlihat.Padahal, jauh sebelum menghasilkan ikan yang ditangkap nelayan atau menjadi destinasi wisata bahari, laut telah menyediakan beragam jasa ekosistem yang menopang kehidupan manusia.Pendekatan penghitungan berbasis jasa ekosistem inilah yang kini mulai dikembangkan oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga riset, untuk menakar harta karun maritim Nusantara secara lebih holistik. Sebagai gambaran, terumbu karang menjadi habitat bagi ribuan spesies ikan dan biota laut yang mendukung produktivitas perikanan. Nilai ekonominya tidak hanya dari ikan yang dipancing, tetapi juga dari potensi farmasi, perlindungan pantai, dan daya tarik wisata selam. Ribuan kilometer persegi terumbu karang yang sehat di Indonesia adalah benteng alami yang menyelamatkan triliunan rupiah dari kerusakan infrastruktur pesisir akibat gelombang badai. Padang lamun, yang sering terabaikan, menjadi tempat pembesaran berbagai biota sekaligus menyimpan karbon biru yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Kemampuan lamun menyerap karbon jauh lebih tinggi per satuan luas dibandingkan hutan tropis, sehingga nilainya dalam konteks krisis iklim global menjadi sangat signifikan. Demikian pula hutan mangrove di sepanjang garis pantai. Ekosistem pesisir ini melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang, menjaga kualitas perairan, serta menopang kehidupan jutaan masyarakat pesisir. Mengukur kekayaan laut Indonesia, menurut laporan yang dihimpun media kami, kini diarahkan pada valuasi ekonomi total yang mencakup nilai pasar langsung, nilai pilihan, nilai warisan, hingga nilai keberadaan. Artinya, laut dihargai bukan hanya sebagai komoditas, melainkan sebagai sistem penyangga kehidupan yang tak tergantikan. Dengan pemahaman ini, setiap keputusan pembangunan—mulai dari reklamasi hingga izin tambang laut—harus mempertimbangkan potensi hilangnya jasa ekosistem yang nilainya mungkin jauh melampaui keuntungan jangka pendek. Inilah cara pandang baru yang menempatkan laut Indonesia bukan sekadar "lumbung" yang harus dikuras, melainkan sebagai modal alam strategis untuk kesejahteraan dan keberlanjutan bangsa.
Comments (0)