Mengapa Pelaut Tak Pernah Menyebut Kiri dan Kanan di Kapal

Di atas kapal, perintah sederhana seperti belok kiri atau belok kanan bisa berubah menjadi bencana. Alasannya mendasar: arah kiri dan kanan selalu bergantung pada ke mana tubuh seseorang menghadap. Du...

Mengapa Pelaut Tak Pernah Menyebut Kiri dan Kanan di Kapal

Di atas kapal, perintah sederhana seperti belok kiri atau belok kanan bisa berubah menjadi bencana. Alasannya mendasar: arah kiri dan kanan selalu bergantung pada ke mana tubuh seseorang menghadap. Dua awak yang berdiri berhadapan akan memahami perintah yang sama dengan cara yang berlawanan. Untuk menghapus kebingungan itu, dunia pelayaran memakai sepasang istilah yang tidak pernah berubah posisinya: port untuk sisi kiri kapal dan starboard untuk sisi kanan kapal, dihitung dari sudut pandang seseorang yang menghadap ke haluan.

Kedua istilah ini bukan sekadar jargon pelaut. Keduanya lahir dari sejarah panjang teknologi kemudi kapal, lalu dipertahankan selama berabad-abad karena terbukti menyelamatkan nyawa di laut. Standar ini berlaku seragam di seluruh dunia, mulai dari perahu nelayan kecil hingga kapal induk bertenaga nuklir.

Starboard: Jejak Dayung Kemudi di Sisi Kanan

Jauh sebelum kapal modern dilengkapi roda kemudi dan sistem navigasi satelit, kapal-kapal kuno dikendalikan dengan sebuah dayung besar yang dicelupkan ke air. Dayung kemudi ini hampir selalu dipasang di sisi kanan buritan, karena mayoritas pelaut, seperti mayoritas manusia, bertangan kanan dan lebih kuat mengayuh dengan tangan kanan. Posisi itu membuat pengendalian kapal lebih stabil dan bertenaga.

Dalam bahasa Inggris Kuno, dayung kemudi disebut stéor, sementara sisi kapal disebut bord. Gabungan keduanya, stéorbord, secara harfiah berarti sisi tempat kemudi berada. Seiring evolusi bahasa selama berabad-abad, kata itu berubah bentuk menjadi starboard yang dikenal hingga hari ini. Menariknya, meski dayung kemudi telah lama digantikan daun kemudi yang terpasang di garis tengah buritan, nama itu tidak ikut pensiun dan justru menjadi istilah resmi internasional.

Port: Nama yang Diganti demi Kejelasan

Sisi kiri kapal awalnya tidak disebut port. Pelaut Inggris abad pertengahan mengenalnya sebagai larboard, yang diperkirakan berasal dari kata yang merujuk pada sisi tempat memuat barang. Masalahnya, larboard dan starboard terdengar nyaris sama, terutama ketika diteriakkan di tengah badai, deru angin kencang, dan hempasan ombak. Salah dengar satu suku kata saja bisa membuat kapal berbelok ke arah yang keliru dan menabrak kapal lain atau karang.

Untuk menutup celah kekeliruan itu, istilah larboard resmi ditinggalkan. Sebagai gantinya dipakai kata port, karena sisi kiri kapal memang sisi yang menempel ke dermaga saat bersandar. Logikanya sederhana: sisi kanan dipenuhi dayung kemudi, sehingga kapal harus merapat dengan sisi kirinya ke pelabuhan agar kemudi tidak hancur terjepit dermaga. Otoritas maritim Inggris mengukuhkan perubahan ini pada abad ke-19, dan negara-negara pelayaran lain kemudian mengikutinya hingga menjadi standar global.

Mengapa Kiri dan Kanan Tetap Ditinggalkan

Alasan utama istilah ini bertahan bukan semata tradisi, melainkan keselamatan. Port dan starboard bersifat mutlak: sisi kiri kapal tetap port meskipun seorang awak menghadap ke buritan, berdiri di anjungan, atau bekerja di ruang mesin tanpa melihat laut. Perintah yang menyebut port tidak menyisakan ruang tafsir sedetik pun, berbeda dengan kata kiri yang maknanya berubah mengikuti arah hadap pendengar.

Kepastian ini menjadi tulang punggung aturan pelayaran internasional. Regulasi pencegahan tubrukan di laut menetapkan kapal yang datang dari sisi starboard harus diberi prioritas, dan setiap kapal wajib menyalakan lampu merah di sisi port serta lampu hijau di sisi starboard pada malam hari. Dari kombinasi cahaya itu, nahkoda dapat membaca arah gerak kapal lain dalam kegelapan total dan memutuskan manuver yang tepat tanpa perlu bertukar kata lewat radio.

Dalam kondisi darurat, seperti ancaman tabrakan, cuaca buruk, atau evakuasi, instruksi harus dipahami serempak oleh puluhan awak yang menghadap ke berbagai arah. Satu kata yang ambigu bisa membuyarkan seluruh koordinasi dan mengubah situasi terkendali menjadi malapetaka. Karena itu pula istilah yang sama diadopsi dunia penerbangan untuk menyebut sisi kiri dan kanan pesawat.

Warisan yang Masih Berlaku

Dari dayung kemudi pelaut zaman Saxon hingga anjungan kapal kontainer raksasa, port dan starboard menunjukkan bagaimana kebutuhan praktis membentuk bahasa. Istilah yang lahir dari keterbatasan teknologi ribuan tahun lalu justru menjadi standar keselamatan global karena ketegasannya. Selama manusia masih berlayar, kata kiri dan kanan akan tetap ditinggalkan di darat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User