CIREBON — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan program revitalisasi sekolah dasar di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi langkah konkret pemerintah dalam membenahi fasilitas belajar yang selama ini dinilai belum merata. Pernyataan itu disampaikan saat meninjau langsung sejumlah sekolah dasar yang menjadi sasaran program revitalisasi di wilayah pesisir Pantura tersebut.
Dalam kunjungan kerja itu, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa revitalisasi bukan sekadar pengecatan ulang bangunan, melainkan upaya menyeluruh memperbaiki kualitas ruang belajar, sanitasi, perpustakaan, hingga sarana penunjang kegiatan siswa. Menurutnya, kualitas infrastruktur pendidikan berbanding lurus dengan kualitas proses pembelajaran yang diterima anak-anak.
"Revitalisasi ini bukan proyek seremonial. Ini soal memastikan anak-anak kita belajar di ruang yang layak, aman, dan mendukung tumbuh kembang mereka," ujar Abdul Mu'ti di sela peninjauan.
Kronologi Kunjungan dan Peninjauan Lapangan
- Kedatangan rombongan: Mendikdasmen tiba di Kabupaten Cirebon bersama jajaran pejabat kementerian dan dinas pendidikan setempat untuk memulai rangkaian peninjauan.
- Peninjauan sekolah sasaran: Rombongan mendatangi sejumlah SD yang dinilai memiliki kerusakan bangunan cukup signifikan, mulai dari atap bocor, ruang kelas tidak layak, hingga keterbatasan toilet.
- Dialog dengan guru dan siswa: Abdul Mu'ti menyempatkan berdialog langsung dengan para guru serta siswa untuk mendengar kendala pembelajaran sehari-hari.
- Pemaparan program: Dinas pendidikan memaparkan progres revitalisasi, termasuk target penyelesaian dan jumlah sekolah yang masuk daftar prioritas.
- Penegasan komitmen: Menteri menutup kunjungan dengan menegaskan pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi mengawal program hingga tuntas.
Program revitalisasi SD sendiri menjadi salah satu agenda prioritas kementerian dalam memperkuat pendidikan dasar. Pemerintah menargetkan perbaikan menyeluruh pada sekolah-sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat, terutama di daerah yang masih tertinggal secara infrastruktur.
Fasilitas Belajar Jadi Indikator Kualitas
Dalam keterangannya, Abdul Mu'ti menyoroti pentingnya keberadaan fasilitas dasar seperti air bersih, toilet terpisah, dan ruang kelas yang memadai. Menurutnya, banyak persoalan pembelajaran—mulai dari rendahnya konsentrasi hingga tingginya angka putus sekolah—kerap berakar pada lingkungan belajar yang tidak layak.
Ia juga meminta pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan anggaran pusat, tetapi turut mengalokasikan dana untuk pemeliharaan sekolah pasca-revitalisasi. Pemeliharaan berkelanjutan, kata dia, menjadi kunci agar perbaikan tidak cepat rusak atau sia-sia.
- Prioritas perbaikan: ruang kelas, sanitasi, perpustakaan, dan area bermain siswa.
- Fokus wilayah: sekolah dengan kerusakan bangunan berat di daerah tertinggal.
- Harapan: sinergi pusat-daerah serta pemeliharaan jangka panjang.
Pengamat pendidikan menilai revitalisasi ini sebagai langkah tepat, namun mengingatkan agar pelaksanaannya diawasi ketat demi mencegah penyimpangan anggaran. Transparansi dalam pengadaan dan pelaporan progres dinilai wajib dibuka kepada publik, terutama di daerah yang menjadi sasaran program.
Dengan adanya kunjungan kerja ini, pemerintah berharap program revitalisasi SD di Kabupaten Cirebon dapat menjadi percontohan bagi daerah lain. Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pembenahan fasilitas belajar adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia, bukan sekadar belanja infrastruktur semata.
Comments (0)