Sep 29, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Cek Fakta

Rektor UIN Sunan Kalijaga Sebut Empat Kemampuan Berpikir Fondasi Era AI

YOGYAKARTA — Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggerus berbagai profesi, dunia pendidikan dituntut tidak sekadar mencetak lulusan

Rektor UIN Sunan Kalijaga Sebut Empat Kemampuan Berpikir Fondasi Era AI

YOGYAKARTA — Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggerus berbagai profesi, dunia pendidikan dituntut tidak sekadar mencetak lulusan yang cepat beradaptasi dengan teknologi. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Noorhaidi Hasan, menegaskan bahwa ada fondasi yang jauh lebih mendasar dan tak boleh diabaikan: empat kemampuan berpikir manusia.

Pernyataan itu disampaikan Noorhaidi dalam sebuah forum akademik di kampusnya. Ia menyebut keempat kemampuan tersebut sebagai kompas utama yang harus ditanamkan kepada generasi muda, terutama ketika mesin-mesin cerdas mulai mengambil alih pekerjaan rutin dan repetitif.

Menurutnya, AI memang mampu memproses data jauh lebih cepat dari manusia, tetapi ia tidak memiliki kesadaran, empati, dan kemampuan menilai secara etis. Di titik inilah pendidikan tinggi harus memainkan peran strategisnya.

Empat Pilar Kemampuan Berpikir

Dalam paparannya, Noorhaidi merinci empat kemampuan berpikir yang ia yakini sebagai fondasi utama pendidikan modern. Keempatnya bukanlah keterampilan teknis yang bisa usang dalam hitungan bulan, melainkan kapasitas kognitif yang bertahan sepanjang hidup.

  • Berpikir kritis — kemampuan mengurai informasi, mempertanyakan asumsi, dan membedakan data valid dari hoaks yang kini berseliweran di ruang digital.
  • Berpikir kreatif — kapasitas melahirkan gagasan orisinal yang tidak bisa direplikasi mesin, termasuk kemampuan menghubungkan disiplin ilmu yang tampak tak berhubungan.
  • Berpikir sistematis — keterampilan melihat persoalan secara utuh dan memahami keterkaitan antar-elemen, bukan sekadar potongan-potongan informasi lepas.
  • Berpikir etis — kemampuan menimbang baik-buruk sebuah tindakan, sesuatu yang kerap absen dalam logika algoritma AI.

Ia menekankan bahwa keempat kemampuan itu harus menjadi ruh dalam setiap kurikulum, bukan sekadar mata kuliah pelengkap. Menurutnya, kampus tidak boleh terjebak pada orientasi nilai dan ijazah semata.

Sinyal Bahaya Ketergantungan pada AI

Noorhaidi juga menyoroti bahaya tersembunyi dari penggunaan AI secara berlebihan di kalangan mahasiswa. Kemudahan mendapat jawaban instan, katanya, bisa melumpuhkan otot berpikir jika tidak diimbangi dengan disiplin intelektual.

"AI itu alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Kalau mahasiswa hanya menyalin jawaban mesin tanpa mengkritisi, yang lahir bukan lulusan cerdas, melainkan mesin fotokopi yang hidup."

— Prof Noorhaidi Hasan, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ia mendorong para dosen untuk mendesain ulang metode pembelajaran, misalnya dengan memperbanyak studi kasus, diskusi terbuka, dan tugas yang menuntut penalaran tingkat tinggi. Penilaian pun harus bergeser dari sekadar hafalan menuju evaluasi proses berpikir.

Pendekatan itu dinilainya relevan bukan hanya untuk perguruan tinggi, tetapi juga pendidikan dasar dan menengah. Fondasi berpikir, ujarnya, harus dibangun sejak dini agar tidak terlambat ketika peserta didik berhadapan dengan realitas kerja yang berubah cepat.

Relevansi bagi Dunia Kerja

Data sejumlah lembaga riset menunjukkan bahwa kebutuhan industri terhadap keterampilan analitis dan kreatif terus meningkat, sementara pekerjaan rutin kian rentan digantikan otomasi. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa kemampuan berpikir menjadi modal paling aman di pasar kerja.

Noorhaidi mengingatkan bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sekadar mengikuti pasar, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter. Menurutnya, AI bisa menjadi mitra produktif jika manusia tetap memegang kendali atas pertimbangan nilai.

Ia menutup dengan pesan agar mahasiswa tidak alergi terhadap teknologi, namun juga tidak menyembahnya. Keseimbangan antara penguasaan alat dan ketajaman nalar, tegasnya, adalah kunci bertahan di era yang serba cepat ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hafiz-rahman

Data Journalist. Mengungkap fakta melalui data. Spesialisasi: analisis forensik digital.

Comments (0)

User