Maulana Wiga Resmi Pimpin STARFINDO Periode 2026-2029
Jakarta – Maulana Wiga resmi terpilih sebagai Ketua Umum Startup for Industry Indonesia (STARFINDO) untuk masa bakti 2026–2029 dalam sebuah pemilihan yang berlangsung di Jakarta. Bersama Yosef Adhitya Duta Dewangga yang menduduki posisi Wakil Ketua U
Jakarta – Maulana Wiga resmi terpilih sebagai Ketua Umum Startup for Industry Indonesia (STARFINDO) untuk masa bakti 2026–2029 dalam sebuah pemilihan yang berlangsung di Jakarta. Bersama Yosef Adhitya Duta Dewangga yang menduduki posisi Wakil Ketua Umum, keduanya disahkan melalui Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum STARFINDO Nomor 037/15.STARFINDO/VII/2026. Proses pemilihan ini menandai babak baru dalam perjalanan organisasi yang dibentuk untuk menjadi jembatan antara inovasi startup dengan kebutuhan transformasi sektor industri nasional.
STARFINDO merupakan asosiasi nasional yang secara resmi berada di bawah binaan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Didirikan pada tahun 2020, organisasi ini menghimpun lebih dari 180 startup berbasis teknologi yang fokus pada pengembangan solusi untuk sektor manufaktur, logistik, pangan, otomotif, dan industri berat lainnya. Misi utamanya adalah mendorong adopsi teknologi digital di kalangan pelaku industri tradisional sekaligus membuka akses pasar bagi para pelaku rintisan teknologi. Sejak awal berdiri, STARFINDO aktif menyelenggarakan program business matching, akselerasi, dan advokasi kebijakan guna memperkuat ekosistem startup nasional yang terus berkembang.
Pemilihan Ketua Umum kali ini digelar dalam rangkaian Musyawarah Nasional STARFINDO yang dihadiri oleh perwakilan anggota dari berbagai daerah di Indonesia. Maulana Wiga terpilih setelah melalui proses demokratis yang melibatkan pemungutan suara anggota. Meskipun tidak diumumkan secara terbuka perolehan suara masing-masing kandidat, hasil pemilihan ini dianggap mencerminkan kepercayaan anggota terhadap visi dan pengalaman Wiga. Yosef Adhitya Duta Dewangga, yang mendampingi Wiga sebagai wakil, dikenal sebagai praktisi industri teknologi dengan rekam jejak di bidang platform manufaktur digital dan manajemen rantai pasok.
Terpilihnya Maulana Wiga menjadi bukti nyata bahwa talenta dari daerah mampu tampil memimpin di tingkat nasional. Berasal dari Sumatra Barat, Wiga mengawali kiprahnya sebagai pendiri startup yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk optimasi produksi pada industri kecil dan menengah. Pengalamannya membangun perusahaan rintisan dari nol di luar pusat ekonomi utama memberikan pemahaman mendalam tentang tantangan nyata yang dihadapi pelaku startup di daerah, sekaligus membuka perspektif baru tentang bagaimana inovasi dapat tumbuh secara inklusif di seluruh wilayah Indonesia. "Amanah ini adalah tanggung jawab besar untuk membawa startup Indonesia naik kelas," ujar Wiga dalam pidato perdananya di hadapan anggota dan para pemangku kepentingan yang hadir.
Di bawah kepemimpinannya, STARFINDO akan mengusung tiga pilar utama: pertama, memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, investor, dan pelaku startup guna mempercepat adopsi teknologi di sektor industri. Kedua, mendorong pengembangan kompetensi sumber daya manusia melalui program inkubasi dan akselerasi yang terstruktur. Ketiga, memperluas akses pendanaan bagi anggota dengan menggandeng lebih banyak lembaga keuangan dan modal ventura, termasuk mendorong skema pendanaan campuran (blended finance) yang melibatkan dana publik dan swasta. Wakil Ketua Umum Yosef Adhitya menambahkan, "Kami akan memastikan bahwa STARFINDO menjadi simpul utama yang menghubungkan startup dengan kebutuhan konkret industri manufaktur nasional, terutama di era transformasi digital yang semakin kompetitif."
Konteks industri startup Indonesia saat ini menunjukkan dinamika yang terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, jumlah startup di Indonesia mencapai lebih dari 2.500 pada tahun 2025, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto yang diperkirakan menembus angka Rp 400 triliun. Namun, tantangan masih mengemuka, terutama dalam hal pendanaan tahap lanjut, kesenjangan akses teknologi antara Pulau Jawa dan daerah lain, serta rendahnya tingkat adopsi solusi digital di sektor industri padat karya. STARFINDO dalam posisinya sebagai asosiasi binaan Kementerian Perindustrian memiliki peran strategis untuk menjawab tantangan tersebut, khususnya dengan mendorong proyek percontohan (pilot project) antara startup dan perusahaan industri besar maupun BUMN.
Analisis dampak dari kepemimpinan baru ini cukup signifikan. Kolaborasi yang lebih erat antara STARFINDO dan Kementerian Perindustrian diharapkan mampu mempercepat implementasi kebijakan seperti Making Indonesia 4.0 dan peta jalan transformasi digital manufaktur. Keberhasilan program-program STARFINDO di bawah kepemimpinan Wiga akan diukur dari meningkatnya jumlah startup yang berhasil melakukan proof of concept dengan perusahaan industri, peningkatan investasi di sektor startup berbasis industri, serta terbukanya lapangan kerja baru di bidang teknologi. Di sisi lain, tantangan berupa konsolidasi internal organisasi pascapemilihan dan perbedaan ekspektasi antaranggota dari berbagai daerah harus dikelola secara inklusif agar visi bersama tidak terfragmentasi.
Ke depan, STARFINDO menargetkan pendirian lima pusat kolaborasi regional di Medan, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Balikpapan untuk mendekatkan layanan asosiasi kepada anggota di luar Jakarta. Langkah ini dinilai krusial mengingat potensi sektor industri pengolahan yang tersebar di berbagai wilayah. Dengan demikian, masa bakti 2026–2029 akan menjadi periode penentuan bagi STARFINDO untuk membuktikan diri sebagai katalisator utama dalam mendorong kemandirian teknologi sektor industri nasional. "Kami tidak hanya ingin menjadi wadah pertemuan, tetapi motor penggerak yang mendorong startup Indonesia menghasilkan solusi nyata bagi industri," tegas Wiga menutup pidatonya.
Comments (0)