Pendar cahaya temaram di dalam ruang pameran Museum AGSA memantulkan kilau keemasan dari bilah-bilah besi tua yang tertata rapi di balik kaca pelindung. Di hadapan deretan artefak berharga tersebut, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamayanti Putri, tertegun lama. Tatapannya tertuju pada sebilah keris legendaris peninggalan Kesultanan Bima yang memiliki lekuk indah dan pamor yang khas—sebuah bukti nyata keagungan peradaban besi tempa Nusantara di masa lampau.
Kunjungan Wagub NTB ke museum ini bukan sekadar agenda protokoler biasa, melainkan sebuah penelusuran mendalam terhadap jejak sejarah kebudayaan lokal yang kian tergerus zaman. Dalam peninjauan tersebut, kekayaan filosofi dan keahlian kriya logam para empu Bima abad lampau menjadi sorotan utama yang menyita perhatian publik dan pemerhati budaya.
Jejak Peradaban Besi Tempa Kesultanan Bima
Keris Bima memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta tosan aji Nusantara. Berbeda dengan keris Jawa atau Bali pada umumnya, senjata tradisional dari tanah Mbojo ini menyimpan karakteristik estetika dan keandalan metalurgi yang unik. Penggunaan bahan meteorit serta teknik tempa lipat melapis menghasilkan pola pamor yang memikat sekaligus tangguh secara fungsi fisik.
Saat mengamati langsung salah satu koleksi mahakarya abad ke-17 di Museum AGSA, Indah Dhamayanti Putri tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya terhadap warisan leluhurnya tersebut.
"Ini bukan sekadar bilah besi kuno. Di setiap lekuk dan pamor keris Bima ini, tersimpan martabat, spiritualitas, dan kecanggihan teknologi para leluhur kita yang luar biasa. Sangat membanggakan sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua," ujar Indah di sela-sela kunjungannya.
Analisis Visual: Membedakan Karakteristik Keris Nusantara
Untuk memahami mengapa koleksi keris Bima di Museum AGSA ini begitu istimewa, penting untuk melihat komparasi anatomi dan nilai estetika antara tradisi keris Bima dengan wilayah lain di Indonesia:
| Parameter Stuktural | Keris Kesultanan Bima | Keris Tradisi Jawa / Bali |
|---|---|---|
| Bentuk Hulu (Gagang) | Cenderung menyerupai figur burung sampali atau ukiran khas Bima bertatahkan perak/emas. | Dominan figur Jawa Demam, Ukiran Tunggak Semi, atau figur Deva (Bali). |
| Warangka (Sarung) | Gaya Langgay khas Bima dengan ukiran floral melayu-islamic yang tegas. | Gaya Gayaman, Ladrang, atau Sampir Bali yang lebih lebar melengkung. |
| Karakter Besi & Pamor | Besi kelabu padat, pamor dominan bertema alam dan keberanian tempur. | Pamor beragam dengan dominasi nuansa spiritualitas dan simbolisme status sosial. |
Tantangan Preservasi dan Ancaman Kepunahan Artefak
Meskipun memiliki nilai sejarah tinggi, penyelamatan artefak seperti keris Bima menghadapi tantangan besar. Banyak pusaka bernilai sejarah tinggi yang jatuh ke tangan pengumpul pribadi luar negeri atau rusak karena kurangnya perawatan terstandar museum. Kehadiran Museum AGSA dalam merawat dan memamerkan keris-keris ini dinilai sebagai langkah krusial dalam menjaga mata rantai sejarah agar tidak terputus.
Peneliti kebudayaan menilai bahwa ketertarikan pejabat publik seperti Wagub NTB harus ditindaklanjuti dengan regulasi perlindungan benda cagar budaya yang lebih ketat. "Tanpa intervensi kebijakan dan edukasi yang masif kepada generasi muda, identitas budaya yang terkandung dalam bilah-bilah pusaka ini terancam hanya tinggal cerita di buku sejarah," ungkap seorang kurator independen yang mendampingi kunjungan tersebut.
Di akhir kunjungannya, Wagub NTB menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung inventarisasi, restorasi, serta promosi museum sebagai sarana edukasi publik. Koleksi keris Bima di Museum AGSA kini menjadi bukti nyata bahwa seni tempa masa lalu adalah warisan adiluhung yang wajib dilestarikan demi menjaga martabat bangsa.
Comments (0)