Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Laksamana Sukardi, Ekonom yang Dua Kali Duduki Kursi Menteri BUMN

Laksamana Sukardi tercatat dalam sejarah pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia sebagai salah satu menteri yang paling identik dengan upaya pembenahan sektor tersebut. Ia menjalani dua ...

Laksamana Sukardi, Ekonom yang Dua Kali Duduki Kursi Menteri BUMN

Laksamana Sukardi tercatat dalam sejarah pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia sebagai salah satu menteri yang paling identik dengan upaya pembenahan sektor tersebut. Ia menjalani dua periode jabatan menteri yang membidangi BUMN pada dua era pemerintahan berbeda, yakni di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Sukarnoputri. Latar belakangnya sebagai ekonom dan politikus menjadikannya salah satu figur yang kerap menjadi rujukan dalam diskusi kebijakan ekonomi nasional.

Latar Belakang Ekonomi dan Politik

Laksamana Sukardi lahir di Jakarta pada 1 Oktober 1956. Sejak muda, ia menekuni dunia ekonomi dan keuangan, kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Stanford University, Amerika Serikat. Sebelum berkarier di pemerintahan, ia banyak berkecimpung di dunia perbankan dan sektor keuangan. Kombinasi antara pengalaman profesional dan kedekatannya dengan dunia politik membuatnya diperhitungkan sebagai salah satu ekonom yang memahami seluk-beluk korporasi dan kebijakan publik. Pengalaman akademik dan profesionalnya menjadi modal ketika ia akhirnya terjun ke panggung politik nasional pada akhir 1990-an. Namanya mulai mencuat ketika ia masuk dalam lingkaran penasihat ekonomi Megawati Sukarnoputri, yang saat itu menjadi tokoh sentral Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Pada Pemilu 1999, ia terlibat dalam penyusunan program ekonomi partai tersebut. Perannya sebagai ekonom yang dekat dengan pimpinan partai membawanya ke jajaran pemerintahan setelah Megawati dan PDI-P memenangkan pemilu tersebut.

Reformasi BUMN Pasca-Krisis

Langkah-langkah pembenahan yang dijalankan pada era kepemimpinannya tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi Indonesia pasca-krisis 1998. Banyak BUMN saat itu mengalami kerugian besar, beban utang menumpuk, dan sebagian menghadapi ancaman kebangkrutan. Dalam kondisi tersebut, pemerintah dituntut untuk mengambil langkah-langkah penyehatan, mulai dari restrukturisasi utang, perbaikan manajemen, hingga kebijakan divestasi. Kebijakan-kebijakan ini diambil dengan tujuan jangka panjang agar BUMN mampu kembali menjadi sumber pendapatan negara yang sehat, bukan beban yang terus menggerus anggaran.

Kiprah Pertama di Kabinet Persatuan Nasional

Setelah Pemilu 1999, Laksamana Sukardi diangkat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN dalam Kabinet Persatuan Nasional yang dibentuk Presiden Abdurrahman Wahid pada akhir Oktober 1999. Pada masa itu, Indonesia baru saja keluar dari krisis ekonomi yang menghantam sektor perbankan dan korporasi, termasuk banyak perusahaan pelat merah. Ia menghadapi tugas besar untuk membenahi BUMN yang banyak mengalami kerugian dan membutuhkan restrukturisasi. Upaya pembenahan dilakukan di tengah tekanan fiskal yang berat, sehingga setiap kebijakan harus diarahkan pada efisiensi dan pengurangan beban negara. Dalam masa jabatannya, pendekatan yang ia dorong menekankan perbaikan tata kelola perusahaan, transparansi pengelolaan, serta penyehatan keuangan BUMN. Kiprahnya di kabinet tersebut berakhir pada tahun 2000, sebelum ia kembali dipercaya mengemban portofolio yang sama pada pemerintahan berikutnya.

Kembali Memimpin Kementerian BUMN (2001–2004)

Ketika Megawati Sukarnoputri resmi menjadi presiden pada pertengahan 2001, Laksamana Sukardi kembali masuk kabinet. Ia dipercaya menjabat Menteri Negara BUMN dalam Kabinet Gotong Royong yang dibentuk pada Agustus 2001. Periode ini menjadi bagian paling panjang dari kariernya di pemerintahan. Selama menjabat, ia mendorong kebijakan restrukturisasi dan pembenahan BUMN secara lebih sistematis. Program divestasi saham perusahaan negara, perbaikan struktur permodalan, serta penguatan profesionalisme manajemen menjadi arah kebijakan yang dijalankan. Kebijakan pada periode ini juga diarahkan untuk memperkuat akuntabilitas, termasuk melalui keterbukaan informasi pengelolaan perusahaan negara kepada publik. Pendekatan tersebut ditempuh di tengah tuntutan agar BUMN lebih efisien, transparan, dan tidak lagi menjadi beban bagi anggaran negara. Meski kebijakan divestasi kerap menuai perdebatan di parlemen dan publik, langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menyehatkan keuangan perusahaan pelat merah.

Jejak Setelah Menjabat

Setelah masa jabatannya berakhir pada 2004, Laksamana Sukardi tidak lagi memegang jabatan di pemerintahan. Namun, namanya tetap hadir dalam berbagai diskusi kebijakan ekonomi, baik di forum akademik maupun di ruang-ruang publik. Ia kerap menyampaikan pandangan mengenai arah pengelolaan BUMN, kebijakan fiskal, dan daya saing ekonomi nasional. Sebagian pandangannya juga dituangkan dalam bentuk tulisan yang membahas pengalaman serta arah kebijakan ekonomi Indonesia. Sebagai figur yang pernah duduk di posisi puncak pengambil kebijakan, komentar-komentarnya tentang perkembangan ekonomi kerap menjadi perhatian. Di internal partainya, ia juga tetap terlibat dalam pembahasan program-program ekonomi. Kiprah panjangnya di dunia ekonomi dan pemerintahan menjadikannya salah satu tokoh yang kerap dirujuk ketika membahas sejarah pengelolaan perusahaan negara di Indonesia.

Perjalanan Laksamana Sukardi dari ekonom, politikus, hingga dua kali menjabat menteri yang membidangi BUMN mencatatkan namanya dalam babak penting pembenahan perusahaan negara di Indonesia. Meskipun kebijakan yang diambilnya pada masanya tidak lepas dari perdebatan, jejak pengabdiannya di sektor BUMN tetap menjadi bagian dari catatan sejarah pemerintahan Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sinta-pradana

Fact-Check Editor. Verifikator bersertifikasi IFCN. Memeriksa klaim viral dan disinformasi.

Comments (0)

User