Malang — Tidak semua pengabdian dimulai dari kelapangan hidup. Sebagian justru lahir dari keterbatasan yang membentuk seseorang sejak lama. Itulah gambaran yang paling dekat dengan kisah Sulaiman Sulang, pria yang akrab disapa Pak Sule, penulis buku-buku bertema produktivitas yang kini memilih mengabdikan diri sebagai wali asuh di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang.
Keputusan itu tidak datang secara tiba-tiba. Sepanjang hidupnya, Pak Sule terbiasa bergulat dengan berbagai kesulitan yang mengajarinya arti perjuangan, kesabaran, dan tekad. Dari pengalaman itulah ia membangun pemahaman bahwa pendidikan dan kebiasaan baik adalah dua hal yang paling mungkin membuka pintu perubahan bagi siapa pun, termasuk mereka yang lahir dalam kondisi serba terbatas.
Menulis untuk Mengubah Hidup
Sebelum dikenal luas di lingkungan Sekolah Rakyat, Pak Sule lebih dulu dikenal sebagai penulis. Melalui buku-bukunya, ia menyuarakan gagasan tentang cara membangun kebiasaan produktif, mengelola waktu, dan menjaga konsistensi dalam menjalani keseharian. Tulisan-tulisannya ditujukan kepada siapa saja yang ingin memperbaiki arah hidup, khususnya generasi muda yang baru memulai perjalanan. Ia percaya bahwa setiap orang, apa pun titik awalnya, memiliki kesempatan untuk membangun versi terbaik dari dirinya.
Menjadi penulis produktivitas bagi Pak Sule bukan sekadar profesi. Baginya, gagasan yang ia tulis harus teruji dalam kenyataan. Karena itu, ketika kesempatan untuk turun langsung ke tengah anak-anak di Sekolah Rakyat terbuka, ia menyambutnya sebagai momentum untuk membuktikan bahwa prinsip yang selama ini ia tulis benar-benar dapat dijalankan dalam kehidupan nyata. Baginya, gagasan tanpa praktik hanyalah rangkaian kata yang kehilangan nyawa.
Sekolah Rakyat dan Peran Wali Asuh
Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan yang dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin. Lembaga ini memberikan akses pendidikan bermutu secara gratis dengan sistem berasrama, sehingga para siswa mendapat pendampingan secara penuh. Di Kabupaten Malang, keberadaan Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi keluarga yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas. Konsep ini sejalan dengan upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Dalam sistem itu, wali asuh memegang peran yang sangat penting. Mereka bertindak sebagai orang tua pengganti yang mendampingi siswa dalam keseharian di asrama, mulai dari urusan belajar, pembentukan karakter, hingga kebiasaan hidup yang sehat dan disiplin. Kehadiran wali asuh yang dekat dan konsisten menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan di sekolah berasrama.
Keteladanan di Balik Ruang Kelas
Di titik inilah pengalaman Pak Sule sebagai penulis produktivitas menemukan wujudnya. Ia tidak hanya mendampingi siswa dalam urusan akademik, tetapi juga menanamkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang berdampak besar: bangun pagi tepat waktu, merapikan tempat tidur, menjaga kerapian diri, menyelesaikan tugas dengan baik, dan menggunakan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat. Rutinitas semacam itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam jangka panjang membentuk fondasi karakter yang kuat.
Yang membuat pendekatannya berbeda adalah unsur keteladanan. Pak Sule tidak cukup puas menyampaikan teori di depan kelas. Ia memperagakan nilai-nilai itu dalam keseharian, sehingga para siswa dapat melihat sendiri bagaimana prinsip produktivitas dijalankan oleh orang yang mengajarkannya. Contoh langsung dari seorang pendamping, berdasarkan pengalaman di lapangan, jauh lebih membekas daripada serangkaian nasihat.
Keterbatasan yang Menjadi Modal Pengabdian
Perjalanan Pak Sule menuju pengabdian ini tidak lepas dari masa lalunya yang penuh keterbatasan. Ia tidak menutupi kenyataan itu dari para siswa. Sebaliknya, segala keterbatasan yang pernah ia rasakan ia jadikan pelajaran berharga bahwa kondisi sulit tidak lantas menjadi alasan untuk berhenti berjuang. Kisah masa kecilnya ia sampaikan dengan tenang, tanpa dramatisasi.
Bagi Pak Sule, keterbatasan justru menjadi modal. Karena pernah merasakan sulitnya hidup, ia memahami apa yang sedang dialami anak-anak yang kini ia dampingi. Pemahaman itu membuat pendekatannya terasa hangat dan membumi. Para siswa tidak melihatnya sebagai figur yang jauh, melainkan seseorang yang benar-benar mengerti pergumulan mereka.
Pengabdian yang Menemukan Maknanya
Kehadiran Pak Sule di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang membawa pesan yang sederhana namun dalam: pengabdian tidak selalu dimulai dari kelapangan rezeki atau kedudukan. Ia bisa tumbuh dari pengalaman pahit yang kemudian diolah menjadi kebaikan bagi orang lain. Dari keterbatasan yang pernah ia jalani, Pak Sule membangun jembatan bagi generasi yang menghadapi tantangan serupa. Pesan ini menjadi relevan di tengah tantangan yang dihadapi banyak keluarga di daerah.
Bagi Pak Sule sendiri, peran sebagai wali asuh adalah kelanjutan alami dari perjalanan hidupnya. Apa yang selama ini ia tulis tentang produktivitas kini berubah menjadi tindakan: mendampingi, mengajarkan, dan memberi contoh. Di ruang-ruang asrama Sekolah Rakyat, gagasan tentang hidup yang bermakna menemukan wujudnya dalam rutinitas harian yang sederhana, jauh dari gemerlap, tetapi dekat dengan harapan.
Comments (0)