Aug 28, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

Krisis Air Bukan Sekadar Musim Kemarau: Empat Akar Masalah yang Terabaikan

Musim kemarau kerap menjadi kambing hitam atas meluasnya kekeringan di sejumlah wilayah. Setiap tahun, narasi yang sama berulang: fenomena iklim datang, curah hujan menurun, dan krisis air pun diangga...

Krisis Air Bukan Sekadar Musim Kemarau: Empat Akar Masalah yang Terabaikan

Musim kemarau kerap menjadi kambing hitam atas meluasnya kekeringan di sejumlah wilayah. Setiap tahun, narasi yang sama berulang: fenomena iklim datang, curah hujan menurun, dan krisis air pun dianggap sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan. Namun, bila ditelusuri lebih dalam, benang merah kekeringan yang terjadi justru mengarah pada kondisi lingkungan dan kelembagaan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar gejala alam. Para peneliti dan praktisi sumber daya air menilai bahwa musim kering hanyalah pemicu, bukan akar persoalan. Ketika hujan memang langka, wilayah dengan ekosistem yang sehat masih memiliki cadangan air yang cukup. Sebaliknya, wilayah yang dasarnya telah rusak akan langsung terpuruk meski anomali iklimnya tergolong ringan. Dengan kata lain, faktor iklim mempercepat krisis, tetapi tidak berdiri sendiri sebagai penyebab utamanya.

Kerusakan Daerah Aliran Sungai Menjadi Faktor Utama

Salah satu temuan yang konsisten muncul dalam berbagai kajian adalah kerusakan daerah aliran sungai (DAS) memperbesar dampak kekeringan secara signifikan. Hutan di bagian hulu yang berfungsi sebagai spons alami telah banyak berubah menjadi kawasan terbangun, lahan pertanian intensif, atau area pertambangan. Ketika tutupan vegetasi menipis, air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah melainkan langsung mengalir ke sungai dan akhirnya bermuara ke laut. Akibatnya, debit sungai di musim kemarau menurun drastis karena tidak ada lagi simpanan air yang dilepas secara bertahap dari dalam tanah. Kondisi ini menjelaskan mengapa sejumlah daerah mengalami kekeringan parah meskipun total curah hujan tahunannya masih tergolong normal. Berbagai pemantauan lingkungan menunjukkan bahwa penurunan tutupan lahan di kawasan hulu berkorelasi erat dengan menurunnya ketersediaan air permukaan pada musim kering.

Perubahan Lahan Mengubah Siklus Air

Perubahan tata guna lahan memperburuk keadaan. Lahan resapan yang sebelumnya menampung air hujan kini tertutup aspal, beton, dan bangunan. Setiap hektare lahan yang kehilangan fungsi resapannya berarti sejumlah volume air hujan yang sebelumnya mengisi akuifer kini berubah menjadi limpasan permukaan. Dalam jangka panjang, hal ini menguras cadangan air tanah yang justru menjadi andalan saat musim kering tiba. Pembangunan yang tidak diimbangi perencanaan tata ruang berbasis daya dukung lingkungan membuat siklus air terganggu dari hulu hingga hilir. Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman juga mengurangi tutupan tanah yang mampu menyimpan air. Kombinasi antara rusaknya DAS dan mengecilnya area resapan membuat wilayah rawan kekeringan semakin meluas dari tahun ke tahun.

Eksploitasi Air Tanah Tanpa Kendali

Ketika air permukaan mulai menipis, masyarakat dan industri beralih ke air tanah. Sayangnya, pengambilan air tanah di banyak tempat berlangsung tanpa kendali yang memadai. Eksploitasi berlebihan menyebabkan permukaan air tanah turun dan membuka jalan bagi intrusi air laut di kawasan pesisir. Begitu akuifer terkontaminasi garam, air tersebut tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian. Fenomena penurunan muka tanah di sejumlah kota besar juga dikaitkan dengan pemompaan air tanah yang terlalu masif. Artinya, kebiasaan menggantungkan diri pada air tanah justru menciptakan masalah baru yang semakin mempersempit ruang gerak saat kemarau berkepanjangan. Alih-alih menjadi solusi, air tanah kini turut menjadi bagian dari persoalan krisis air itu sendiri.

Tata Kelola yang Lemah Memperparah Krisis

Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah lemahnya tata kelola sumber daya air. Koordinasi antarlembaga yang belum solid, penegakan hukum yang longgar, serta perencanaan yang tidak berbasis data membuat upaya mitigasi kekeringan berjalan setengah hati. Tanpa tata kelola yang kuat, perbaikan DAS dan pengendalian eksploitasi air tanah tidak akan pernah berjalan efektif. Beberapa daerah yang berhasil melewati kemarau dengan relatif aman umumnya memiliki instrumen pengelolaan air yang jelas: data debit yang terpelihara, aturan penggunaan air yang ditegakkan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem hulu. Sebaliknya, daerah yang tata kelolanya lemah selalu menjadi yang pertama kali dilaporkan mengalami krisis, terlepas dari intensitas fenomena iklim yang sedang berlangsung.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai kajian dan pemantauan lapangan, krisis air tidak dapat direduksi menjadi sekadar akibat musim kemarau atau fenomena iklim. Kerusakan DAS, perubahan lahan, eksploitasi air tanah, dan kelemahan tata kelola merupakan empat faktor struktural yang menentukan seberapa parah dampak kekeringan dirasakan masyarakat. Narasi yang hanya menyalahkan iklim berisiko mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang sesungguhnya. Upaya pemulihan DAS, penegakan aturan tata ruang, pengendalian pengambilan air tanah, serta penguatan koordinasi kelembagaan adalah langkah-langkah yang dampaknya justru terasa paling nyata saat musim kering melanda. Dengan menangani akar persoalan secara menyeluruh, ketergantungan pada keberuntungan musim dapat dikurangi, dan masyarakat tidak lagi harus menunggu turunnya hujan untuk sekadar mendapatkan air bersih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User