Aug 26, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

factcheck

ISPA di Pontianak Meningkat 10 Persen Seiring Menebalnya Kabut Asap

Pontianak kembali menghadapi tekanan kesehatan lingkungan seiring memburuknya kualitas udara. Berdasarkan catatan pemantauan layanan kesehatan setempat, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut at...

ISPA di Pontianak Meningkat 10 Persen Seiring Menebalnya Kabut Asap

Pontianak kembali menghadapi tekanan kesehatan lingkungan seiring memburuknya kualitas udara. Berdasarkan catatan pemantauan layanan kesehatan setempat, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA meningkat sekitar 10 persen selama periode kabut asap melanda wilayah ini. Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa perubahan kualitas udara langsung berdampak pada kondisi tubuh warga, khususnya mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah.

Data menunjukkan keluhan yang paling banyak dilaporkan mencakup batuk berkepanjangan, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas ringan. Sebagian pasien juga mengeluhkan iritasi pada mata dan kulit. Fenomena ini sejalan dengan karakteristik kabut asap yang membawa partikel halus melayang di udara dan mudah terhirup oleh siapa pun yang beraktivitas di luar ruangan tanpa perlindungan.

Angka Kasus Terus Merangkak

Berdasarkan verifikasi terhadap tren kunjungan di fasilitas kesehatan, peningkatan 10 persen terjadi secara bertahap seiring menebalnya asap. Faktanya adalah, ketika visibilitas menurun drastis, konsentrasi partikel polutan di udara ikut naik dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kondisi ini membuat jumlah pasien dengan keluhan ISPA bertambah dibandingkan periode normal sebelum kabut masuk ke kawasan perkotaan.

Anak usia sekolah dan balita tercatat sebagai salah satu kelompok dengan kunjungan tertinggi. Hal ini tidak lepas dari aktivitas anak yang cenderung berada di luar ruangan serta sistem pernapasan mereka yang masih berkembang. Lansia juga masuk kategori yang patut diwaspadai karena fungsi organ pernapasan yang telah menurun seiring usia.

Kelompok Rentan Paling Terdampak

Partikel halus seperti PM2.5 yang umum ditemukan dalam kabut asap berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus hingga ke kedalaman paru-paru. Paparan jangka pendek sudah cukup memicu iritasi saluran napas, sedangkan paparan berulang berpotensi memperberat kondisi penderita penyakit kronis. Bagi penderita asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis, maupun gangguan jantung, kabut asap dapat memicu kekambuhan yang lebih serius.

Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu berhati-hati. Bukti dari berbagai studi kesehatan lingkungan menunjukkan paparan polusi udara berlebih tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi berpotensi memengaruhi janin. Oleh karena itu, pembatasan aktivitas di luar ruang menjadi langkah penting untuk menjaga keselamatan dua pihak sekaligus.

Imbauan kepada Warga

Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi asap semakin pekat. Aktivitas olahraga terbuka sebaiknya ditunda hingga kualitas udara membaik. Jika terpaksa beraktivitas di luar, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus sangat disarankan, terutama bagi pekerja lapangan seperti petugas kebersihan, pengemudi, dan pedagang yang beraktivitas di area terbuka.

Di dalam rumah, warga disarankan menutup celah ventilasi saat asap masuk pekat, menggunakan pendingin atau pelembap udara bila tersedia, serta rutin membersihkan lantai dari debu. Konsumsi air putih yang cukup, makanan bergizi, dan istirahat memadai turut membantu menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang infeksi pernapasan.

Bagi keluarga dengan anggota yang mulai menunjukkan gejala, pemantauan kondisi perlu dilakukan sejak dini. Batuk ringan bisa saja berkembang menjadi sesak napas apabila dibiarkan tanpa penanganan. Tanda bahaya yang menuntut penanganan medis segera meliputi napas memburu, nyeri dada, demam tinggi yang tidak turun, bibir kebiruan, serta kelelahan ekstrem. Jangan menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat bila gejala memburuk.

Pentingnya Kewaspadaan Bersama

Dampak kabut asap tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Kualitas udara buruk juga mengganggu aktivitas ekonomi, transportasi, dan pembelajaran. Karena itu, penanganannya membutuhkan gerak cepat lintas sektor, mulai dari pemantauan titik api, sosialisasi kesehatan, hingga kesiapan stok obat di puskesmas dan rumah sakit.

Sekolah dan tempat kerja juga dapat berperan dengan menyesuaikan aktivitas, misalnya memindahkan kegiatan olahraga ke dalam ruangan atau menerapkan pembelajaran daring sementara saat udara berada dalam kategori tidak sehat. Langkah sederhana ini mampu menekan paparan bagi ribuan anak dan pekerja sekaligus.

Sampai saat kabut benar-benar surut, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Warga tidak perlu berpanik, tetapi disiplin menjalankan protokol kesehatan, memantau informasi resmi tentang kualitas udara, dan segera mencari pertolongan ketika gejala ISPA muncul. Dengan langkah preventif yang konsisten, dampak kesehatan dari musim asap kali ini diharapkan tidak meluas lebih jauh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User