Karhutla Sumsel: Pembakaran Lahan Sengaja Jadi Dalang Utama

Memasuki puncak musim kemarau, wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) kembali dikepung bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan hasil investigasi terbaru, nyaris seluruh titik api yang mun...

Jul 13, 2026 - 07:35
0 0

Memasuki puncak musim kemarau, wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) kembali dikepung bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan hasil investigasi terbaru, nyaris seluruh titik api yang muncul di provinsi ini dipicu oleh ulah manusia. Otoritas kehutanan menegaskan bahwa kebakaran bukanlah fenomena alam semata, melainkan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang sengaja dilakukan.

Praktik Membakar untuk Membersihkan Lahan

Kementerian Kehutanan mengungkapkan bahwa modus utama karhutla di Sumsel adalah pembakaran terencana yang bertujuan membersihkan lahan secara cepat dan murah. Metode ini kerap dipilih oleh oknum petani atau perusahaan perkebunan untuk menghemat biaya penyiapan lahan sebelum musim tanam tiba. "Dari temuan di lapangan, sebagian besar kebakaran diawali oleh percikan api yang berasal dari aktivitas pembersihan lahan dengan cara dibakar. Ini bukan kebetulan, melainkan kesengajaan yang sudah terpola," jelas seorang pejabat kementerian.

Data sementara menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen titik panas yang terpantau satelit berada di area yang beririsan langsung dengan kegiatan pertanian dan perkebunan. Lahan gambut yang kering kerontang menjadi sasaran empuk karena mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Praktik ilegal ini semakin marak ketika curah hujan menurun drastis dan kelembapan udara berada di level terendah.

Dampak Langsung pada Masyarakat dan Lingkungan

Asap tebal dari karhutla telah menyelimuti sejumlah kabupaten seperti Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Kualitas udara di beberapa titik masuk kategori berbahaya, dengan indeks standar pencemaran udara (ISPU) melampaui ambang batas 300. Ribuan warga terpaksa mengenakan masker, sementara fasilitas kesehatan mulai mencatat peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan asma.

Selain dampak kesehatan, karhutla juga mengancam keanekaragaman hayati di Taman Nasional Sembilang dan kawasan hutan lindung lainnya. Habitat satwa endemik seperti harimau sumatera dan gajah terus menyusut akibat kebakaran yang berulang setiap tahun. Kerugian ekonomi dari terganggunya transportasi darat, laut, dan udara juga tidak bisa diabaikan; bandara dan pelabuhan berulang kali ditutup karena jarak pandang yang minim.

Langkah Penegakan Hukum dan Pencegahan

Pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, telah membentuk satuan tugas terpadu untuk memantau dan menindak pelaku pembakaran. Patroli udara menggunakan helikopter dan drone dilakukan untuk mendeteksi titik api secara dini. "Kami tidak akan ragu menjerat pelaku dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, termasuk ancaman pidana penjara dan denda miliaran rupiah," tegas juru bicara kementerian.

Aparat penegak hukum di Sumsel juga telah menetapkan beberapa tersangka yang diduga kuat sebagai pemilik lahan atau eksekutor pembakaran. Meski demikian, pembuktian di lapangan sering terkendala karena pelaku menggunakan metode pembakaran pada malam hari atau memanfaatkan angin kencang untuk menyulut api tanpa saksi. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dalam melaporkan aktivitas mencurigakan menjadi kunci pencegahan.

Musim Kemarau yang Makin Ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa Sumatera Selatan akan mengalami kemarau yang lebih panjang dari biasanya akibat fenomena El Niño. Kondisi ini memperkuat potensi karhutla karena air tanah dan gambut mengering hingga kedalaman yang tidak wajar. Meski alam menjadi faktor pemicu, para ahli menekankan bahwa tanpa adanya campur tangan manusia, kebakaran tidak akan terjadi dengan skala masif seperti sekarang.

Upaya pembasahan lahan gambut dan program desa makmur peduli api (DMPA) mulai digencarkan, tetapi hasilnya belum maksimal karena masih minimnya kesadaran dan koordinasi antarinstansi. Pemerintah daerah diimbau agar segera memperketat izin pembukaan lahan serta menyediakan alternatif metode land clearing tanpa bakar yang terjangkau bagi petani kecil.

Kesimpulan

Karhutla yang melanda Sumsel pada musim kemarau ini bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana buatan yang berakar pada kesengajaan manusia. Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa pembakaran lahan untuk tujuan pembersihan areal adalah faktor utama yang harus segera dihentikan. Tanpa perubahan perilaku dan penegakan hukum yang tegas, Sumsel akan terus terperangkap dalam siklus asap tahunan yang merugikan semua pihak.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User