Aug 25, 2026
lurusin.

BERITA TERKINI · TANPA BERPUTAR

Politik

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Profil Singkat

Irjen Pol. Suharyono lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 3 Juli 1968. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991. Sebelum menjabat sebagai Kapolda Sumatera Barat, Suharyono menapaki jenjang karier secara sistematis di berbagai satuan elite Polri, termasuk pengalaman panjang di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Rekam jejak menunjukkan spesialisasi kuat di bidang intelijen dan kontraterorisme, bukan di kepolisian masyarakat yang menjadi denyut nadi tugas kepolisian kewilayahan di Sumatera Barat.

Karier dan Riwayat Jabatan

Riwayat penugasan Suharyono mencakup pos-pos strategis. Jabatan menonjol meliputi Kasatgaswil Densus 88 Antiteror Sulawesi (2015), Analis Kebijakan Madya Bidang Penindakan Densus 88 (2017), dan Analis Kebijakan Utama Baharkam Polri (2020). Puncaknya pada September 2024, ia dilantik sebagai Kapolda Sumatera Barat menggantikan Irjen Pol. Gatot Agus Budi Utomo. Mutasi ini menempatkan seorang spesialis antiteror di wilayah dengan tingkat ancaman terorisme rendah namun potensi kerawanan sosial, bencana alam, dan kejahatan konvensional tinggi. Keputusan penempatan tersebut sempat memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat kepolisian soal kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan daerah.

Kinerja dan Program Unggulan

Sejak memimpin Mapolda Sumbar pada akhir 2024, Suharyono mengusung tiga prioritas utama: pengamanan Pilkada Serentak 2024, pemberantasan narkotika, dan penguatan cooling system pasca-Pilkada. Hingga triwulan pertama 2025, data Polda Sumbar menunjukkan peningkatan tekanan terhadap jaringan narkotika: pengungkapan kasus naik 17 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya, dengan barang bukti sabu yang disita mencapai 24 kilogram.

Namun, ketegangan sosial justru mencuat dari isu lain. Pada Januari 2025, aparat Polda Sumbar terlibat kontroversi pembubaran paksa diskusi publik di Universitas Andalas yang membahas dugaan pelanggaran HAM masa lalu. Tindakan ini dikritik luas karena dinilai bertentangan dengan komitmen Suharyono soal pendekatan humanis dan penghormatan kebebasan berpendapat. Hingga artikel ini ditulis, Polda Sumbar belum memberikan penjelasan rinci soal dasar hukum pembubaran tersebut.

"Kami berkomitmen menjaga stabilitas keamanan dengan mengedepankan dialog dan pendekatan persuasif," — pernyataan Suharyono dalam konferensi pers serah terima jabatan, 22 September 2024.

Pernyataan itu kontras dengan praktik di lapangan, menimbulkan kesenjangan antara narasi kepemimpinan dan operasionalisasi kebijakan di tingkat pelaksana.

Di bidang penegakan hukum internal, Suharyono menindaklanjuti rekomendasi Propam dengan memproses enam personelnya terkait dugaan penyalahgunaan wewenang selama pengamanan Pilkada 2024. Langkah ini dipublikasikan sebagai bukti transparansi, meski publik masih menanti hasil akhir sidang disiplin dan etik yang hingga kini belum diumumkan secara gamblang.

Tantangan dan Harapan

Sumatera Barat menghadapi tantangan keamanan yang kompleks: kerentanan bencana alam (banjir lahar dingin, gempa), konflik agraria, potensi radikalisme, dan investasi ilegal. Suharyono mewarisi pekerjaan rumah penanganan tambang emas ilegal di Dharmasraya dan Solok Selatan yang melibatkan jaringan terorganisir. Operasi terpadu yang diinisiasi pada Februari 2025 belum menunjukkan hasil signifikan; aktivitas tambang liar dilaporkan tetap beroperasi pada malam hari menurut pantauan organisasi lingkungan setempat.

Pengalaman intelijen Suharyono seharusnya menjadi modal dalam membongkar backing jaringan ilegal ini, namun minimnya penetapan tersangka dari kalangan aktor intelektual menimbulkan spekulasi soal komitmen atau kapasitas institusi. Laporan investigasi media lokal pada Maret 2025 mengindikasikan adanya indikasi pembiaran dari oknum di tingkat polres, yang belum ditanggapi secara terbuka oleh pimpinan Polda.

Harapan masyarakat Sumbar tertuju pada kemampuan Kapolda menerjemahkan pengalaman elite-nya menjadi kebijakan yang membumi. Indikator keberhasilan sesungguhnya bukan hanya pada statistik pengungkapan kasus, melainkan pada penurunan rasa takut warga, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dan penegakan hukum yang tidak tebang pilih. Publik menanti apakah Suharyono mampu menjadi Kapolda yang melayani, bukan sekadar mengamankan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User