Kakek di Lampung Bacok Tetangga, Ngaku Halusinasi Lihat Korban Kayak Genderuwo
Seorang kakek berusia 75 tahun di Kabupaten Lampung Utara, Lampung, melakukan penyerangan brutal terhadap tetangganya sendiri. Hadi Suyipto, yang akrab disapa Kelik, tiba-tiba membacok korban menggun
Seorang kakek berusia 75 tahun di Kabupaten Lampung Utara, Lampung, melakukan penyerangan brutal terhadap tetangganya sendiri. Hadi Suyipto, yang akrab disapa Kelik, tiba-tiba membacok korban menggunakan senjata tajam hingga mengalami luka parah. Insiden ini mengejutkan warga sekitar, terutama karena pelaku dikenal sebagai sosok pendiam.
Setelah diamankan, Hadi mengaku mengalami halusinasi sesaat sebelum menyerang. Ia melihat wujud tetangganya berubah menjadi Genderuwo—makhluk mitologi Jawa yang digambarkan bertubuh besar, hitam, dan menyeramkan. Keyakinan itu membuatnya langsung bertindak di luar kendali.
"Dari pengakuan pelaku, dia mengaku halusinasi. Dia bilang melihat korban ini seperti Genderuwo atau hantu, jadi dia langsung menyerang korban dengan senjata tajam itu," ujar Kasatreskrim Polres Lampung Utara AKP Ivan Roland Kristofel.
Genderuwo selama ini dikenal dalam cerita rakyat sebagai sosok yang kerap menimbulkan rasa takut mendalam. Bagi sebagian individu yang rentan secara psikis atau mengalami penurunan fungsi kognitif akibat usia lanjut, halusinasi visual seperti ini bukan hal yang mustahil. Polisi pun berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku guna memastikan kebenaran klaim tersebut.
Sementara itu, korban yang menderita luka bacok serius segera dilarikan ke rumah sakit. Pihak keluarga korban mengaku syok karena tidak pernah ada masalah sebelumnya antara Hadi dan tetangganya. "Kami tidak menyangka. Selama ini hubungan mereka biasa saja, tidak pernah bertengkar," kata salah seorang kerabat korban yang enggan disebutkan namanya.
Proses hukum tetap berjalan di Mapolres Lampung Utara. Penyidik masih mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk memperjelas kronologi. AKP Ivan menegaskan bahwa aspek kejiwaan pelaku akan menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan kasus. "Kami tidak bisa serta-merta mengabaikan kemungkinan gangguan mental. Semua opsi penyelidikan terbuka," imbuhnya.
Insiden ini mengingatkan kembali pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental lansia, terutama yang tinggal sendiri tanpa pendampingan. Halusinasi yang tidak terdeteksi bisa berujung pada tindakan berbahaya, tak hanya bagi orang lain tetapi juga bagi diri pelaku sendiri. Laporan ini dihimpun dari sumber-sumber terkait oleh tim Lurusin.com.
Comments (0)