Judul: Bupati Siak Adukan Warisan Utang Rp400 Miliar ke Gibran
SIAK — Suasana ruang pertemuan di Istana Wakil Presiden Jakarta siang itu terasa berat. Duduk di hadapan Wapres Gibran Rakabuming Raka, Bupati Siak Afni Zu
SIAK — Suasana ruang pertemuan di Istana Wakil Presiden Jakarta siang itu terasa berat. Duduk di hadapan Wapres Gibran Rakabuming Raka, Bupati Siak Afni Zulkifli tak kuasa menahan kekhawatirannya. Dengan suara bergetar, ia melontarkan keluhan yang sudah lama mengendap: bahwa Kabupaten Siak, yang dikenal sebagai salah satu daerah kaya minyak di Riau, kini justru terbebani warisan utang mencapai Rp400 miliar.
Utang itu, jelas Afni, bukan berasal dari kebijakannya sendiri. Melainkan peninggalan dari periode kepemimpinan sebelumnya yang harus ia tanggung bersama jajarannya. Ia bahkan menyebut angka itu sebagai “gunung es” yang setiap hari mengancam likuiditas daerah. “Kami tidak bisa diam. Sudah dua tahun berturut-turut APBD tersandera oleh cicilan pokok dan bunga utang,” katanya dengan raut prihatin.
---
Warisan yang Membelenggu
Pertemuan antara Bupati Siak dan Wapres Gibran berlangsung dalam rangka konsultasi pengelolaan fiskal daerah. Di hadapan Gibran dan jajaran Kementerian Keuangan yang turut hadir, Afni memaparkan rincian utang daerah yang mencekik. Sebagian besar merupakan pinjaman dari perbankan dan lembaga keuangan non-bank yang digunakan untuk proyek infrastruktur dan operasionalisasi BUMD pada periode 2017–2022.“Kami tidak anti-pembangunan. Tapi saat proyek-proyek itu tidak menghasilkan pendapatan sesuai target, beban utang justru menjadi pemadam semangat birokrasi. Tahun ini saja, belanja pegawai dan kewajiban utang sudah menggerogoti 68 persen APBD,” ujar Afni kepada wartawan usai pertemuan.Ia menambahkan bahwa dari total utang Rp400 miliar, sekitar Rp250 miliar di antaranya merupakan pinjaman jangka pendek yang jatuh tempo dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Sementara sisanya adalah pinjaman jangka panjang dengan suku bunga mengambang yang terus membengkak. “Kalau tidak ada intervensi kebijakan nasional, kami khawatir masuk zona bangkrut fiskal,” keluhnya. ---
Respon Gibran dan Solusi yang Ditawarkan
Wapres Gibran mendengarkan dengan saksama. Putra sulung Presiden Joko Widodo itu tak langsung memberikan janji manis, namun menyatakan akan mendorong evaluasi kebijakan restrukturisasi utang daerah. Dalam kesempatan itu, Gibran mengingatkan pentingnya transparansi pengelolaan keuangan dan optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD) sebagai kunci jangka panjang.“Saya paham beban Pak Bupati. Pemerintah pusat tidak akan membiarkan daerah jatuh sendiri. Tapi harus ada komitmen bersama untuk memastikan utang yang ada benar-benar produktif dan tidak diulangi di masa mendatang,” ujar Gibran dalam briefing singkat.Salah satu solusi yang mengemuka adalah program penjadwalan ulang utang melalui mekanisme konsolidasi fiskal dengan Kementerian Keuangan. Selain itu, Gibran juga mendorong Bupati Siak untuk memperketat pengawasan BUMD, karena beberapa utang besar justru berasal dari badan usaha milik daerah yang kolaps. “Kita akan audit bersama. Jika ada indikasi penyimpangan, harus ada tindakan hukum,” tegas Gibran. ---
Comments (0)