Jakarta — Harga komoditas pangan strategis, khususnya daging ayam dan telur, mengalami

Lonjakan Harga di Lapangan Berdasarkan data dari panel harga badan pangan nasional yang dikompilasi Lurusin.com, harga rata-rata daging ayam broiler di tin

Jul 20, 2026 - 06:51
0 0
Jakarta — Harga komoditas pangan strategis, khususnya daging ayam dan telur, mengalami

Lonjakan Harga di Lapangan

Berdasarkan data dari panel harga badan pangan nasional yang dikompilasi Lurusin.com, harga rata-rata daging ayam broiler di tingkat konsumen kini menembus angka Rp42.000 per kilogram. Angka ini melonjak hampir 20 persen dari posisi sebulan lalu yang masih berkisar di Rp35.000 per kilogram. Kenaikan lebih tajam justru terjadi pada telur ayam ras. Harga per kilogram yang sebelumnya dijual Rp27.000, kini melambung ke level Rp34.000, atau naik sekitar 25 persen. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya stok telur murah di sejumlah ritel modern yang biasanya menjadi andalan warga berpenghasilan rendah.

Penyebab Multifaktor

Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta, Andi Sulistyo, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor sekaligus.

"Kami melihat ada tiga pemicu utama. Pertama, kenaikan harga pakan ternak berbasis jagung dan bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor. Kedua, efek cuaca ekstrem yang mengganggu logistik dari sentra produksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketiga, peningkatan permintaan musiman menjelang tahun ajaran baru yang memicu panic buying di tingkat distributor,"

ujarnya saat dihubungi, Jumat (18/7/2026).

Senada dengan itu, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Barat, Toto Subagyo, menyoroti beban peternak mandiri yang semakin terhimpit. Menurutnya, disparitas harga antara biaya produksi di kandang dan harga jual di pasar seringkali melukai peternak kecil.

"Peternak rakyat sekarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar membeli pakan. Harga DOC (Day Old Chicken) juga naik. Ironisnya, saat panen tiba, harga jual di tingkat kandang tidak selalu sebanding dengan harga di konsumen. Ada rantai distribusi panjang yang menjadi biang selisih harga,"

tegas Toto.

Masyarakat "Putar Otak" Cari Alternatif

Di sisi hilir, kenaikan harga ini langsung memukul daya beli masyarakat. Di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, sejumlah pembeli tampak berpikir keras menyiasati menu harian. Minarti, seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak, mengaku untuk sementara mengganti protein hewani dengan tahu dan tempe.

"Biasanya sehari lauk telur atau ayam, sekarang terpaksa saya kurangi. Paling telur seminggu dua kali, ayam seminggu sekali saja. Sisanya ya tahu tempe yang diolah macam-macam. Kasihan anak-anak, tapi bagaimana lagi, uang belanja tidak bisa ditarik melar,"

keluhnya.

Tren serupa juga diakui pedagang eceran. Jajang, pemilik kios daging di Pasar Kebayoran Lama, mengaku omsetnya turun drastis. Pelanggan setia banyak yang beralih ke ikan asin atau protein nabati. Untuk menjaga agar barang tidak mubazir, ia terpaksa memangkas stok hingga 30 persen dari biasanya.

Intervensi dan Langkah Darurat Pemerintah

Merespons gejolak ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Perdagangan mengklaim telah menggelar operasi pangan murah di titik-titik rawan. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut bersifat temporer. Pengamat ekonomi pertanian dari Universitas Padjadjaran, Dr. Irma Rohmawati, menekankan perlunya perbaikan struktural.

"Operasi pangan murah ibarat obat pereda nyeri, bukan terapi penyakitnya. Akar masalah ada pada ketergantungan impor bahan baku pakan dan inefisiensi tata niaga unggas. Pemerintah perlu serius mendorong korporasi petani dan memotong rantai pasok agar selisih harga tidak terlalu lebar,"

paparnya.

Proyeksi Jangka Pendek

Berdasarkan siklus produksi, sejumlah pelaku usaha memperkirakan pasokan akan berangsur normal dalam tiga hingga empat pekan mendatang, seiring masuknya bibit baru ke kandang budidaya. Namun, semua kembali pada stabilitas harga pakan dan kelancaran distribusi. Jika gangguan logistik terus berlanjut, bukan tidak mungkin masyarakat harus bersiap menghadapi harga protein hewani yang lebih mahal dalam waktu dekat.

Reporter: Tim Ekonomi Lurusin.com

Bagi Anda yang terdampak dan mencari informasi praktis, berikut beberapa pertanyaan umum yang kerap muncul di tengah situasi lonjakan harga ini.

[SOCIAL_TWEET]: Harga ayam dan telur melonjak hingga 25%, warga putar otak cari lauk alternatif. Intip penyebab dan solusinya. 👇💬[SOCIAL_TG]: 📈 #FoodUpdate Lurusin.com: Harga ayam dan telur kompak naik signifikan. Penyebab multifaktor mulai dari pakan, cuaca, hingga rantai distribusi. Pantau terus informasi ekonomi hanya di saluran ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User