Jakarta — Yohanes Saut Putuskan Mundur dari Pelatnas PBSI
Langkah senyap itu terjadi pada awal musim latihan 2025. Yohanes Saut, pebulu tangkis tunggal putra kelahiran 2002, menyampaikan surat pengunduran diri dar
Langkah senyap itu terjadi pada awal musim latihan 2025. Yohanes Saut, pebulu tangkis tunggal putra kelahiran 2002, menyampaikan surat pengunduran diri dari Pelatihan Nasional (Pelatnas) PBSI. Saut—sebagaimana ia akrab disapa—adalah wajah yang pernah disebut-sebut sebagai penerus jejak Anthony Sinisuka Ginting, senior satu klub dan memiliki tipologi permainan agresif yang serupa. Keputusannya memilih keluar dari orbit pelatnas mengejutkan kalangan internal, mengingat usianya yang masih mentah untuk ukuran atlet elite. Tanpa konferensi pers, tanpa drama, Saut hanya menyerahkan selembar kertas dan meninggalkan kompleks Cipayung yang telah menjadi rumahnya selama dua tahun terakhir.
Profil dan Jejak Karier
Yohanes Saut merupakan produk binaan klub PB. Mutiara Cardinal Bandung, klub yang juga melahirkan juara All England, Anthony Ginting. Sejak junior, Saut telah menunjukkan insting menyerang yang tajam dan kecepatan kaki yang mumpuni. Ia menjuarai Guatemala International Series 2023 dan sempat menembus peringkat 90 dunia pada awal 2024. Di pelatnas, ia menempati sektor tunggal putra di bawah arahan pelatih Hendry Saputra, berlatih bersama para senior seperti Ginting dan Jonatan Christie. Namun, jam terbang di turnamen internasional masih terbatas; sepanjang 2024 ia hanya dikirim ke empat turnamen BWF World Tour level bawah, dengan hasil tertinggi berupa perempat final di Vietnam International Challenge.
Alasan di Balik Keputusan
Berdasarkan dokumen pengunduran diri yang diperoleh redaksi, Saut menyatakan ingin fokus pada studi sekaligus mempertimbangkan tawaran bermain di liga profesional Eropa. Sebuah sumber internal—yang bertutur secara anonim—memberikan gambaran lebih tajam:
“Dia merasa jalur pelatnas terlalu sempit. Ada lima tunggal putra senior di atasnya yang secara peringkat dan pengalaman jauh lebih mapan. Kesempatan turun di level Super 100 hampir tidak ada, karena PBSI harus memaksimalkan poin Olimpiade untuk atlet prioritas. Saut tidak ingin menunggu sampai terlambat. Liga Perancis dan Jerman menawarkan kontrak latih-tanding yang jelas.”
Saut sendiri tidak menampik adanya kendala birokrasi dan sistem rotasi turnamen yang ketat. “Saya mencintai pelatnas, tapi saya harus realistis dengan waktu. Di Eropa saya bisa bermain setiap pekan, mengasah mental kompetitif yang tidak bisa saya dapatkan hanya dari sparring partner,” tulisnya dalam sebuah percakapan pribadi yang dikonfirmasi rekan dekatnya.
Ini bukan kali pertama seorang atlet muda memilih mundur dari pelatnas karena minimnya exposure turnamen. Pada 2022, Christian Adinata hampir melakukan hal serupa sebelum diberikan jaminan partisipasi di tiga turnamen beruntun. Namun, tidak semua dapat jaminan serupa, terutama ketika prioritas PBSI terfokus pada kualifikasi Olimpiade. Saut, yang peringkatnya masih di luar 100 besar, terjebak di area abu-abu tersebut.
Dampak pada Regenerasi Tunggal Putra
Kepergian Saut menyisakan lubang pada proyeksi regenerasi. PBSI memiliki 12 pebulu tangkis tunggal putra di pelatnas utama, namun hanya empat yang secara reguler tampil di level World Tour. Selebihnya berstatus pemain sparring atau cadangan. Mundurnya Saut menambah daftar atlet potensial yang memilih jalur mandiri—sebelumnya ada Yonathan Ramlie dan Alwi Farhan yang juga memilih bersaing dari luar pelatnas. Data BWF menunjukkan, dari tujuh wakil Indonesia di jajaran 50 besar tunggal putra per Maret 2025, hanya dua yang berasal dari pelatnas utama. Sisanya adalah pemain profesional yang didanai swasta.
Pihak PBSI, melalui Kabid Binpres Bambang Roedyanto, menyatakan enggan memaksa atlet yang sudah bulat mundur. “Kami hormati pilihan Saut. Pintu pelatnas selalu terbuka kalau suatu saat mau kembali,” ujar Bambang kepada awak media pekan lalu. Namun, pengamat bulu tangkis, Daryadi, menilai langkah Saut adalah sinyal bahwa sistem pembinaan perlu adaptasi. “Kehilangan pemain 23 tahun dengan potensi 10 tahun ke depan harus menjadi evaluasi serius,” katanya.
Di sisi lain, keputusan Saut bisa dibaca sebagai strategi karier yang matang. Dengan bergabung di klub Eropa, ia akan menghadapi lawan-lawan beragam setiap pekan, mempercepat pematangan mental dan teknik. Jika sukses, pintu kembali ke turnamen level atas—melalui jalur profesional—bisa saja terbuka, meski tanpa status pelatnas.
Kini, Yohanes Saut bersiap meninggalkan tanah air pada April 2025. Tak ada seremoni perpisahan. Hanya satu koper besar, raket favoritnya, dan tekad untuk membuktikan bahwa jalur alternatif bisa melahirkan juara. “Saya tetap bangga pernah berseragam Merah-Putih di pelatnas. Ini bukan akhir, hanya awal dari rute berbeda,” begitu pesan terakhir yang disampaikannya kepada para junior di asrama.
Comments (0)