JAKARTA, LURUSIN.COM — Forum Ekonomi Digital Tiongkok-Indonesia 2026 resmi digelar di Jakarta pada 11 Juni, menjadi penanda babak baru dalam kolaborasi teknologi kedua negara yang kini memasuki era kecerdasan buatan. Diselenggarakan bersama oleh Lembaga Pengembangan Tiongkok (CDI) Shenzhen dan Asosiasi Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-Tiongkok, forum ini hadir di tengah momentum strategis kawasan Asia-Pasifik.
Momentum APEC dan DEFA Jadi Pijakan Strategis Penyelenggaraan forum ini tidak lepas dari dua peristiwa penting yang membentuk lanskap ekonomi digital regio
Momentum APEC dan DEFA Jadi Pijakan Strategis
Penyelenggaraan forum ini tidak lepas dari dua peristiwa penting yang membentuk lanskap ekonomi digital regional. Pertama, Shenzhen akan menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC pada November mendatang, dengan fokus utama pada keterbukaan, inovasi, serta transformasi hijau, digital, dan cerdas. Kedua, negosiasi Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN (DEFA) yang rampung pada Mei lalu diharapkan akan ditandatangani sebelum akhir tahun ini. DEFA akan menjadi perjanjian ekonomi digital regional pertama di dunia yang dipelopori oleh negara berkembang, menegaskan peran sentral ASEAN dalam arsitektur digital global.
Dengan tema "Dari Visi ke Tindakan", forum ini mempertemukan para pemimpin pemerintahan, pelaku bisnis, akademisi, dan lembaga pemikir dari seluruh kawasan untuk merumuskan arah kerja sama digital Asia-Pasifik yang lebih konkret pada tahap selanjutnya.
Kecerdasan Buatan Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama digital Tiongkok-ASEAN menunjukkan pendalaman yang signifikan. Perusahaan teknologi Tiongkok seperti Tencent, Alibaba, dan Huawei telah memperluas investasi komputasi awan di Asia Tenggara, membangun infrastruktur digital yang luas dan kokoh. Kini, kecerdasan buatan muncul sebagai titik fokus baru dalam kolaborasi bilateral tersebut.
"Jalan menuju inklusivitas kecerdasan buatan terletak pada sinergi sumber terbuka, penerapan ringkas, dan aplikasi vertikal."
Jeffrey Towson, Mitra Pendiri TechMoat Consulting, mengidentifikasi dua peluang bersejarah dalam kerja sama Tiongkok-Indonesia. Pertama, migrasi Gojek—platform digital terbesar Indonesia di bawah naungan Grup GoTo—ke Tencent Cloud mencatat rekor sebagai proyek migrasi awan terbesar di Asia Tenggara. Langkah ini menegaskan posisi perusahaan Tiongkok sebagai mitra penting dalam transformasi digital kawasan. Kedua, sejak peluncuran DeepSeek pada Januari tahun lalu, gelombang model besar Tiongkok yang bersumber terbuka dan hemat biaya telah mempercepat inklusivitas teknologi di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Fanny Liao, Direktur Pusat Komunikasi Strategis Tencent, menekankan pentingnya sinergi tiga elemen kunci dalam mendorong inklusivitas kecerdasan buatan. "Jalan menuju inklusivitas kecerdasan buatan terletak pada sinergi sumber terbuka, penerapan ringkas, dan aplikasi vertikal," ujarnya di sela forum. Ia mengungkapkan bahwa Tencent Cloud kini telah mencakup 23 wilayah fisik dan 66 zona ketersediaan di seluruh dunia, menunjukkan skala infrastruktur yang siap menopang kebutuhan komputasi di tingkat global.
Liao menambahkan, sejak rilis sumber terbuka Tencent Hy3-preview, volume panggilan token mingguan telah melampaui skala model generasi sebelumnya hingga 10 kali lipat. Angka ini mencerminkan adopsi yang masif dan kepercayaan pasar terhadap solusi kecerdasan buatan yang dikembangkan perusahaan Tiongkok, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi negara-negara ASEAN untuk memanfaatkan teknologi mutakhir dengan biaya yang lebih terjangkau.
Kolaborasi yang berlandaskan infrastruktur komputasi awan dan dipercepat oleh tokenisasi global ini menandai pergeseran fundamental dalam hubungan digital Tiongkok-ASEAN—dari sekadar konektivitas menuju ekosistem kecerdasan buatan yang terintegrasi dan inklusif. Sebagaimana dirumuskan dalam forum, era baru ini menuntut aksi nyata yang mampu menerjemahkan visi bersama menjadi pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan di seluruh kawasan.
Laporan redaksi Lurusin.com
Comments (0)