Jakarta — Konten Perjalanan Kuliner Adhe Tora Tumbuh 300% dalam Setahun

Analisis data yang dihimpun tim Lurusin menunjukkan lonjakan signifikan pada metrik keterlibatan konten kreator Adhe Tora. Basis pengikutnya bertambah dari

Jul 09, 2026 - 13:56
0 0

Analisis data yang dihimpun tim Lurusin menunjukkan lonjakan signifikan pada metrik keterlibatan konten kreator Adhe Tora. Basis pengikutnya bertambah dari 500 ribu menjadi lebih dari 2,1 juta akun dalam 12 bulan terakhir, dipicu oleh format konten yang menyatukan eksplorasi destinasi wisata dengan perburuan kuliner khas daerah. Pendekatan ini mengisi celah di lanskap konten digital Indonesia yang selama ini memisahkan kedua genre tersebut.

Kronologi Kemunculan Format Hybrid

  1. Januari 2024: Adhe Tora mengunggah video pertama dari rangkaian “Jalan-Jalan Makan”. Durasi 8 menit 12 detik, menampilkan perjalanan darat dari Yogyakarta ke Dieng lengkap dengan pemberhentian di lima warung makan tradisional. Video meraup 120 ribu penayangan dalam 24 jam.
  2. Maret 2024: Seri “Rute Rempah Nusantara” dimulai. Episode pertama mencakup rute Banda Aceh–Medan, mendokumentasikan 23 jenis masakan berbasis rempah. Episode ini menjadi yang pertama menembus 1 juta penayangan, sekaligus memicu peningkatan minat wisatawan domestik ke Aceh sebesar 18% (data Kemenparekraf, April 2024).
  3. Juni 2024: Platform analitik Social Blade mencatat Adhe Tora masuk 10 besar kreator food-travel dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
  4. Oktober 2024: Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan menghasilkan seri “Jalur Makassar-Toraja”. Enam episode mendorong kenaikan kunjungan wisatawan nusantara ke Tana Toraja sebesar 26% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya (rilis resmi Dispar Sulsel, 5 November 2024).

Anatomi Konten: Data dan Format

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Lurusin terhadap 140 unggahan Adhe Tora sepanjang 2024, teridentifikasi pola konten yang konsisten:

  1. Struktur naratif tiga babak: Perjalanan menuju lokasi (30% durasi), proses pemilihan dan pencicipan makanan (50% durasi), rekomendasi serta rating objektif (20% durasi).
  2. Penggunaan data geospasial: Setiap video menyertakan peta digital yang menandai titik-titik kuliner, lengkap dengan informasi harga dan jam operasional. Rata-rata video memuat 7,2 lokasi per episode.
  3. Keterlibatan audiens: Rasio komentar tayang mencapai 4,8%, di atas rata-rata industri (2,1%). Sebanyak 72% komentar memuat pertanyaan spesifik tentang lokasi atau menu, mengindikasikan intensi perjalanan yang tinggi.

Dampak Ekonomi dan Industri

Pendekatan Adhe Tora menimbulkan efek berganda (multiplier effect) yang terukur:

  1. Usaha Mikro Kuliner: Warung makan dan rumah makan tradisional yang ditampilkan dalam konten mengalami peningkatan omzet rata-rata 45% dalam dua pekan pasca-tayang (survei Lurusin terhadap 30 lokasi, November 2024).
  2. Industri Pariwisata Daerah: Dinas Pariwisata lima provinsi melaporkan lonjakan pencarian akomodasi di sekitar rute yang dipromosikan Adhe Tora, meningkat rata-rata 33% bulan-ke-bulan.
  3. Pergeseran Tren Konten: Sejak Mei 2024, sedikitnya 42 kreator baru di Indonesia mengadopsi format serupa, menandai terbentuknya subgenre food-travel yang sebelumnya tidak eksis di pasar domestik.

Lurusin akan terus memantau perkembangan konten Adhe Tora dan efeknya terhadap ekosistem pariwisata-kuliner nasional. Laporan lengkap dengan dataset tersedia di kanal riset Lurusin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User