Jakarta - Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke kawasan Asia mengalami lonjakan signifikan setelah jalur pelayaran strategi

Peningkatan Signifikan Ekspor Minyak Mentah Berdasarkan data yang dirilis perusahaan intelijen perdagangan Kpler, sejak 17 Juni 2026, Arab Saudi telah mengirimkan sekitar 34 juta barel minyak mela

Jul 08, 2026 - 06:02
0 0
Jakarta - Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke kawasan Asia mengalami lonjakan signifikan setelah jalur pelayaran strategi

Peningkatan Signifikan Ekspor Minyak Mentah

Berdasarkan data yang dirilis perusahaan intelijen perdagangan Kpler, sejak 17 Juni 2026, Arab Saudi telah mengirimkan sekitar 34 juta barel minyak melalui Selat Hormuz. Angka ini menunjukkan pemulihan yang sangat kuat, terutama dalam dua minggu terakhir. Sebelumnya, dalam periode yang sama, volume ekspor yang melintasi selat tersebut hanya sekitar 15 juta barel. Artinya, terjadi kenaikan lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu singkat.

Selat Hormuz merupakan salah satu choke point paling kritis dalam perdagangan energi global, menangani hampir seperlima dari total pasokan minyak dunia. Ketika ketegangan militer meningkat, rute ini sempat diblokir atau berisiko tinggi, memaksa Arab Saudi dan negara-negara lain untuk mengalihkan pengiriman mereka melalui rute alternatif yang lebih panjang dan mahal. Kini, dengan adanya kepastian keamanan pasca perjanjian, Saudi dapat kembali memanfaatkan rute langsung menuju pasar utama seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

"Arus minyak mentah Saudi di dalam Teluk kembali pulih setelah berbulan-bulan pengalihan rute akibat konflik," ujar Analis Kpler, Jashan Prema, dalam laporan yang diterima media kami, Jumat (3/7/2026).

"Pemulihan ini menunjukkan betapa pentingnya stabilitas di Selat Hormuz terhadap rantai pasok energi global."

Data dari Lurusin.com juga mencatat bahwa peningkatan ekspor ini berdampak langsung pada persaingan di pasar Asia. Harga minyak jenis Arab Light untuk pengiriman Agustus dilaporkan mengalami sedikit penyesuaian seiring membanjirnya pasokan. Para pembeli di Asia menyambut baik kembalinya minyak Saudi dalam volume besar, yang sebelumnya sempat menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga spot.

Beberapa pengamat energi memperkirakan bahwa jika kondisi keamanan tetap stabil, Arab Saudi berpotensi menggenjot ekspornya hingga mendekati level sebelum konflik, yaitu sekitar 40-45 juta barel per bulan melintasi selat tersebut. Hal ini dapat menyeimbangkan pasar global dan menekan harga minyak mentah yang masih tinggi pasca krisis. Pemerintah Saudi sendiri telah mengindikasikan komitmennya untuk menjaga pasokan ke mitra-mitra strategis di Asia sebagai bagian dari kebijakan energi jangka panjang mereka.

Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, tidak hanya Arab Saudi yang diuntungkan, namun seluruh negara Teluk yang mengandalkan jalur ini. Arus pelayaran komersial secara umum dilaporkan meningkat dan premi asuransi kapal perlahan turun. Situasi ini memberikan harapan bagi pemulihan penuh perdagangan energi di kawasan, meski para pelaku pasar tetap memantau dinamika politik antara AS dan Iran yang masih rentan terhadap perubahan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sinta-pradana

Peneliti Data. Peneliti dan analis data untuk verifikasi.

Comments (0)

User