Jahja Setiaatmadja Bagikan Resep Integritas BCA: Walk the Talk
Di tengah sorotan terhadap praktik tata kelola sektor keuangan, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan bahwa
Di tengah sorotan terhadap praktik tata kelola sektor keuangan, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengungkapkan bahwa fondasi integritas di perusahaannya tidak dibangun lewat instruksi administratif semata. Tokoh senior perbankan nasional itu menegaskan, budaya antikorupsi dan perilaku etis justru tumbuh dari teladan langsung para pemimpin serta penghargaan terhadap martabat manusia.
Integritas Dimulai dari Ujung Tombak Kepemimpinan
Dalam beberapa kesempatan diskusi internal maupun forum eksternal, Jahja kerap menyampaikan pandangannya yang khas mengenai integritas. Ia menyebut bahwa surat edaran, pelatihan dua hari, atau bahkan sistem pengawasan berlapis tidak akan bermakna jika para pemimpin puncak tidak memberikan contoh nyata. Walk the talk, atau menyelaraskan ucapan dengan perbuatan, menjadi pilar utama yang ia tekankan.
“Integritas tidak bisa diajarkan hanya dengan surat edaran atau pelatihan singkat. Harus dicontohkan oleh para pimpinan. Kami menyebutnya walk the talk—apa yang kami ucapkan harus selaras dengan yang kami lakukan. Selain itu, kami juga harus ngewongke orang, artinya memperlakukan karyawan, nasabah, dan semua pemangku kepentingan sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek bisnis,” ujar Jahja dalam suatu kesempatan.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Di bawah pengaruh gaya kepemimpinan Jahja, BCA dikenal memiliki tingkat pelanggaran etik yang rendah dan secara konsisten menempati peringkat teratas dalam survei tata kelola perusahaan. Menurut pengamat, kuncinya terletak pada budaya organisasi yang mengakar kuat dan dikawal langsung oleh jajaran direksi dan komisaris.
Memaknai Ngewongke Orang: Filosofi Jawa di Ruang Rapat
Ungkapan “ngewongke orang” berasal dari bahasa Jawa yang secara harfiah berarti memanusiakan manusia. Dalam konteks perusahaan sebesar BCA, konsep ini diterjemahkan menjadi praktik penghargaan terhadap karyawan tanpa memandang level jabatan, serta pelayanan prima kepada nasabah tanpa membedakan nilai transaksi. Jahja menilai bahwa integritas akan rapuh jika relasi antarmanusia di dalam organisasi hanya bersifat transaksional.
Sejumlah mantan kolega dan mitra bisnis Jahja mengisahkan bagaimana ia kerap turun langsung mengecek kondisi di lapangan, mulai dari kantor cabang di kota kecil hingga pusat operasional teknologi. Ia tidak segan berbincang dengan staf garda depan, mendengarkan keluhan mereka, dan memastikan bahwa nilai-nilai etis dipahami dengan cara yang manusiawi—bukan dengan ancaman sanksi semata. Pendekatan inilah yang membedakan BCA dari banyak korporasi lain, di mana aturan sering kali hanya menjadi hiasan dinding.
Budaya Anti-Korupsi yang Tumbuh dari Dalam
Dalam wawancara yang dikutip oleh beberapa media, Jahja juga menyebut bahwa ia tidak terlalu percaya pada sistem pengawasan yang represif. Menurutnya, pengawasan yang berlebihan justru menunjukkan ketidakpercayaan kepada karyawan, dan itu bertentangan dengan semangat “ngewongke orang”. Sebagai gantinya, BCA menerapkan mekanisme kontrol yang partisipatif, di mana setiap pegawai diberi ruang untuk melaporkan ketidakberesan tanpa rasa takut.
Prinsip ini terbukti efektif. Di tengah berbagai kasus fraud yang melanda industri perbankan, BCA berhasil menjaga reputasi sebagai bank yang bersih. Laporan tahunan perusahaan pun mencatat bahwa whistleblowing system berjalan aktif, tetapi jumlah pelanggaran berat tetap terkendali. Ini menunjukkan bahwa budaya integritas yang ditopang oleh teladan puncak dan penghargaan terhadap manusia lebih ampuh ketimbang pengawasan robotik.
Refleksi bagi Industri Perbankan Nasional
Pandangan Jahja Setiaatmadja menjadi relevan di saat dunia usaha, khususnya perbankan, dihadapkan pada ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi terhadap transparansi dan akuntabilitas. Krisis kepercayaan akibat kasus korupsi di beberapa bank lain seharusnya menjadi pelajaran bahwa integritas bukan sekadar dokumen kode etik yang dijilid rapi. Ia adalah praktik hidup sehari-hari.
Bagi Jahja, resepnya sederhana: jangan lelah memberikan contoh, perlakukan setiap orang dengan hormat, dan jangan pernah menganggap pengawasan sebagai satu-satunya jurus. “Kalau Anda hanya diawasi, Anda akan mencari cara untuk menghindari pengawasan. Tetapi kalau Anda dihormati dan dipercaya, Anda akan menjaga kepercayaan itu,” tuturnya menutup diskusi.
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Komisaris BCA Jahja Setiaatmadja menekankan integritas tak bisa diajarkan hanya lewat memo. Kuncinya: walk the talk dan ngewongke orang—memperlakukan semua dengan hormat. #BCA #Integritas #KepemimpinanBerintegritas[SOCIAL_TG]: 📌 Jahja Setiaatmadja BCA: Integritas bukan cuma kata-kata. “Walk the Talk” dan “Ngewongke Orang” jadi kunci budaya antikorupsi di bank swasta terbesar ini. Yuk, simak filosofinya!
Comments (0)