Industri Otomotif RI Bisa Bikin 2,5 Juta Mobil/Tahun, tapi Jualannya Cuma 800 Ribuan
Kapasitas produksi mobil nasional Indonesia sejatinya sangat besar, namun pasar domestik belum mampu menyerap seluruh potensi tersebut. Data terkini menunjukkan bahwa pabrikan otomotif di Tanah Air m
Kapasitas produksi mobil nasional Indonesia sejatinya sangat besar, namun pasar domestik belum mampu menyerap seluruh potensi tersebut. Data terkini menunjukkan bahwa pabrikan otomotif di Tanah Air memiliki kemampuan merakit hingga 2,5 juta unit kendaraan roda empat setiap tahunnya. Sayangnya, realisasi penjualan pada periode yang sama hanya menyentuh kisaran 780 ribu hingga 800 ribu unit, menciptakan kesenjangan yang lebar antara kemampuan produksi dan daya beli masyarakat.
Kondisi ini diungkapkan oleh Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto. Ia menuturkan bahwa Indonesia sebenarnya pernah menorehkan angka penjualan yang lebih tinggi di masa lalu, namun tren tersebut belum kembali terulang.
Indonesia sendiri kan sudah pernah angkanya di 1 juta (unit penjualan) secara pasar atau market. Nah sekarang kan baru sekitar 780 (ribu) sampai dengan 800 (ribu),
kata Frans dalam sebuah kesempatan temu media. Pernyataan itu menggarisbawahi tantangan yang tengah dihadapi industri kendaraan bermotor, di mana pabrikan terus memacu produksi namun harus bersiasat dengan pasar dalam negeri yang stagnan. Dengan kapasitas terpasang yang mencapai 2,5 juta unit, tingkat pemanfaatan pabrik hanya berkisar 32 persen apabila hanya mengandalkan penjualan lokal. Ini tentu memunculkan pertanyaan tentang strategi industri untuk mengisi selisih hingga 1,7 juta unit per tahun, apakah akan diarahkan ke ekspor atau justru mendorong kembali konsumsi domestik.
Pelaku industri menilai rendahnya serapan pasar disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari pemulihan ekonomi yang belum merata, suku bunga kredit yang masih tinggi, hingga perubahan preferensi konsumen pasca pandemi. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong investasi sektor otomotif dengan harapan Indonesia menjadi basis produksi kendaraan, baik konvensional maupun elektrifikasi, untuk pasar Asia Tenggara dan global. Hyundai sendiri menjadi salah satu pabrikan yang agresif mengembangkan kapasitas produksi di Cikarang, Jawa Barat, sekaligus memasarkan mobil listrik pertamanya yang dirakit secara lokal.
Meski demikian, gap antara produksi dan penjualan bukan hanya persoalan angka. Ini menyangkut efisiensi operasional, penyerapan tenaga kerja, dan daya saing manufaktur nasional. Apabila industri hanya berjalan pada sepertiga kapasitas terpasangnya, biaya per unit berpotensi lebih tinggi sehingga mengurangi kemampuan bersaing di pasar global. Sejumlah pengamat menyarankan perlunya insentif fiskal yang tepat sasaran serta percepatan transisi ke kendaraan ramah lingkungan agar permintaan kembali terangkat.
Laporan dari Lurusin.com mencatat bahwa para pemangku kepentingan—dari agen pemegang merek, jaringan diler, hingga asosiasi industri—kini tengah mencari formula ampuh untuk menembus kembali angka penjualan satu juta unit. Sebuah capaian yang bukan sekadar simbolis, melainkan penanda kepercayaan konsumen dan kematangan pasar otomotif nasional.
Comments (0)